Bermusik sudah menjadi hobiku sedari dulu, layaknya manusia pada umumnya memiliki hobi yang dibayar itu memang sesuatu yang diimpikan, tapi apakah uang menjadi prioritas? Tentu saja tidak,
uang hanya sebagai penghargaan atas usaha yang dilakukan bukan berarti saya tidak butuh uang, saya tetap butuh uang untuk bayar listrik wkwkwk,
namun prioritas sesungguhnya adalah berkarya menghasilkan sesuatu yang memuaskan idealisme yang tertanam dikepala,
saya mulai berpikir semua tidak akan mulai jika saya masih menukar waktu dengan uang contohnya bekerja seharian disuatu perusahaan dengan bayaran seadaanya, toh sehari cuma 24jam, maka dari itu lebih baik memulai sesuatu daripada terus terusan menghabiskan waktu ditempat kerja, jikalau pun gagal, masih ada hari esok untuk memulai kembali.
***
Sebulan sebelum resign
"Kring,, kring,, kring,, " Bunyi alarm hp membangunkan ku yang terlelap dialam mimpi, sontak langsung ku matikan alarm dan aku berangkat mengambil handukku, lalu bergegas ke toilet hendak mandi lalu berangkat kekantor,
seperti biasa ritualku sebelum mandi adalah boker (buang hajat wkwkwk) seketika boker sambil menghisap sebatang surya aku merenung sebenarnya hidup seperti apa yang aku inginkan, apakahseperti ini? Bangun dipagi hari berangkat kerja, lalu pulang ketika matahari sudah tenggelam di ufuk barat,
Tiba tiba terdengar suara orang mengedor pintu,
"darrr darrr darrr, banggggg buruuannnn emakk mau mandii jugaaa" Ternyata ibuku
"Iyaa, bentarr lagi berak" Saut ku.
Lantas aku menghilangkan renungan itu dan bergegas mandi, selesainya bersiap aku berangkat kekantor menggunakan motor cb tahun 90an yang diberikan kakekku ketika aku lulus sekolah, kata beliau hadiah sekaligus kenangan karna motor itu dulu diberikan oleh kakeknya kakek ku jadi seperti warisan keluarga, beliau juga berpesan katanya jangan dijual biarpun sering mogok, kelak jika aku punya cucu aku harus memberikannya kepada cucuku juga.
Jalan raya yang masih sepi dan matahari yang belum begitu terik menemani perjalanan ku ke kantor, lalulintas yang belum begitu macet membuat perjalananku lancar jaya,
Tiba tiba "brek brek brek" Motorku mati, lantas aku langsung mengecek bensinnya siapa tau lupa kuisi, ternyata benar adanya bensinya habis, aku menoleh kekiri kekanan siapatau ada toko yang menjual bensin eceran, kudorong motorku berharap ada orang yang membantuku mendorong motor ini sampai ketoko yang ada jual bensinnya tapi tidak ada siapa siapa karna pagi hari jalan raya didaerah rumah ku masih sepi,
Waktu menunjukan hampir jam 7 pagi kurang dari 10 menit aku telat kekantor, sambil mendorong motor aku ngedumel didalam hati " Ta* ba** bang*** anj*** sia***" (Sensor).
Lalu karna kecapean aku menelpon teman kantor ku berharap dia sudah datang kekantor dan sudah absen karna jika tidak, terlambat satu menit pun potong gaji resikonya.
" Titt titt titt (bunyi panggilan masuk), halo... Kenapa dim?
Yak, lu dimana? Udah dikantor belom?
Iye udah dikantor ini baru aja dateng, lu dimana? Udah hampir jam 7 ini lupa lu ya telat semenit aja potong gaji dim,
Iyee tau gua, ini motor gua bensinnya habis, bisa tolong jemput gua gak?
Lu dimana emangnya?
Di jalan maju mundur yak, jemput gua ye tolong,
Iye iye bentar gua absen dulu.
Sambil menunggu ilyak temen kantorku datang menjemput aku melirik kearah jam tangan ku, sudah jam 7 aku pasti terlambat kekantor,
Pasti ini akan jadi masalah nantinya gajiku pasti akan dipotong.
Aku kembali teringat renunganku ketika lagi boker tadi pagi,
Apakah aku harus resign dari kerjaan ini?
Tiba tiba, bremmmm suara motor ilyak datang membuyarkan lamunanku.
"Yokk buruan dim telat nanti lu"
"Iye yak ayokk buruan".
Tanpa berlama lama aku langsung kunci stang motorku dan kutinggalkan motorku disitu, akulangsung naik motor ilyak, lalu bergegas kami kekantor.
Sesampainya dikantor aku berlari buru buru menuju tempat absen agar telatnya tidak begitu lama dan gajiku tidak dipotong terlalu banyak, karna absen dikantor ku menggunakan sidik jari dan hasil sidik jari nya langsung masuk ke hp bos, jadi bos bisa tau siapa yang telat hari itu juga, benar benar canggih jaman sekarang.
YOU ARE READING
Retro Vakansi
AdventureBerawal dari kegelisahan seorang pemuda yang kerap dipanggil dengan sebutan "Bang dim", bingung dengan tujuan kehidupan. Antara jenuh dan bosan menjadi sesuatu yang sulit untuk dibedakan, kegitan sehari- hari yang hanya itu itu saja, pulang kerja pa...
