Rindu
Satu kata yang membuat semua hal menjadi aneh.
Rindu bisa membuat orang nafsu makan ataupun sebaliknya.
Rindu bisa membuat orang marah marah tidak jelas.
Bahkan rindu juga bisa membuat orang nekat melakukan apapun agar bisa membuatnya bertemu dengan sang rindu itu sendiri.
Dan itulah yang dirasakan Vita. Gadis manis bermata sipit dengan kulit kuning langsat dan kacamata kotak yang menghiasi wajahnya. Rambutnya yang hitam legam segelap lensa matanya tengah menatap ponselnya yang kini menampakkan laki laki yang sangat mirip dengan para pangeran khas timur tengah.
Dengan janggut yang penuh diwajah, kulit putih bersih. Dan jangan lupa, kacamata kotak yang membingkai wajahnya. Di foto tersebut dia sedang mengenakan baju batik coklat tua dengan motif megamendung berwarna coklat muda.
"Susah sekali lah dirimu digapai."
"NOVITA!" sebuah suara bersamaan dengan pintu yang terbuka mengagetkan Vita sehingga ponsel yang dipegangnya sukses menghantam lantai marmer yang menjadi pijakannya.
"Astagah, adek! Ponsel kakak jatuh itu!" dengan logat khasnya dia malah balik meneriaki laki-laki yang kini hanya cengengesan di depan pintu yang sedikit terbuka.
"Kakak, dianggil ki itu sama mama dari tadi. Sibuk sekali ki main hape sampe tidak didengar mama marah marah didapur, turun ki cepat ato nakenna* semua ki lagi lippunya" ucap adik Vita lalu menghilang dari balik pintu tanpa menutupnya kembali.
Vita meletakkan ponselnya tanpa lupa mengunci layarnya, adik kesayangannya itu akan menghabiskan seluruh kuota yang dia miliki hanya untuk menonton pipakamu.
Kini Vita sudah menuruni tangga sembari menimang-nimang aakah ponselnya akan retak mengingat suara jatuhnya cukup keras. Novita lupa mengecek ponselnya tersebut sebelum meletakkannya. Tapi yasudahlah, Vita pasrah jika layar ponselnya itu pecah, toh sudah terjadi dan tidak dapat kembali lagi, jadi percuma Vita marah marah.
"Iye ma?"
"Dari tadi ini mama panggil panggil ko, tapi tidak muncul muncul ko juga sampe sakit leher mama ini."
"Maaf lah ma, Vita tidak dengar panggilannya mama. Mau ki dibantu apa ma?" ucap Vita sembari memperhatikan setiap hal yang kini sudah berada di depan mamanya.
Dan Vita menarik talenan yang sejak tadi digunakan Fitri, Mama Vita yang paling cepat marah dan paling pintar memberikan ceramah hidup yang selalu mampu membuat Vita berfikir keras agar bisa menghindari setiap kalimatnya sebelum dimulai.
"Mama."
"Apa lagi? Mau moko menikah kah?"
"Iye, tapi kasi jodoh ma itu sama sepupu jauhku e."
"Ededeh, baru jako* masuk kuliah, minta kawin mi. Adajikah itu pekerjaannya? Bisa ji nanti nabelikan susu anakmu kalo ada? Itu kuliahmu bisaji nabayarkan juga spp dan semua praktek praktek serta alatnya? Bisajikah nakasi ko biaya perawatan muka sama badanmu tiap bulan? Ka kau passolek sekali ko. Sikki sikki* datangmi lagi minta uang coba ini coba itu."
"Ih mama. Kan nabilang Bapak mau ji nabiayai kuliahku sampe S3. Menikah k ato tidak. Najanji memang maka waktu nasuruh ka pilih kuliah disini saja daripada pi di jawa."
"Ka dulu ji itu Zuzank*. Beda dulu beda sekarang."
"Astagah mama, bukan ka zuzank. Izh tidak konsistennya mi. Lain sekarang lain besok. Nanti kalo bikin perjanjian begitu, bikin ma surat hitam diatas putih supaya bisa digugat."
"Heh! Bapakmu itu nubilangi e."
"Aish, siapa suruh tidak konsisten. Nanti itu tidak ada yang napercaya anak anaknya mama sama bapak apa sakua kuanya* kalau bicara."
VOUS LISEZ
rindu
Roman d'amourVita, Gadis yang begitu mendambakan pangeran supernya sejak lama. Setiap hari dia lalui dengan menjadi stalker di setiap akun media sosialnya. Bisakah dia mendapatkan pangeran supernya yang bahkan meliriknya pun tidak pernah? Atau haruskah dia mengh...
