"Maca!! Kantin, kuy!"
Merasa terpanggil, gadis berambut sebahu itu mengalihkan matanya dari buku ke sumber suara. Ia menghela napas, memikirkan jawaban terbaik untuk ajakan salah satu sahabatnya itu.
Dirinya memang jarang keluar dari kelas kecuali saat jam olahraga, ke perpustakaan, dan juga pulang. Ke kantin? Dia merasa sungkan karena suasana yang ramai dan ia juga merasa malu saja.
"Hm, Ak-"
"Tak terima penolakan! Sampai kapan kamu akan mendekam dan menjaga kelas? Ayo! Nana dan Jasmine sudah menunggu di kantin!"
Gadis dengan rambut kucir ekor kuda itu langsung memotong ucapan sahabatnya yang diyakini adalah sebuah penolakan.
"Tapi Lychee, aku ... aku-"
"Gak usah malu, toh kamu gak sendirian. Ayo! Perutku sudah berdemo meminta jatah makan siangnya," Lychee kembali memotong ucapan Macaroon.
Ia bahkan sedikit menyeret lengan sahabatnya itu. Dengan senyuman secerah matahari, Lychee berjalan menuju kantin tanpa memedulikan perasaan Macaroon yang gundah dan gugup. Ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama Macaroon pergi ke kantin yang katanya surga sekolah.
"Banana! Jasmine! Lihat aku membawa siapa!"
Bukan hanya dua orang gadis yang dipanggil Lychee yang memutar kepala, namun hampir semua orang yang ada di kantin ikut melirik mereka berdua. Hal itu sukses membuat Macaroon benar-benar malu akibat suara toa tak tahu tempat milik sahabatnya yang kini menyengir tanpa dosa.
"Memalukan sekali," gumam Banana sambil berdecak kesal melihat kelakuan Lychee yang tidak tahu tempat itu.
"Hm," dehem Jasmine menyetujui ucapan Banana. Ia lalu kembali sibuk dengan makanan di hadapannya tanpa memedulikan Macaroon dan Lychee yang tengah berjalan menuju ke arahnya.
Sedangkan di bangku paling pojok, terdapat empat orang siswa yang masih menatap Macaroon dan Lychee. Bahkan salah satu dari mereka sangat fokus menatap salah satu dari keempat gadis yang kini tengah mengobrol ringan tersebut.
"Gadis berambut sebahu itu, siapa?" tanyanya spontan.
Pertanyaan itu membuat ketiga temannya langsung menyorot dengan tatapan syok yang terkesan jahil. Seorang Berry Blow Lonic-laki-laki tampan dan dingin yang melebihi kutub utara serta tidak mau disentuh oleh siapa pun-bertanya tentang seorang perempuan? Waw! Patut diacungi jempol pesona gadis sebahu itu, yang memang terlihat manis sih.
"Seriusan? Lo tanya soal ini ke kita? Untuk pertama kalinya? Waw! Gue gak bisa berkata-kata." Rentetan pertanyaan dengan nada mengejek dari Coffee membuat Berry kesal dan menyorot datar temannya itu.
Tuk!
"Barusan lo udah berkata-kata lebih dari tiga suku kata!" sinis Moroccan setelah berhasil mendaratkan satu kacang di kepala Coffee.
"Macaroon Violet namanya, kelas XI MIPA 2," jawab Matcha membuka suaranya setelah beberapa saat terdiam. Iya, Matcha itu memiliki sifat dingin selain Berry tentunya, tapi masih mendingan sih.
"Oh! Si kuncen kelas itu bukan, sih?" seru Coffee dengan suara yang lumayan nyaring. Untung saja hanya beberapa orang yang melihat ke arah mereka.
"Ck, suaranya tolong!" sinis Moroccan yang hanya dibalas cengiran polos Coffee, sedangkan Berry dan Matcha setia dengan kebungkaman dan raut datarnya.
Ya, wajar saja Macaroon dijuluki kuncen kelas. Kan di awal sudah diberi tahu kalau Macaroon lebih suka mendekam di kelas ketimbang keluar dan bermain-main seperti yang dilakukan siswa dan siswi lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERRY & MACAROON: Sebuah Perpaduan Rasa yang Sempurna [END]
Romance**[BERRY & MACAROON Sebuah Perpaduan Rasa yang Sempurna]** Dikenal sebagai "Pangeran Es" yang dingin dan tertutup, hidup Berry berubah drastis sejak mengenal Macaroon. Bagi Berry, Macaroon bukan sekadar gadis yang ia cintai, melainkan "rumah" tempat...
![BERRY & MACAROON: Sebuah Perpaduan Rasa yang Sempurna [END]](https://img.wattpad.com/cover/203491133-64-k117516.jpg)