Bismillahirrahmanirrahim.
Sebelum membaca, ber do'a dulu, Doain penulis sehat terus, kalau ada Typo atau EYD yang belum sempurna mohon dikomentari ya, jangan lupa follow dan share ke teman-teman.
----------
Aina terjaga dari tidurnya, tapi apa yang didapatinya saat pertama membuka mata bukanlah pemandangan yang familiar baginya, ia terbaring di atas dipan sempit di dalam bilik yang dikelilingi kain hijau, di sampingnya berdiri tiang infus, dan di punggung lengan kirinya tertanam jarum yang tersambung dengan selang berisi cairan bening yang berasal dari tetesan kantung infus yang menggantung di tiang yang berdiri di sampingnya. Ia kembali mengorek ingatannya, dan menelaah keadaan sekelilingnya, tidak ada satu orang pun yang ia temukan di sana, sunyi. Ia mencoba mengangkat badannya
"Aaau" pekiknya
pinggangnya terbalut kain perban yang terlilit rapi , kali ini Ia mulai ingat apa yang telah terjadi pada dirinya hingga ia sampai di tempat ini.
"Irgi, ya aku ingat sekarang, ini semua gara-gara dia, dimana dia sekarang, lalu siapa yang membawaku ke rumah sakit" Aina bergumam pelan.
***
Siang hari disebuah taman di tengah kota Surabaya, daun-daun kering berjatuhan menari-nari tertiup lembutnya angin, riuh kendaraan lalu lalang terdengar cukup sibuk, tepat di tengah-tengah taman berdiri sebuah pohon besar yang sangat rindang, usianya sekitar 200 tahunan, sepertinya pemerintah kota sengaja membangun taman yang asri di sekitar pohon tua ini, di sekeliling pohon besar tertanam bermacam jenis tanaman bunga yang aromanya membuat siapapun yang singgah di taman ini akan betah untuk berlama-lama di sana. Sementara di sebuah bangku kayu di tengah-tengah taman bunga, duduk menyender seorang pemuda, matanya terpejam dan wajahnya penuh dengan memar, di sudut bibirnya terdapat bekas aliran darah yang sudah mengering, sang pemuda tertidur pulas ditemani kicauan burung-burung liar yang bersarang di ranting-ranting pohon di taman ini.
"Dek, bangun dek, sampean gak
boleh tidur disini" seorang lelaki paruh baya membangunkan pemuda itu.
"Eeeh" Si pemuda sedikit terhentak, dan terjaga dari tidur siangnya, bola matanya menelanjangi keadaan
sekitar.
"Ada dimana ini?" Tanyanya dalam hati.
"Sampean gak apa-apa? Sepertinya sampean kebingungan, ini saya ada air minum , minumlah" lelaki paruh baya tadi mencoba membuka obrolan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kini ada di kepalanya, siapa pemuda ini, darimana dia berasal, kenapa keadaannya sangat kacau dan apa alasan dia tertidur di taman sejak Ia mulai datang ketempat ini selepas sholat subuh untuk melakukan tugasnya menyapu taman, dilihat dari penampilannya sepertinya dia bukan pengamen atau pengemis, sejak pagi Ia ingin membangunkan pemuda itu tapi tidak berani, akhirnya Ia kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai tukang sapu taman, tapi siang ini rasa penasarannya membawanya untuk membangunkan pemuda itu.
"Terimakasih pakde, maaf saya tertidur disini dari semalam". Ungkapnya seraya menerima botol air minum yang di tawarkan si lelaki tua yang Ia tak tahu siapa namanya.
"Jangan sungkan, ngomong-ngomong adik ini dari mana? Kenapa bisa sampai tertidur disini? Dan kenapa muka adik terlihat berantakan?"
