Sinar rembulan menyeruak masuk kedalam jendela kamarku. Seperti kata bibi annete, malam ini bulan akan nampak utuh di langit. Dihiasi dengan kilauan bintang yang mengerjap menambahkan kesan yang sangat indah. Angin malam berhembus sangat kencang, membuatku harus menutup rapat jendelaku.
Hari hariku sungguh sangat melelahkan. Mataku pun memerah,memaksa ingin segera dimanjakan ke alam indahnya.
Namun,bibiku memintaku untuk makan malam bersama di ruang tengah. Harus bagaimana lagi, aku harus segera beranjak kesana.
Oh iya, aku lupa mengenalkan diri. Namaku amberlie emmanuelle aster elvarette, nama yang amatlah panjang. Aku seorang gadis berumur 23 tahun yang sibuk bekerja di salah satu perusahaan ternama di bidang penerbitan. Ibuku telah tiada setelah melahirkanku. Kemudian ia menitipkanku ke adik semata wayangnya, bibi annete. Bibi annete sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Di umurnya yang sudah berusia 45 tahun,ia belum juga kunjung menemukan tambatan hatinya. Kisah cintanya yang tragis pada masa lalu membuatnya memilih untuk tak lagi melabuhkan hatinya kepada siapapun. Sehingga ia hanya memilih memberi segenap kasih sayangnya kepadaku.
Kuturuni anak tangga yang terbuat dari kayu dan itu membuat langkahku sedikit berderit. Maklum, rumah ini merupakan rumah semasa kecil ibuku dan bibi. Segala perabotan, dan design rumah ini pun sangat terlihat kuno. Kami memang sengaja tak ingin merenovasi sedikit pun, dari tata letak barang atau mungkin dari bangunan ini sendiri. Biarlah semua menjadi kenangan.
Bibi annete tersenyum padaku. Lalu ia mengambil teko untuk menuangkan air teh ke dalam gelasku.
"Wah, sepertinya malam ini malam yang istimewa ya,bi. Tidak biasanya kau memasakkan makanan sebanyak ini "
Ucapku seraya duduk diatas kursi
"Haha tidak, amber. Hanya saja tadi pagi tokoku laris manis. Sehingga aku mendapat uang yang begitu banyak. Lalu aku berpikir untuk memasak makanan yang lezat untuk kita santap berdua malam ini. Bagaimana,apakah kau suka?"
"Tentu saja,bibi. Aku sangat menyukai semua masakanmu. Baiklah,mari kita makan"
Makan malam kali ini terasa begitu hangat. Kami bercakap banyak mengenai masa kecilku dan ibu. Rupanya banyak sekali kesamaan diantara kita. Lalu tanpa sadar, aku bertanya dan ingin mengetahui tentang ayahku. Namun setelah mendengar pertanyaanku, raut bahagia bibi pudar begitu saja. Aku yang memahami keberatannya,segera mengalihkan pembicaraan.
"Maaf,bi. Lebih baik kita habiskan makanan ini dulu saja."
"Tidak,amber. Suatu saat aku akan memberitahumu nanti jika memang sudah tepat. Mohon maafkan aku"
Keluhnya lesu
"Tidak apa,bi. Cepat atau lambat aku akan mengerti. Lagipula aku tidak akan memaksa bibi. Yang terpenting hingga saat ini, aku masih bisa bertemu dan bersapa dengan bibi"
Bibi pun tersenyum dan melanjutkan makannya.
_______________
Seusai makan,aku beranjak menuju kamar. Hari ini aku merasa teramat lelah disebabkan padatnya pekerjaan. Aku mencoba memejamkan mataku, namun hasilnya nihil. Kucoba dengan berbagai posisi pun, sama saja. Hingga akhirnya aku mencoba mengikuti arahan salah satu temanku melalui aplikasi chatting. Sebut saja dia sera. Teman karibku sejak SMA ini memang memiliki otak yang sangat briliant. Ia sangat pintar di segala bidang akademi dan telah mengikuti berbagai lomba olimpiade mewakili sekolah. Bahkan, ia sudah menjadi sarjana sejak umurnya yang ke 21. Namun, saat ini ia masih belum ingin bekerja. Menurutnya, itu sangat melelahkan. Lagipula, ia merupakan anak seorang dokter bedah terkenal di kota ini. Untuk apa bersusah payah bekerja bila semua kebutuhan telah memadai?.
Baiklah,kembali lagi pada masalah pertama. Aku sulit untuk tidur.
Menurut pendapat sera,lebih baik aku membaca novel untuk memancing kantukku. Dan aku baru saja mengingat bahwa aku tidak memiliki novel sama sekali. Haha, aku hanya memiliki tabloid kantor dan beberapa buku panduan tentang kecantikan. Daripada membaca tabloid, aku lebih memilih membaca buku panduan kecantikan. Barangkali setelah membaca ini, wajahku akan secantik model-model yang sering ku lihat di pameran busana.
Namun usahaku gagal lagi. Aku malah semakin tidak bisa tidur. Sedangkan waktu telah menunjukkan pukul 00.30. Ayolah kumohon,sedikit saja kita berkompromi.
Setelah melewati beberapa masa sulit untuk tidur. Aku mencoba mencuci wajah serta membersihkan kakiku. Kemudian, aku berkaca untuk menggunakan krim malam yang baru saja kubeli pagi tadi di supermarket terdekat.
Setelah merasa sudah oke, aku segera ingin merebahkan diri diatas kasur.
Tapi sepertinya ada sesuatu yang ganjal ketika aku hendak meninggalkan cermin tadi. Kucoba menghampiri cermin tersebut.
Dan, astaga. Bayanganku di cermin melambaikan tangannya padaku, seolah isyarat agar aku segera sadar.
Sungguh mencengangkan, seperti kisah film horor yang kutonton bersama sera saja. Bayangan dalam cermin yang ikut bergerak mengikuti pemeran dan bahkan mampu berbicara itu menghantui tokoh utama di film-film horor. Seketika, aku lari terbirit-birit menuju kasur. Dan segera menutup wajahku menggunakan selimut. Sekian lama aku berkomat-kamit membaca doa dan berharap Tuhan menyelamatkanku hari ini. Hingga pada akhirnya aku terpejam.
YOU ARE READING
Girl in Shadow
FantasySeseorang dibalik kaca memang sangat menyerupaiku. Tapi satu hal yang perlu digaris bawahi, ia mampu berbicara padaku!
