TINGGI DI ATAS puncak Gunung, seorang anak muda tertawa dan berseru ke bawah kepada seorang lelaki. " Uzi, cepatlah ! Aku tahu aku semestinya aku tidaklah disini ! " Senyum laki-laki itu begitu berseri.
Uzi berjuang untuk mengimbanginya, tapi tungkai kakinya seperti terpaku. " Tunggu, " pintanya. "Kumohon...."
Ketika lelaki itu berusaha mendaki, pandangannya mulai mengabur. Dia seperti mendengar suara-suara di telinganya. Aku harus menangkap anak itu! Tapi ketika dia mendongkak lagi, Anak itu telah menghilang. Di tempat di mana anak itu sebelumnya berada, berdiri seorang lelaki tua dengan baju hitam pekat. Lelaki tua itu menatap kebawah, dan tersenyum penuh kesedihan. Kemudian dia menjerit keras penuh penderitaan sehingga menggema ke seluruh padang savana.
Uzi tersentak bangun dari mimpi buruknya. Handphone di samping tempat tidurnya berdering. Dengan mata berkunang-kunang ia membaca sebuah pesan yang masuk dari Sri temannya ke handphonenya.
Uzi duduk tegak di atas tempat tidurnya dan mencoba menjernihkan pikirannya. Dia menyipitkan matanya ketika menatap jam analognya. Pukul 17.38 sore.
" P ( 3 kali ) tanda salam jaman sekarang. Ayo ikut ke lawu. "
" Kapan ?"
" Minggu sekarang berangkatnya !, lu satu shift ( jam kerja ) sama gue kan. Kurang satu orang nih"
" Anjay, dadakan amat "
" Iya serius, 5 orang soalnya nih. Kan gaboleh ganjil ."
Ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Salahsatu risiko menjadi pendaki adalah sebuah kewaswasan akan mitos yang beredar dan ingin agar ia membenarkan keyakinan mereka.
Teman-teman uzi selalu menganggapnya sebagai orang yang agak membingungkan-seorang yang terperangkap di antara cinta dan kesepian. Pada akhir pekan lalu uzi sering terlihat berdiskusi tentang gunung lawu dan mitosnya. Kendati demikian dia tetap santuy dalam keadaan apapun.
Rencananya Uzi, Sri, Acid, Ari, Jek, dan widi, mereka berlima akan mendaki bersama ke gunung lawu yang terkenal dengan segudang misteri. Awalnya uzi ragu, apakah bisa dia mendaki gunung yang paling ia takuti tersebut, bahkan sebelumnya pernah ada orang hilang yang belum ditemukan hingga saat ini, kendati demikian ia sedikit bersyukur karena jalur yang akan ia lewati adalah jalur Cemoro Sewo, yaitu jalur yang berbeda saat ada pendaki yang hilang di gunung tersebut.
Dua hari sebelum pemberangkatan, Widi dan Jek membatalkan pendakian, dengan alasan masing-masing, pendakian Gunung Lawu sempat akan tertunda namun apa daya, tiket telah dibayarkan sehingga Uzi, Sri, Acid, dan Ari harus tetap melanjutkan perjalanan ke Gunung Lawu.
Pukul 7.30 malam kami berangkat menggunakan bus Laju Prima tujuan Solo, selama perjalanan kami nikmati dengan tidur nyenyak. "Brrrr-brrrr" suara orang tidur yang sangat kencang membuat uzi terkaget terheran-heran, suhu di bus juga membuat uzi tak bisa untuk tidur kembali, karena Ac yang sangat dingin, sedingin hati dia yang lagi sendiri.
Sekitar pukul 4.02 pagi kami sampai di terminal Tirtonadi Kota Solo, ketika kami berjalan ada hal aneh yang uzi rasakan, seperti ada orang yang memperhatikannya. Setiap gerak geriknya selalu seperti diperhatikan. Suasana mulai hening dan tiba-tiba,
" Mau mendaki kemana ?", ternyata agen rahasia carter mobil yang membuntuti kami.
" Mau ke Gunung Lawu Pak, via Cemoro Sewu "
" Lewat Candi Cetho saja naiknya udah lebih tinggi daripada Cemoro Sewu, harganya juga sama "
Betapa terperanganya Uzi saat mendengar bahwa tujuannya beralih ke Candi Cetho yang dimana jalur tersebut adalah jalur yang ia takuti. Sesaat dia merasa sangat kebingungan. Dengan perlahan matanya menatap ke arah lampu merah yang berkedip di mobil bus yang ia lihat. Kemudian dengan gemetar, dia berjalan secara perlahan tanpa bicara kepada siapapun.
Uzi kembali menatap lampu yang berkedip di dalam mesin ATM di dekatnya dan merasa sebuah kejadian yang tak terduga kembali dia saksikan. Dia lalu menatap kosong ke arah pintu gerbang terminal. Tanda-tanda fajar menyingsing mulai tampak dari sela-sela pintu gerbang, tapi pemandangan itu tampak berbeda pagi ini. Dengan perasaan takut dan gembira yang campur aduk di dalam dirinya, Uzi tahu dia tidak punya pilihan.
" Katakan di mana aku dapat menemukan mobilmu itu ."
YOU ARE READING
Teror Malam 1 Suro Gunung Lawu
HorrorBerjalan di pasar setan, pertemuan sang Legenda, Alunan gamelan dan 24 jam kemudian hampir kehilangan nyawanya, di Gunung Lawu
