Hitam. Gelap. Sakit, sangat pedih rasanya. Seperti ingin mati. Mungkin ini adalah takdir harus saya hadapi, konsekuensi yang harus dijalani. Karma, ya, mungkin ini adalah karma atas perbuatan perbuatan yang saya lakukan. Jika dipikir pikir lagi, sudah 43, tidak, sudah 45, iya betul, 45. Mungkin Anda akan menganggap saya gila, namun tidak, saya tidak gila, ohh sangat tidak gila. Saya hanyalah seorang pria yang memiliki hobi sama seperti kalian, namun hanya berbeda dari hobi pada umumnya. Mungkin Anda kebingungan akan apa yang sedang terjadi. Jangan tanyakan saya, karena saya pun tidak tahu apa yang sedang saya alami. Namun saya tahu, apa yang mengakibatkan saya mengalami apa yang saya alami sekarang.
Semua berawal dari 15 tahun yang lalu, saat saya masih seorang murid SMA kelas 2, ya betul, murid SMA. SMA Du Wang namanya. Saat itu, saya sedang membaca sebuah buku di perpustakaan sekolah yang terletak di lantai 5. Tell Tale Hearts, itulah judulnya. Saat langit mulai memerah, datanglah seorang pria berseragam putih abu bersama kawannya. Tingginya 195 cm kalau tidak salah. "Kutu buku", katanya. Ku bingung, mengapa mereka mengatakan hal tersebut pada ku. "Berani beraninya kau menyentuh Olivia. Kau pikir kau cowonya?". "Mau diapain Mes? Kita beri pelajaran aja yok". BRAK. Sesaat kemudian, ku temukan diriku sedang mencium meja. Hidungku berlumuran darah. Kacamataku terbelah menjadi 2. Kedua murid yang berada dalam perpustakaan tersebut, salah satunya adalah gadis yang kukagumi, melihatku dan menertawakanku. "Hahahahaha". Memalukan. MEMALUKAN. Dendam, hatiku penuh dengan dendam. "Anggap aja ini peringatan. Awas lu berani nyentuh Olivia lagi". "Lain kali mau di apain Mes?", tanya seorang temannya yang kalau tidak salah, pernah ku lihatnya mencium seorang gadis angkatanku di kelas XII-2. "Lain kali mah, kita potong tangannya aja deh hahaha". HAHAHAHA. LUCU? LU PIKIR INI LUCU BUAT LU? Kutahan emosi ini agar tidak meledak. Sesaat setelah mereka meninggalkan perpustakaan, kuikuti mereka. Mereka sedang menuruni tangga. Dengan sekejap,ku lari dan ku dorong pria yang tinggi itu. Brak, brak, brak, DRAKK. Kulihat dia dari kejauhan, kepalanya sudah tidak berbentuk, belumuran dara. Rupanya dia jatuh ke lantai 1 mengenai kepala terlebih dahulu. Hahaha, gimana rasanya kepalanya dilumurin darah. Kurasakan sesuatu yang menakjubkan, yang amat sangat memuaskan. "HERMES", teriak temannya. "Brengsek kau bocah, ini keterlaluan." Dia kemudian mengarahkan tonjokannya ke arahku dan tonjokannya mengenaiku. Aku kemudian dihajar tanpa henti. Tidak ada satupun orang yang berada di lantai 4. "KAU MEMBUNUHNYA". Tangisan keluar dari matanya. Dan saat kulihat dia membuat wajah yang memprihatikan selagi dia memukulku, kurasakan perasaan yang amat sangat aneh. Anda tidak akan tahu bagaimana rasanya. Rasanya seperti puas sekali. Bahkan lebih dari sekedar puas. Lebih dari hanya bahagia. Hahaha. Kuingin liat wajahnya lebih sengsara. Aku memang lemah dan tidak pandai berkelahi, dan mungkin juga Anda akan mengira saya gila, tapi jangan sekalipun kau anggap aku ini bodoh. Aku ingat, jika Anda berjalan lurus kemudian belok ke kanan, maka Anda akan temukan kaca yang sedang bersandar di tembok. Tanpa pikir lagi, aku langsung lari ke kaca yang sedang bersandar pada tembok tersebut."Mau kemana kau bocah!?". Sudah kuduga, dia pasti lari mengejarku. Saat dia belok ke kanan, PRANG. "AHHHH, MATAKU". Kupecahkan kaca tersebut ke muka dia. "SAKIT, TOLONG SIAPAPUN, GELAP SEKALI". Hehehe, sia sialah kau berteriak, sebab tidak ada satupun yang berada di lantai 4 pada jam segini. Teruslah buat wajah yang memprihatikan tersebut kawan. Ohh amat sangat memuaskan rasanya. "WOI BRENGSEK, LU APAIN GW!? BENERIN GW SEKARANG JUGA!". "Maapkan aku, aku akan segera membawamu ke rumah sakit terdekat. Tapi saya harus menuntunmu, karena saya tidak bisa menggendong orang". Memang, aku socially awkward, memang aku kurang gaul dan terlalu formal, tapi jangan pernah menganggap saya bodoh. Dia menyetujui untuk di tuntun, dan langsung ku dorong dia . KRAK. Terdengar suara seperti tulang kepalanya retak. Kulihat kebawah dan kurasakan perasaan yang sangat memuaskan, ku merasa kebahagiaan yang amat sangat hebat. Aku merasa aku ingin melakukannya lagi. HAHAHAHA. Ku sengaja membawa dia ke tangga dan mendorongnya agar terlihat seperti kecelakaan. Dan memang benar, keesokan harinya, sekolah ditiadakan. Tidak ada cctv, sehingga membuat polisi kesulitan menginvestigasinya, dan betul, mereka dianggap meninggal karena kecelakaan. Hal yang amat sangat pintar bukan? BUKAN?
YOU ARE READING
Retribusi
Mystery / ThrillerKarma (/ˈkärmə/) adalah "aksi" atau "perbuatan" yang dipahami sebagai sesuatu yang menyebabkan seluruh siklus kausalitas. Seseorang yang telah melakukan sesuatu, baik itu perbuatan baik maupun jahat, akan mendapatkan imbalan yang sederajat dengan a...
