"Wowwww Abby wowwwwww!!! Temanku sudah dewasa!" ujar Jade kepada Abby yang baru saja bercerita tentang perasaannya kepada Liam layaknya sahabat yang sangat bahagia atas kebahagiaan temannya. Jade yang telah menjadi sahabat Abby dari lama pun sangat kaget karena selama ini Abby tidak pernah menyukai siapa- siapa sejak ia diputuskan mantannya, Ferry karena bosan di masa SMP-nya. Itu menyebabkan tumbuhnya sifat pendiam dan pemalu Abby. Sejak saat itupun Abby sering merenung di kamarnya. Saat Abby masih pacaran dengan Ferry, ia sangatlah periang dan percaya diri, ia juga terlihat sangat bahagia di kesehariannya hingga suatu saat Ferry menghampiri Abby untuk memutuskannya setelah berpacaran selama 1,5 tahun. Abby terlihat sangat sedih dan terpukul, ia pun kehilangan semua rasa percaya dirinya. Ia sering ditinggalkan orangtuanya dan kakak-kakaknya semuanya berada di luar kota jadi selama ini ia merasakan kebahagiaan dari hubungannya dengan Ferry. Oleh karena itu, ia merasa sangat kesepian, bodoh, dan juga merasa dia adalah sosok yang tidak menarik dan tidak berguna sama sekali. Tetapi, untungnya Abby adalah pribadi yang baik sehingga ia tidak kehilangan teman-temannya terutama Jade yang selalu di sisinya dari kelas 2 SD. Di masa itu pun Abby tetap berusaha untuk tetap rajin dan juga ramah terhadap orang- orang di sekitarnya. Tetapi ia memutuskan untuk tidak menjadi terlalu dekat dengan teman- temannya yang laki- laki karena tidak ingin mengalami sakit hati yang sama lagi. Sikap pendiamnya pun tidak pernah hilang kecuali saat ia bersama Jade.
Sekarang Abby dan Jade sudah berada di kelas 12 di SMA East High di Surabaya. Saat mendengar dari Abby sendiri bahwa ia menyukai Liam, Jade pun menjadi sangat senang dan bersemangat. Ia telah menunggu cukup lama supaya Abby dapat menjadi sosok yang periang dan sungguh- sungguh bahagia lagi. Jade telah mengetahui bahwa Liam adalah orang yang baik, periang, dan juga pintar. Ia juga dikabarkan menyukai Abby. Maka, sejak hari itu Jade mendukung pertemanan Abby dan Liam yang saling suka itu.
Sejak hari itu, tidak terasa sudah 2 bulan telah berlalu. Abby dan Liam pun semakin lama semakin dekat. Pada hari itu, Abby sedang di luar kota untuk mengunjungi neneknya di desa. Jade pun juga tahu mengenai hal itu karena mereka chatting-an meskipun tidak bertemu secara langsung di sekolah. Tiba-tiba saat Jade baru selesai makan, notifikasi HP-nya bergetar- getar terus. Jade pun bingung dan cepat- cepat membuka handphone yang ia letakkan di saku celananya. Ternyata itu adalah notifikasi dari Abby yang saat itu juga ingin "curhat" tentang Liam. Jade pun segera membuka handphone-nya dan ternyata Abby berkata bahwa ia cemburu karena Liam sangat perhatian kepada teman Jade yaitu Sally. Sally juga kabarnya suka dengan Liam yang baik itu walaupun ia mengaku hanya bersahabat dengan Liam. Bertepatan pada hari itu, teman dari Liam dan Sally berulang tahun sehingga Liam pun bertemu Sally saat di pesta ulang tahun temannya. Liam juga bilang kepada Abby bahwa dia baru selesai seru-seruan bermain dengan Sally dan temannya yang lain. Jade yang mendengar hal itu pun bingung dan kikuk karena itu pertama kalinya ia melihat Abby cemburu dalam waktu yang lama. Ia pun langsung mengirim pesan ke Liam dan berkata, "Jika kamu masih mau ketemu Abby, jaga jarakmu dengan Sally." Liam yang mendengar hal itu langsung kaget dan meminta maaf kepada Abby karena ia tidak bermaksud membuat Abby cemburu dengan berkata bahwa ia sedang bermain dengan Sally. Keesokan harinya, Jade yang mendengar bahwa Liam telah meminta maaf dan Abby sudah memaafkan Liam turut merasa senang atas kebahagiaan sahabatnya.
