Deg.
Kurasakan detak jantungku yang masih mencoba tuk menggetarkan dada. Ku merasa darah mengalir ke sekujur tubuhku. Hangat dan rileks. Seolah aku merasa berada dalam suatu labirin yang mungkin tak bisa kulewati. Ku mengerti dengan hidupku; rumit dan tak bisa ditebak. Samar-samar aku melihat ada bayangan yang siap untuk menjemputku menuju kegelapan. Kegelapan yang menghantui diriku. Hingga aku bisa sampai dalam kehidupan yang kujalani sekarang.
Aku tak tahu bagaimana agar bayangan seperti ini bisa lenyap dari hidupku. Aku merasa jengkel pada diriku. Aku harap ada seseorang yang hadir kedalam jiwaku, menjadi kekasihku. Kekasih yang kuimpikan selama ini, tak kunjung hadir juga.
Aku hanya bisa meratapi nasibku sekarang ini walau dengan sangat terpaksa. Aku ingin kekasihku nanti hadir kedalam hidupku dan mampu membuat diriku tak menderita lagi. Kubayangkan wajahnya yang tampan dan kulitnya yang bersih bagaikan pualam. Wajahnya yang sempurna terlihat di depan mataku, memandangiku dengan penuh cinta.
Bibirnya yang manis membentuk secercah senyuman, yang mencoba mendekatkannya ke bibirku, dan dia...
Kriiiingg....
"Sial,"
Suara jam weker mendering kencang saat matahari menampakan dirinya tepat pukul 06:00. Aku mendesah kesal dan segera mematikan suara yang menjengkelkan itu. Sejurus kemudian aku kembali menutupi tubuhku dengan selimut tebal bermotif wolf favoritku. Belum sempat tidur lagi terdengar suara seseorang memanggil namaku.
Satu detik aku sadar itu adalah suara ayahku.
"Aurora!" Teriak Eric, ayahku, dengan nadanya yang berat.
"Sudah pukul berapa ini, gadis pemalas!" Sambungnya jengkel. Sebenarnya ada satu sudut di hatiku yang tersinggung saat aku disebut gadis pemalas.
"Masih pagi, Dad! Aku mau tidur lagi."
Ucapku dengan mata belum terbuka dengan rambut pirang acak-acakan menyedihkan.
"Kalau kau tidak ingin aku melahap semua steak yang sudah dihidangkan di meja makan, cepatlah bangun dan rapikan dirimu!" Ancam Eric dengan membawa nama makanan kesukaanku. Aku memang suka steak. Jadi jika aku tidak bergegas untuk bangun aku bertaruh Eric akan menghabiskannya bersama Abigail, adik perempuanku, atau bahkan bisa memberikan separuhnya untuk makanan anjing peliharaannya. Lucu sekali.
"Oke, aku akan bangun, jadi jangan coba-coba kau sentuh steak bagianku, Dad. Kau dengar?" Ancam aku dengan segera bangkit dan langsung menyambar handuk untuk mandi.
"Orang tua pengganggu sialan," Gerutuku seraya masuk ke kamar mandi. Aku tak tahu apakah Eric mendengar celotehanku tadi atau dia sudah kembali ke ruang makan untuk menemui Abigail yang sedang melahap steak.
Sesudahnya membersihkan badan aku langsung pergi ke ruang makan dan terlihat ada Eric dan Abigail disana. Aku terkejut ketika melihat apa yang ada di atas meja makan. Dua piring putih kosong yang menyisakan sisa-sisa steak dan saus di atasnya.
"Dad!" Seruku dengan memelototinya.
"Ups, maaf sayang, adikmu ternyata terlalu lapar jika hanya menghabiskan steak bagiannya." Ucap Eric dengan nada hati-hati dan nyengir pada akhir kalimat.
"Abigail! Kau itu anak kecil, bagaimana bisa makhluk sekecilmu sanggup melahap dua piring steak sekaligus?" Omelanku kepada Abigail yang dari tadi cengar-cengir memasang wajah seolah tak berdosa.
"Aurora, tenanglah, lain kali kita bisa membelikan steak lebih banyak untukmu, atau kalau kau mau kita makan saja di resto, bagaimana?" Ucap Eric menenangkan.
"Tidak," Jawabku singkat.
"Oh tidak, Aurora, ayolah." Kata Eric dengan diiringi tawa.
"Lain kali saja. Aku harus pergi kuliah pagi ini. Aku tidak mau terlambat dalam mata pelajaran sejarah." Terangku kepada Eric dan langsung pergi tanpa makan apapun. Hei, aku ini gadis tangguh, kalau soal tidak sarapan bisa aku atasi dengan mudah.
Dalam perjalanan menuju kampusku, aku teringat dengan apa yang dimimpikanku semalam. Itu rasanya sangat...well, menyeramkan.
YOU ARE READING
Lover IN Shadow
FantasyAurora Falicia, seorang perempuan cantik berambut pirang yang tengah meratapi nasibnya yang menurut ia menjengkelkan. Dan suatu sisi ia dipertemukan dengan dua laki-laki paling tampan yang belum pernah dilihatnya. Namun kedua laki-laki itu bukan mer...
