We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PART : Malam Pertama

4.1K 324 23
                                        

Malam ini, adalah malam pertama baginya menginap di kediaman Diana dan Gilbert. Agak terasa aneh, sih, tidur di kamar yang bukan miliknya. Meskipun mengantuk, tapi matanya nggak bisa diajak tidur. Ia bangun dan beranjak dari tempat tidur, berniat untuk mengambil minum di dapur.

Saat pintu terbuka dan melangkahkan kakinya keluar kamar, langsung, badannya menabrak sesuatu. Bukannya menyakitkan, tapi ini terasa empuk.
Kepalanya seperti menghantam roti sobek. Paham, kan, apa itu?

"Maaf ... maaf ..." Ia terus meminta maaf tanpa menatap siapa yang ada dihadapannya saat ini.

"Gadis ceroboh," ujarnya dingin.

Lova yang tadinya hanya berfokus meminta maaf, merasa kaget. Suara itu sangat tak asing di pendengarannya. Hingga pandangannya mengarah pada sesosok laki-laki yang berdiri tepat dihadapannya.

"Pak Mirza!?" Kedua bola matanya seakan mau jatuh ke lantai layaknya sebuah kelereng.

"Hmm," balas laki-laki bernama Mirza itu sambil bersidekap dada dihadapan Lova. "Kenapa? Kamu kaget saya bisa ada di sini?"

Bukan kaget lagi, lebih ke shock akut malah. Bagaimana ceritanya Mirza bisa berada di kediaman Diana dan Gilbert?

"Kenapa Bapak ada di sini? Oo ... jangan-jangan Bapak mau maling, ya, di sini?" Spontan dong pikirannya langsung mengarah kensana. Lagian, kan heran kenapa Mirza nongol tiba-tiba.

"Aneh," ujar Mirza berlalu pergi tanpa mengindahkan ocehan Lova.

Tentu saja Lova tak bisa membiarkan itu terjadi. Gilbert dan Diana sudah baik padanya dan sekarang seorang maling hendak melakukan tindakan itu di rumah mereka? Oo ... tentu saja ia tak akan biarkan itu sampai terjadi.

Langsung ia menarik pergelangan tangan Mirza, membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap garang kearah Lova.

"Apalagi?!"

"Aku nggak akan ngebiarin maling berkeliaran di rumah ini! Dan juga, saya nggak nyangka ternyata Bapak seorang maling! Saya patah hati loh ini, Pak."

Ia kesal sekalian curhat. Kalau sampai seluruh siswi di sekolahnya tahu ternyata Guru yang mereka puja-puja aslinya seorang maling, bisa dipastikan kalau akan terjadi galau berjamaah yang akan dipimpin oleh dirinya langsung.

Mendengar tuduhan yang lagi-lagi menghampirinya, membuat rasa kesalnya juga ikut memuncak. "Tadi saya pikir otak kamu sedang mengalami pergeseran menuduh saya seperti itu. Tapi sekarang kamu bilang itu lagi. Maksud kamu apa mengatakan saya maling!?"

"Iyalah ... kalau bukan maling, ngapain Bapak ada di sini, di rumah orang malam-malam begini. Apalagi kalau bukan M-A-L-I-N-G." Ia seolah menekankan perkataannya pada kata 'maling'.

Mirza mencengkeram kedua pergelangan tangan Lova kearah belakang, kemudian mendorongnya hingga keduanya masuk kamar. Sampai di dalam, ia menendang pintu dengan kakinya dan membekap mulut gadis itu dengan posisinya yang tersudut ke dinding.

Jantung Lova berdetak lebih cepat. Kalau ia punya riwayat penyakit jantung, sepertinya saat ini ia akan langsung drop. Sikap Mirza padanya membuatnya takut saja. Tak hanya penampakannya yang menakutkan, sikapnya ternyata juga iya.

"Kamu bilang saya maling?" Mirza tersenyum sinis. "Kamu pikir saya gila, jadi maling di rumah sendiri?"

Mata Lova membola seketika saat mendengar pengakuan Mirza. Apa yang dia katakan barusan, rumah sendiri? Apa artinya Mirza adalah putranya Gilbert dan Diana.

"Jangan sok kaget," komentar Mirza saat melihat reaksi Lova.

Lova bereaksi agar Mirza segera melepaskan dirinya. Terutama mulutnya yang dia bekap.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 06 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Labyrinth Of LoveStories to obsess over. Discover now