Prolog

18 3 1
                                        


"Setiap keluarga yang tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing"
.

"Bundaaa"
"Bundaaa" Lirih Luna

Tangannya menggenggam erat tanah pemakaman bundanya. Walau awan pun ikut bersedih ia tak peduli. Sungguh ia tak peduli
Dengan tanah yang mengotori
Dengan hujan yang membasahi
Dengan angin yang menyelimuti
Dengan dingin yang menghantui, sungguh ia tak peduli

Beberapa kali tangannya ikut menyeka air matanya. Sudah hampir 2 jam Luna menidurkan dirinya, menangis di sebelah makam bundanya

Melihat dari cuaca yang tidak baik, bisa dipastikan dia akan sakit

Tap tap tap--

Langkah kaki sepatu kantoran terdengar, dengan jas yang masih utuh, seorang pria terdiam menatap makam yang ditangisi anak perempuan satu-satunya

Ayah Luna, bekerja di luar kota. Kedatangannya disadari Luna, namun Luna tetap pada posisinya

Percuma,
Percuma bagi ayah Luna menahan tangisnya. Walau kedua tangannya mengepal sekencang mungkin, tetap tidak bisa

Ayah Luna mengelus halus punggung Luna, menutupinya dari hujan. Entah siapa yang tega meninggalkan Luna sendiri disini dengan hujan. Tega!

Tidak peduli dirinya ikut basah, tanpa payung menghalangi jatuhnya titik hujan

Hari ini, Luna kehilangan orang paling berarti dalam hidupnya. Yaitu bundanya sendiri...

Terpuruk pasti, dia berada di titik terendah hidupnya. Bayangkan, di umurnya yang masih cukup belia yakni 14 tahun, ia sudah kehilangan bundanya

Bunda tidak menepati janji

Dulu bunda janji, tidak akan meninggalkan Luna
Dulu bunda janji, tidak akan membiarkan Luna sendiri
Dulu bunda janji, akan terus bersama Luna
Dulu bunda janji, akan menjadi nenek dari anak-anak Luna nanti

Tapi semua itu sirna
Kehidupan bunda malah berhenti disini

Janji bunda menunggu, namun ia tak mampu

Kecewa memang dirasakan Luna, namun dia lebih merasakan pilunya kehilangan orang yang ia cintai

Sungguh, yang Luna inginkan sekarang adalah menyusul bunda

Mengakhiri hidupnya, bertemu dengan bunda disana

Ia menengok kembali keadaan, ada ayah yang berdiri bersamanya
Yang menjaganya
Yang mengasihinya
Yang memberi segalanya, tangisnya makin menjadi

Tentu ayah pasti sedih jika ditinggal istri dan anaknya kalau sampai Luna menjalankan keinginannya

Itu yang membuat Luna kembali mengurung niatnya

"Luna, sudah waktunya kita pulang ya?"

"Luna ga mau pulang, Luna mau sama bunda!"

"Luna harus pulang, nanti Luna sakit kena hujan dan angin. Nanti kalau ada waktu kita kesini lagi, mengunjungi bunda

"Tapi bunda nanti sendirian"

"Bunda pasti gamau Luna sakit, bunda pasti gamau Luna sedih. Sekarang Luna harus bangkit dari kesedihan, ikhlaskan bunda. Doakan bunda agar tenang disana"

Luna tertegun ucapan ayah
Luna bangkit dari duduknya

"Luna senyum ya? Kita ikhlaskan bunda"

Luna tersenyum dikala air mata masih mengalir di pipi

Pergi menggandeng tangan ayahnya, meninggalkan pemakaman bunda

....

TBC~♡

AkuStories to obsess over. Discover now