*****
Sulli menarik nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya ke udara. Perasaan lega, itulah yang dia rasakan setelah seharian ini dia harus terus menebar senyuman kepada setiap tamu yang datang,berjabatan tangan,berfoto,bahkan menanggapi guyonan dari orang orang yang sebenarnya-sebagian besar dari mereka- tidak dikenalnya dengan baik, dan bagian yang paling melelahkan dari semua itu adalah dia harus berpura-pura bahagia ditengah perasaannya yang berkecamuk, gundah dan cemas dengan masa depannya. Ya, benar. Beberapa waktu lalu wanita cantik ini baru saja selesai menggelar resepsi pernikahan di sebuah hotel berbintang, selama hidupnya Sulli tak pernah mengira akan secepat itu dia memulai fase kehidupan barunya. Sulli tak habis fikir mengapa dunianya berputar begitu cepat hingga akhirnya, pagi tadi dia mengikrarkan janji di hadapan Tuhan untuk saling mencintai dan saling menjaga dengan pria pilihan keluarganya. Sementara pria disampingnya yang tidak lain adalah suaminya terlihat santai dan tak peduli, pria itu - Choi Minho, begitu asik dengan benda persegi putih digenggamannya, hingga tidak menyadari bahwa dari tadi, seseorang tengah memperhatikannya.
Hening, tak ada perbincangan apapun di sepanjang perjalanan menuju rumah yang akan menjadi tempat tinggal baru pasangan ini, hanya deru suara pendingin juga suara klakson dari kendaraan lain yang terdengar, Sulli memilih mengedarkan pandangannya keluar jendela,mencoba menikmati gemerlap lampu yang menghiasi kota,berusaha meredam sesuatu yang mengganggu perasaannya,meski sesekali,dia mencuri pandang, memperhatikan orang disampingnya, dan Sulli tak menemukan sedikitpun beban diwajah tampan Minho, sedangkan dirinya diliputi perasaan yang tidak bisa dijelaskan, fikiran-fikiran tentang kewajiban seorang istri berlompatan dikepalanya, dia belum siap sama sekali untuk hal itu, juga hal lainnya. Ada kesedihan menelusup relung hatinya saat menyadari bahwa mulai malam ini dia akan hidup berpisah dengan keluarganya, bukan dia tidak bahagia dengan status barunya sebagai istri seorang Choi Minho-The most wanted man- begitu orang menjulukinya,seorang pewaris kerajaan bisnis keluarganya, Sulli tentu merasa tersanjung menjadi istri dari seorang yang menjadi impian setiap wanita, hanya saja kenyataan ini terlalu cepat untuk diterima, dan lagi, pernikahan ini terjadi tanpa adanya cinta.
Mobil yang mereka tumpangi berjalan komstan, membelah jalanan kota seoul yang masih ramai, tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah bergaya eropa,rumah dua lantai yang sebenarnya tidak begitu besar, cat warna putih mendominasi bagian depannya, tak ada pagar tinggi, ataupun garasi luas, yang ada justru berbagai jenis bunga cantik menghiasi halamannya, tersusun cantik dan berwarna-warni. Sulli turun mengikuti Minho, dia sedikit kesulitan dengan gaunnya yang begitu panjang, tapi lagi-lagi, Minho seakan tidak peduli,tanpa banyak kata pria itu berjalan memasuki rumah sambil menyeret dua koper besar milik Sulli, Sulli pun mempercepat langkahnya setelah berterima kasih pada sopir yang mengantar mereka.
" selamat datang... " itulah kalimat pertama yang didengar Sulli dari suaminya, pria itu merentangkan tangan seolah menyambut kedatangannya.
" ini rumah yang akan kita tempati bersama, bagaimana?! Kau suka?! "
tanya Minho sambil melepas jasnya,melonggarkan dasi yang dari tadi terasa mencekik dilehernya, sementara Sulli masih mematung didepan pintu, ia mengedarkan pandangan kesetiap penjuru, disebelah kiri, ada ada dapur dengan perabotan canggih, tak jauh dari sana meja makan kayu dengan empat kursi terlihat sangat pas diposisinya, disebrangnya sebuah sova panjang berwarna peach dengan meja bundar putih beralaskan karpet tertata menghadap televisi,ada dua pintu berwarna coklat tak jauh dari sana, Sulli yakin, dua ruangan itu adalah kamar tidur.
" Sulli-ya, ada banyak hal yang harus kita bicarakan, tapi aku sangat lelah,jadi besok pagi saja kita bicara, oke?! "
Seulas senyum muncul diwajah Minho, ia berbalik hendak menaiki tangga, menuju kamarnya, namun sedetik kemudian dia kembali menoleh.
" oiya, pilih saja kamar mana yang kau suka, kamarku ada diatas, selamat malam "
" Oke " balas Sulli santai, berharap Minho tak mendengar nada heran dari suaranya.
Saat ini, Sulli tak ingin dibuat pusing dengan keadaan yang sedang terjadi, dia lelah dan ingin beristirahat dan tanpa berfikir lebih banyak lagi, Sulli menuju salah satu kamar, memutuskan untuk mandi lalu tidur.
********
Sulli dan Minho terpaksa menikah karena wasiat kakek mereka sendiri. Lucu bukan?! Di era serba canggih seperti saat ini, bukankah ide perjodohan terdengar menyeramkan?! Tentu saja, pada awalnya baik Sulli maupun Minho menolak mentah-mentah perjodohan ini, namun apalah daya, mereka sama sekali tidak diberikan pilihan lain, jika salah satu dari mereka menolak, maka tak ada warisan yang akan mereka dapatkan. Dan setelah perdebatan panjang, akhirnya mereka sepakat untuk menerima dan menjalankan wasiat kakek mereka yang sudah meninggal, mereka pasrah pada apa yang akan terjadi dikehidupan selanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Part time Husband
Fiksi Penggemar" Mari kita buat semuanya sederhana, menjadi suami-istri hanya untuk waktu tertentu saja."
