Sebelum.

13 0 0
                                        

"Jadi gak nih?" Tanya Rianka kepada temannya akan perjanjian yang mereka buat minggu lalu untuk menelusuri rumah tua yang berada di pinggir kota.
Rianka gadis berumur 16 tahun yang masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Berkulit kuning langsat dengan rambut lurus yang panjang, berdarah jawa tepatnya berasal dari Jawa Tengah, Solo. Sekarang ia tinggal di kota Jakarta bersama ayah-nya tanpa ibu-nya yang baru saja meninggal 2 bulan yang lalu.
Kini Rianka sedang bersama teman sekolahnya, yaitu Devan, Clara, Geo, dan Arnold. Tepatnya mereka adalah sahabat sejak awal masuk SMA. Mereka sedang berkumpul di kedai kopi dekat sekolah mereka "Kedai Kopi Bu Nek" tempat nongkrong para siswa SMA Tunas Harapan.
Mendengar apa yang Rianka tanyakan, para sahabatnya terkejut karena Rianka masih mengingat janji yang mereka buat minggu lalu.
"Serius lu pada mau kesana?" Tanya Arnold sambil mengerutkan dahinya.
"ayolah kita harus uji nyali jangan bisanya uji kompetensi terus di kelas." Jawab Geo sambil menantang.
Mereka pun langsung menuju mobil berwarna hitam milik Devan. Clara duduk didepan bersama Devan yang mengendarai mobil sedangkan sahabatnya yang lain duduk di kursi belakang.
Perjalanan menuju rumah tua tersebut menghabiskan waktu 40 menit.

                                         ***

    Rumah tua tersebut sudah sangat terbengkalai. kaca jendela yang terdapat dirumah tersebut sudah banyak yang pecah. Cat rumah tersebut pun telah banyak yang terkelupas. Rumput dan ilalang tumbuh tinggi menghalangi jalan masuk menuju rumah tua itu.
    "Rianka.. lu berani masuk sini?" Tanya Clara dengan takut.
    "NGAPAIN TAKUT HELL NO!" Jawab Rianka tanpa rasa takut.
    Clara yang mendengar jawaban Rianka merasa kesal dan khawatir, ia pun memilih untuk tidak ikut masuk kedalam rumah tua tersebut. Clara berjalan masuk kedalam mobil dengan cepat. Sahabatnya membiarkan Clara masuk dan meninggalkannya sendiri di dalam mobil.
    Devan langsung membelah jalanan yang penuh rumput dan ilalang agar bisa masuk kedalam rumah dan diikuti oleh Geo, Rianka, dan Arnold.
    "Main-main ke rumah tua, seram-seram sekali" Arnold bernyanyi mengubah lirik lagu dari lagu naik-naik ke puncak gunung. Sahabat-sahabatnya yang mendengar tertawa, dan Rianka menepuk pundak Arnold. "Gak usah macam-macam deh nold." Tegur Rianka. Arnold langsung menghentikan apa yang ia lakukan tadi dan melanjutkan kegiatan mereka.
    Ketika mereka sudah tepat berada di depan pintu, Devan mencoba mendorong pintu tersebut. Kondisi pintu masih cukup bagus walau banyak sekali coretan-coretan pilox dan sarang laba-laba.
    "Andini love reza." Ucap Rianka yang membaca salah satu tulisan bekas pilox yang terdapat di pintu tersebut sambil tertawa.
    Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari jendela, yang membuat mereka kaget. Rianka menatap mata Geo dengan tajam sambil memegang tangan Geo. Devan saat itu mencoba mengalihkan apa yang terjadi saat itu. Devan langsung saja membuka pintu rumah tersebut. Pintu rumah tersebut  terbuka dan terlihatlah isi dalam rumah tua tersebut.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 28, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Tidak sendiriWhere stories live. Discover now