"Gak apa-apa Pakde, saya sedang mencari teman perempuan saya, saya dari Madiun"
Disiang hari yang sangat cerah, di langit tak terlihat satupun gumpalan awan yang menghiasi birunya atap dunia yang luas ini, yang ada hanya sebuah cahaya putih yang sangat menyilaukan mata siapapun yang berani memandangnya, sinarnya menerobos melalui atmosfir bumi dan menyelinap di sela-sela dedaunan dari pohon-pohon rindang di taman ini. Masih di tempat yang sama, sang pemuda mulai menceritakan apa yang dialaminya semalam kepada lelaki paruh baya yang kemudian ia ketahui namanya adalah pak Wardoyo.
***
(Aina)
Pagi ini aku terbangun di sebuah rumah sakit, pinggangku terlilit kain perban yang cukup erat mengelilingi seluruh lingkar pinggangku. Perih, nyeri dan sakit sekujur tubuhku tak dapat ku lawan, namun ada beberapa pertanyaan yang ada di dalam fikiran ku saat ini, siapa orang baik yang sudah mengantarkan ku ke tempat ini, lalu sejak kapan aku terbaring di tempat ini? Bukankah terakhir kali aku sedang bersama Irgi, orang yang telah menyebabkan ku pingsan karena kebodohannya, lalu dimana dia sekarang?
"Mbak sudah sadar?" Tanya seorang perawat yang tiba-tiba masuk kedalam bilik tempatku berbaring.
"Eh, iya suster, aku sedang di rumah sakit mana? Lalu siapa yang membawa aku kesini? Apakah ada keluargaku yang tahu? Lalu sudah berapa lama aku disini?" Tanyaku panik tanpa memberi kesempatan untuk suster menjawab satu persatu.
"Ini ada di Rumah Sakit Dr. Sudrajat Sidoarjo, dua hari yang lalu ada teman mbaknya yang nganterin kesini"
"Siapa namanya mbak?" Tanyaku lagi
"Saya kurang tahu, nanti coba saya cek di buku pengunjung, tapi setelah itu dia nggak datang kesini lagi, setahu saya selain dia nggak ada orang lagi yang ngejenguk mbaknya sampai sekarang" terang perawat itu.
"Terus biaya perawatan ku gimana sus?"
"Nggak usah khawatir, teman mbak itu udah bayar semuanya sampai mbaknya sembuh."
Siapa sebenarnya laki-laki itu sampai mau berbaik hati membawaku ke rumah sakit, dan membiayai semua biaya perawatan ku , aku harus mencarinya.
***
(Author)
**Tiga bulan sebelumnya
Di tepi pantai di sisi selatan Kabupaten Malang, laut yang biru dengan suara ombak yang syahdu, dalam beberapa kesempatan terdengar suara deburan ombak yang pecah terbentur kokohnya batuan karang di bibir pantai.
"Aina, kamu mau kan jadi Istri aku?"
"Kamu serius Deva?"
"Emangnya aku kelihatan bercanda?"
"Aku mau, tapi jangan dalam waktu dekat ini ya, masih banyak PR yang harus aku selesaikan"
"PR? Kayak anak SD aja, haha. Emang PR apa? aku boleh tahu?"
"Belum saatnya Dev, nanti aku ceritain ya, yang penting sekarang kamu udah dapet jawaban kan kalau aku mau nikah sama kamu"
"Yaudah deh, tapi dalam waktu dekat aku mau ngomong ke keluarga kamu, boleh ya?"
"Yaudah, lebih cepat lebih baik"
"Oke calon istriku, haha"
-------------------
Untuk BAB ini, bab pengenalan ya, jadi singkat aja, Insha Allah 3 hari sekali bakal Update, terimakasih sudah membaca. 😘
YOU ARE READING
Mencari Wali
Teen FictionAina Zakiya Syahira, seorang gadis usia matang yang siap menikah, namun pernikahan itu terkendala lantaran dia tak tahu keberadaan Ayahnya yang sejak dia kecil telah meninggalkannya tanpa kabar. Petualangannya dalam mencari Wali untuk pernikahannya...
