"Mereka tidak pantas hidup setelah apa yang mereka lakukan kepadamu. Jika mereka hanya mampu menghancurkan dirimu maka biarkan aku yang mengobatimu"_Elliot Aldrich Keene
"Bagaimana jika aku tidak bisa sembuh? Bagaimana jika aku selamanya seperti ini...
Jantungku berdebar cukup kencang, hari ini aku akan kembali tinggal bersama Ayahku, Harry Sebastian Vettel. Aku rasa hampir 7 tahun aku tidak pernah bertemu langsung dengan Harry, bukan karena aku tidak mencintai ayahku, tapi ibu melarang ku untuk menemuinya.
Jadi kenapa sekarang aku berakhir tinggal bersama Harry?
Hidupku rumit dan memalukan, jadi aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Indonesia dan berakhir di Forks bersama Harry, ayahku. Aku tidak akan tau apa Forks membuatku melupakan segalanya atau tidak, aku hanya tidak ingin kembali ke Indonesia. Kalian pasti bertanya bagaimana reaksi Mama saat aku berkata ingin tinggal dengan ayah, dia marah, kecewa dan bertanya apa Mama tidak membuatku bahagia!
Demi Tuhan, Tidak!
Aku bahagia bersama Mama, aku senang tinggal bersamanya. Aku hanya berkata, aku ingin bersama Ayah di Amerika, di bagian barat Washington DC. Mungkin sampai aku lulus SMA, atau tidak tau.
"Apa Harry sudah menjemput kamu?" Tanya Yvette khawatir.
Aku membenarkan Earbuds dengan menyandarkan punggungku di kursi tunggu bandara. Setelahnya aku melihat ke sekitar tempat ku duduk dan tidak mendapatkan Harry Sebastian Vettel sama sekali.
"Belum, mungkin sebentar lagi. Jangan khawatir Mom, ayah akan menjemput ku dengan segera." Kataku mencoba membuat Mama tidak terlalu mengkhawatirkan aku.
"Dia sama sekali tidak berubah!" Gerutu Mama dengan nada khawatir.
"Sudah ya Ma, aku matikan dulu. Mama istirahat ini sudah malam." tanpa menunggu jawaban dari Mama aku mengakhiri panggilan terlebih dahulu. Tidak lama kemudian aku melihat Harry dari kehauhan, melambaikan tangan kepadaku dengan senyum lebar.
Ayahku sangat Tampan, aku tidak percaya dia tetap sendiri setelah perceraiannya bersama Mama 7 tahun yang lalu. Aku berdiri dan memeluk Harry dengan erat, aroma ayah masih sama seperti terakhir kali.
"Maafkan aku, tadi ada operasi darurat. Ayo kita beli makanan untuk menebus kesalahanku."
"Aku hanya perlu mandi dan tidur ayah. Mungkin lain kali."
"Baiklah, ayo kita pulang. Kamu akan terkejut dengan Rumah kita."
Selama perjalan ke rumah, aku hanya diam dan melihat keluar jendela mobil, mengamati jalanan Forks yang tampak Renggang saat memasuki kawasan Forks, disini terlihat mendung, dan aspal basah karena hujan. Apa aku pernah bilang kalau Forks memiliki Curah hujan yang tinggi? Jika belum, aku akan mengatakan bahwa Forks kota terlembab yang pernah ada, matahari hampir enggan menyapa kota ini hingga Hujan terus-menerus mengguyur kota kecil ini yang memiliki jumlah penduduk yang sangat kecil.
Hampir tidak ada yang berbeda dari 7 tahun yang lalu, kecuali Rumah Harry yang terlihat lebih besar dan apa benar ini rumah Harry Sebastian vettel, ayahku?
Aku menatap wajah Harry tak percaya lalu kembali kearah pintu rumah yang memiliki warnah coklat tua, sangat cantik. "Aku ingat dengan betul, kalau ayah tidak pernah menginginkan pintu rumah kita berwarna Coklat, hitam apapun itu selain putih. Dan apa yang aku lihat sekarang?" Kataku dengan nada terkejut yang kentara.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Entahlah, Daddy hanya merindukan kamu. Jadi, aku mengecatnya sesuai dengan ide kamu saat pertama kali tinggal disini." Harry merangkul pundakku dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya.
"Ini luar biasa, ini sangat indah, aku menangis dibuatnya. Apa ayah juga yang merawat rumputnya?" Tanyaku antusias.
"Aku rasa begitu, apa ini cukup bagus?"
"Ya, tentu saja. Aku akan betah tinggal bersama ayah."
Harry menepuk pundakku pelan lalu meremas bahuku pelan "Daddy harap begitu. Jadi, apa sekarang kamu siap masuk lagi ke dalam?" Tanyanya dengan senyum dan alis naik, gaya Daddy dari dulu tidak berubah.
"Tentu saja, aku mau melihat kamarku."
Harry masuk kedalam rumah dengan membawa koper besarku dan lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan keadaan dalam rumah yang hangat. "Apa Daddy yakin semuanya Daddy yang menata ? Ini sangat sempurna Dad." Aku menelusuri semuanya, lantai kayu yang licin, sofa hijau tua yang terlihat nyaman, tangga spiral yang terlihat cantik, dan beberapa tanaman disetiap sudut.
"Ini keren, Dad"
"Aku akan membuatmu kagum lagi dengan apa yang ada di lantai dua, ayo ke atas"
Aku mengikutinya kelantai atas yang kini memang terlihat sangat berbeda dari yang terakhir kali aku lihat. Harry merubah semua bagian rumah ini menjadi lebih sempurna, Mommy akan menyesal meninggalkan Daddy.
Harry membuka pintu pink pundar dengan motif awan berwarna kelabu itu dengan perlahan "aku harap kamu menyukai kamar baru kamu"
Aku mencoba menahan senyumku sampai akhirnya aku ikut masuk kedalam kamarku dan lepas sudah senyuman yang aku tahan "ini sangat keren Dad, aku menyukainya." Kataku dengan memeluk tubuh Daddy.
Harry membalas pelukanku dengan mengusap punggung ku perlahan "Daddy senang kamu ingin tinggal kembali bersama Daddy Skylar, terimakasih." Bisiknya dengan mengecup puncak kepalaku lalu melepaskan pelukannya dan menatap ku dengan tatapan hangat yang selalu aku rindukan.
"Aku sangat senang bisa tinggal bersama Daddy juga, terimakasih untuk kamar yang sangat keren ini Dad."
Aku melihatnya tersenyum kecil, Daddy selalu saja malu setiap kali aku memujinya. "Kamu mandi dan Daddy akan membawakan segelas susu sebentar lagi."
"Oke, coklat jangan Putih." Kataku yang dibalas anggukan dan acungan jempol dari Harry.
Harry menutup pintu kamarku dan meninggalkan aku sendirian dikamarku, ya kamar ini menjadi kamarku kembali. Aku merebahkan tubuhku di kasur dan membiarkan mataku tertutup untuk beberapa saat. Kenangan itu tentu saja tidak mudah untuk hilang dalam ingatanku, kecuali aku mengalami amnesia dadakan. Hell, aku sangat tidak menginginkan hal itu sampai terjadi, itu mengerikan tapi dilain sisi aku juga menginginkan hal itu terjadi, saat ini juga.