Ting…
Bel sekolah berbunyi, tanda kegiatan belajar akan segera dimulai. Seorang lelaki terlihat jalan dengan tergesa-gesa. Bagaimana bisa di hari pertama sekolah ia datang terlambat, hanya karena lupa bahwa hari ini adalah hari Senin.
Langkahnya terhenti sejenak di depan kelasnya, lalu berjalan menuju kursi yang berada di pojok kelas.
“Darimana aja lo?” tanya seorang perempuan yang duduk disebelahnya.
“Kesiangan," jawabnya singkat lalu menaruh tas dan duduk disamping gadis itu.
“Kok bisa?” tanya gadis itu kembali.
“Gue lupa kalo hari ini hari Senin," balasnya dengan santai.
Perempuan itu tertawa kecil, bagaimana bisa lelaki disebelahnya ini lupa.
Laura Callisha Putri. Dia wanita yang selalu bersama Rasyafa Putra, kapanpun, dan dimanapun. Bahkan sekarang mereka duduk bersama, tanpa ada rasa malu.
Mereka adalah dua orang sahabat yang telah bersahabat sejak masuk SMA, sejak gadis yang Rasya cintai dan sayangi pergi meninggalkannya entah kemana. Dan mereka selalu bersama disaat suka maupun duka.
Rasya lebih suka bepergian bersama Laura dibandingkan dengan teman laki-lakinya, karena disamping Laura, Rasya merasa tenang dan nyaman. Tetapi bukan berarti dia tidak memiliki teman lelaki, ia hanya akan berkumpul dengan teman-temannya ketika ia suntuk, atau jika Laura tidak ada.
“Nanti pulang sekolah anter ke toko buku yuk,” ajak Laura sedikit merubah posisi duduknya.
“Emmm, boleh deh. Tapi ada syaratnya,”
“Apa?”
“Lo harus traktir gue makan!” pintanya.
“Ck, iya nanti gue traktir.” Kata Laura dengan malas lalu membuang muka.
Tak lama kemudian Bu Sarah, guru Matematika sekaligus wali kelas masuk ke kelas dan membuat kelas seketika hening.
“Selamat pagi anak-anak.” Sapa Bu sarah sambil mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru kelas.
“Pagi,” jawab para murid dengan serentak.
“Kali ini kita kedatangan murid baru, dia baru saja pindah dari Bandung, dan sekarang ia melanjutkan sekolahnya disini.” Lanjut Bu Sarah. Kelas pun menjadi riuh, menebak-nebak murid baru yang akan masuk.
“Dimohon tenang, silahkan masuk nak,” Bu Sarah mempersilahkan.
Sosok wanita dengan rambut hitam panjangnya yang dibiarkan tergerai, pakaian rapih, dan tas berwarna merah muda yang terpasang di pundaknya berjalan perlahan memasuki kelas. Langkahnya terhenti di depan kelas, sorot matanya terlihat bersahabat.
“Perkenalkan nama saya Arana, biasa dipanggil Ara. Saya baru pindah karena tuntutan pekerjaan orang tua, semoga kita bisa berteman baik.” Ucap Ara memperkenalkan diri sambil tersenyum manis.
“Oke Ara, pelajaran akan segera dimulai, kau bisa duduk di sebelah Airin.” Ucap Bu Sarah sambil menunjuk bangku kosong yang berada di depan tempat Rasya dan Laura duduk.
“Baik, terima kasih Bu.”
Ara berjalan menuju tempat yang ditunjuk Bu Sarah. Saat hendak duduk, Ara menatap Laura dan Rasya yang sedang menatapnya, Laura tersenyum pada wanita itu, yang dibalas senyum juga. Sedangkan Rasya hanya menatap sekilas, dengan tatapan tidak peduli.
Pelajaran pun dimulai.
***
Ting...
Bel istirahat berbunyi, orang orang berlomba-lomba pergi ke kantin. Laura dan Rasya hendak ke kantin, tetapi langkahnya terhenti karna seseorang memanggil mereka.
“Boleh ga, aku istirahat bareng kalian?” Tanya Ara sambil menatap Laura dan Rasya secara bergantian.
“Boleh, yuk!” Ajak Laura.
Laura sudah tahu, jika Airin tidak pernah keluar kelas, bahkan dikelas pun dia jarang berbicara, maka tak heran jika dia selalu sendiri.
Laura, Rasya, dan Ara berjalan bersama di koridor sekolah. Banyak pasang mata dari beberapa siswa terlihat kagum pada Ara. Setibanya di kantin, mereka memilih duduk di pojok kantin.
“Kalian mau pesen apa?” Tanya Laura
“Kaya biasa,” Jawab Rasya singkat.
“Kalo kamu Ara?” Tanya Laura kembali sambil menatap Ara.
“Samain aja," balasnya.
“Oke deh, tunggu ya.” Laura pergi untuk memesan makanan. Kini tinggal Ara dan Rasya yang sedang sibuk dengan ponsel-nya masing-masing.
Hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Ara tidak suka dengan suasana seperti ini, ia pun akhirnya buka suara
“Kita belum kenalan,” kata Ara memulai pembicaraan.
“Kenalin, nama gue Ara, dan lo?” Lanjutnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
“Rasya.” Jawab Rasya datar, ia masih sibuk dengan ponselnya dan Ara tersenyum canggung sambil menarik uluran tangannya.
“Perempuan tadi?”
“Laura"
Keadaan pun kembali canggung, sungguh Ara tidak suka dengan keadaan ini.
“Kalian… pacaran?” tanya Ara sedikit ragu.
“Enggak.” Rasya hanya menjawab singkat, karna ia tidak suka berbasa basi dengan orang baru. Ara hanya ber-oh ria. Tak lama Laura datang dengan nampan yang berisi makanan dan minuman mereka.
“Kamu suka kan sama bakso?” tanya Laura memastikan, takut- takut jika Ara tidak menyukainya.
“Suka kok, malah ini makanan favorit aku,” jawab Ara sambil tersenyum.
“Okelah,”
Hening. Mereka sibuk dengan makanan masing-masing.
“Tumben lo diem aja?” tanya Laura tiba-tiba pada Rasya yang sedang menyedot es teh manis.
“Gapapa,” jawabnya singkat.
Laura yang sudah hafal sikap Rasya pun tidak menanggapinya.
Selesai makan mereka pun kembali ke kelas, saat di perjalanan tiba tiba ada seorang lelaki menuju arah mereka dan memberi tahu bahwa Ara dipanggil oleh guru BK. Lalu Ara pun berpamitan pada Laura dan Rasya.
Sesampainya dikelas, mereka pun duduk di bangku mereka.
“Ra,” panggil Rasya pada Laura
“Apa?” jawab Laura sambil fokus pada ponselnya.
“Gajadi deh,” katanya datar.
“Dih aneh.” Kata Laura sambil menggangkat sebelah alisnya.
Ara pun kembali, dengan senyumannya.
“Udah? Disuruh apa?” Tanya Laura yang menghampiri Ara.
“Disuruh isi biodata,” Laura hanya mengangguk saja.
***
DON'T FORGET TO VOTE+COMMENT+SHARE
ESTÁS LEYENDO
REGRET
Novela JuvenilKehidupan yang awalnya tenang, berubah menjadi rangkaian-rangkaian masalah yang rumit, mengajarkan kita betapa sulitnya membangun kepercayaan dan merasakan betapa kejamnya kehidupan ini. Ketika penyesalan datang, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Da...