Tetapi setelah semuanya terasa baik- baik saja bagi Jade dan Abby, tiba-tiba Sally menghampiri Jade dan menamparnya. Suasana pun menjadi hening sejenak dan Jade terlihat kebingungan. "Apa hakmu menyuruh Liam jauh-jauh dari aku? Aku sama dia udah sahabatan sejak lama jadi kamu enggak usah ikut campur deh," ujar Sally. Jade pun kaget karena dulu ia merupakan sahabat yang sangat dekat bagi Sally. Sally pernah membantu Jade saat ia dibully di SD dan Jade selalu menganggap itu sebagai hutang budi. Tetapi di balik itu, ia kebingungan karena tidak ada yang tahu tentang pesan yang dikirim Jade ke Liam kecuali Liam, dirinya, dan Abby yang telah membaca pesan itu. Jade pun menjelaskan bahwa ia tidak mengatakan hal itu untuk merusak persahabatan Sally dan Liam. Ia mengirim pesan itu pada Liam hanya agar Liam lebih memperhatikan perasaan Abby dan tidak menyakiti hatinya. Sally pun kecewa pada Jade. Ia merasa bahwa Jade sudah tidak peduli pada persahabatan mereka yang dulunya sangat erat dan langsung pergi meninggalkan Jade yang hanya bisa diam termenung. Jade pun murung seharian dan memikirkan perkataan Sally itu. Tetapi di benaknya, Sally yang sekarang sudah berbeda dengan Sally yang dulu seiring berjalannya waktu. Ia sekarang menjadi sosok yang sombong, semaunya sendiri, dan juga suka menjelekkan orang lain. Jade juga merasa ia telah membalas budi kepada Sally yang dulu membantunya waktu SD dengan sering membantu Sally dengan masalah- masalah keluarganya dan pertemanannya. Oleh karena itu Jade menganggap bahwa hutang budinya telah lunas dan ia tidak perlu lagi mentoleransi perbuatan buruk yang sering dilakukan Sally kepadanya dan Abby.
Sepulang sekolah, Jade langsung bercerita kepada Abby sahabatnya tentang apa yang sudah terjadi. Abby pun kaget dan dengan emosi berkata, "Gatau diri tu orang, main nampar- nampar aja." Jade pun tetap murung karena merasa bersalah telah secara tidak langsung mengikutkan Abby pada masalahnya dengan Sally. Abby pun terdiam karena ia dari awal tidak menyarankan untuk berkata pada Liam untuk menjauh dari Sally karena takut akan terjadi kesalahpahaman. Tetapi Abby pun bingung karena tidak mengerti penyebab Sally marah karena Sally pun pernah berkata kepada Abby bahwa ia hanya menganggap Liam sebagai sahabat. "Seharusnya sahabat menjaga jarak sedikit tidak apa- apa, bukan?" gumamnya.
Keesokan harinya, mereka masuk ke sekolah seperti biasa. Ternyata Liam juga murung karena rupanya Sally marah kepadanya juga. Sally juga marah kepada Abby. Ia berpikir bahwa Abby tidak ingin Sally berteman dengan Liam. Tetapi Sally tidak berani menunjukkannya karena ia tahu Abby bukanlah orang yang mudah masuk dalam drama yang dibuatnya. Abby pun menjalani harinya dengan sedikit gelisah karena tahu bahwa Sally membencinya. Liam yang mudah merasa bersalah pun merenung pada hari itu karena ingin menyelesaikan konfliknya dengan Sally. Sebaliknya, Jade pun mulai menyadari bahwa semakin jauh dirinya dengan Sally, maka ia akan semakin jauh dengan masalah. Ia pun menjalani harinya dengan bahagia. Ia bahkan tidak menyapa Sally yang berada di antar jemput yang sama dengannya. Jade sadar bahwa Sally selalu berpikir bahwa dirinya adalah insan yang paling benar dan pintar di dunia. Sally selalu menyalahkan orang lain dan memputarbalikkan fakta sehingga orang lain selalu salah di matanya. Jade ingin menghilangkan hal itu dari Sally. Oleh karena itu, ia tidak meminta maaf kepada Sally agar ia mengintrospeksi dirinya dan menyadari bahwa ia bisa saja salah mengenai suatu hal dan supaya ia mengganti sifatnya yang busuk itu.
Suatu pagi, seperti biasa Jade dan Sally ada pada antar jemput yang sama. Memang benar apa yang dikatakan Jade, karena sudah berminggu-minggu menunggu Jade meminta maaf tetapi Jade tidak segera meminta maaf, Sally pun meminta baikan dahulu di mobil. Mereka pun baikan tetapi Jade tetap tidak bisa sepenuhnya memaafkan Sally sehingga mereka tidak sedekat dahulu. Tetapi Jade tidak menyesali keputusannya sama sekali. Ia tetap merasa bahwa Sally tidak bisa sepenuhnya berubah sehingga ia akan seterusnya menjaga jarak dengan Sally. Dan memang benar, Sally memang terkadang menjelekkan Abby yang pernah cemburu pada hubungannya dengan Liam di depan teman- teman gengnya. Meskipun itu, Abby pura-pura tidak mengerti apa yang mereka bicarakan dan menjalani kehidupannya seperti biasa dengan bahagia. Liam pun akhirnya meminta maaf padahal ia tidak bersalah dan itu semata- mata karena Sally marah kepadanya dan terus berteman dengan Sally meski tidak sedekat dulu. Liam juga tetap bertambah dekat dengan Abby meskipun telah ada banyak hal yang terjadi di sekitar mereka. Mereka tetap rukun dan semakin saling mengerti kondisi satu sama lain. Sedangkan Jade, ia menjalani hari- harinya bersama Abby yang selalu setia mendukungnya dengan sangat bahagia tanpa beban. Dengan masalah-masalah yang mereka hadapi, persahabatan mereka semakin erat dan mereka pun menjadi semakin dewasa.
Persahabatan mereka memang bagaikan chrysalis yang mengubah ulat menjadi kupu-kupu seiring berjalannya waktu
YOU ARE READING
Chrysalis
Short Story(Kelly Soegiantoro/19) Jade dan Abby adalah sahabat dekat. Pelan-pelan, Abby mulai menyukai Liam yang juga disukai Sally. Jade dan Abby pun mengalami konflik yang menguji persahabatan mereka. Apa saja konflik itu? Mari kita simak:)
