prolog.

57 3 0
                                        

Benci adalah satu kata yang didasari oleh beberapa hal. Dan hal tersebut mungkin hanya sepele.


👭

Syntana keira arletta.
Syndiana keira arletta.

Sama sama perempuan, sama sama cantik, sama sama bernafas.

.

.

.

Matahari yang bersinar cerah memancarkan sinar dan panasnya, panas yang sampai menusuk hati saudari perempuan yang memiliki wajah seperti potokopi. Dua gadis yang masih menggunakan baju putih abu abu ya.

"Dasar babi!" Teriak gadis cantik yang memakai bando di kepalanya.

"Dasar onta!" Balas gadis yang mencepol rambutnya dengan asal asallan.

"Dasar nenek sihir!" Teriak gadis dengan pakaian yang sangat rapi.

"Dasar nenek gayung!" Balas gadis yang melipat seragam di bagian lengannya.

"Pingguin!"

"Berang-berang!"

"Komodo!"

"Gorila!"

"Gue benci sama Lo!"

"Gue lebih benci sebenci bencinya sama Lo!"

Setelah perdebatan yang cukup membuat hati mereka panas, mereka berjalan bersama tapi berlawanan arah.

Synta pov

Holla kenalin nama gw
Syntana keira arletta kalian boleh panggil gue synta, gue anak dari ayah terganteng di bumi ini namanya Firmansyah dan bunda gue, bunda paling cauantik namanya arletta, gue punya kakak yang ngak kalah gantengnya sama kakak kakak di cerita sebelah,namanya Bara Abimanyu Firmansyah.
gue punya wajah cantik dan kata orang orang sifat gw itu feminim, cerewet, mudah bergaul, tp sayang otak gw dibawah rata rata dan gara gara otak cantik gue ini gue sering di bandinggin sama kembaran gw.

dia

Syndiana keira arltta
biasa di panggil syndi,berwajah sama kaya gue cantik tetapi sikap dan sifatnya yang 180° berkebalikan dengan gue.
Judes, sombong, sadis, pemarah, suka berantem, dan gue ngerasa perubahan sikapnya karena kejadian itu.

Gue sama dia cuman beda 4 menit, enggak 5 menit loo.
Dan di cerita ini syndi yang jadi kakaknya, gue kelas 1 SMA,di SMA Garuda.
Syndi juga sama kelas 1 SMA tp kita beda kelas, syndi juga sekolah di SMA garuda.
Dan kebetulan bokap yang punya sekolah itu.

ok balik kecerita.

"Synta, Syndi bangun udah sinyang!" Teriak wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.

"Belum pada Bagun Bun?" taya bang Bara.

"Belum." jawab bunda yang masih sibuk memasak masakannya.

"Ya udah biar Bara aja yang bangunin."

Bara menaiki tangga menuju lantai dua rumah keluarga Firmansyah, rumah besar bercat putih abu abu tersebut tampak menenangkan.

Bara berhenti di depan pintu bercat hitan,dan di pintu tersebut terdapat tulisan yang menempel "masuk ngak ijin Bogeman menanti". Bara lasung masuk walau dia nanti harus menanggung risikonya.

"Syndi bangun udah jam 6." Bara menaiki kasur king size milik Syndi menarik selimut hitam polosnya dan menggoyang goyangkan badannya.

"Apa?" Karena ulah kakaknya Syndi harus tertarik ke alam sadarnya meninggalkan alam mimpinya.

"Bangun udah jam 6."

"Hm." syndi lasung berjalan kearah kamar mandinya.

Bara hanya tersenyum kecut melihat sikap dingin Syndi, Bara berjalan ke luar dan menuju pintu bercat putih dan terdapat tulisan "bidadari cantik" Bara memasuki kamar dengan dekorasi serba berwarna pink itu, Bara melihat adik keduanya yang masih terbalut selimut pink tebalya.  Bara berjalan kearah meja tata rias dan menggambil sesuatu, Bara menaiki kasur king size milik synta dengan perlahan-lahan.

Setelah duduk dengan posisi yang terbilang aman bara mulai menyalurkan bakat melukisnya ke wajah sang adik, setelah puas Bara berjalan keluar, sebelum berjalan keluar Bara juga membangunkan synta

"Synta, bangun udah jam 6."

"Agghh." terdengar suara erangan dari synta, synta membuka matanya dan berjalan kearah kamar mandinya.

Setelah memastikan synta berjalan ke kamar mandi bara turun pergi kemeja makan.

Setelah masuk ke kamar mandi dan menguncinya samar samar dia melihat wajahnya di cermin.

"Aaaaaaaaahhhhhhh, huaaaaaaaaaaaaa, bang baraaaaaa!!!!!!!" synta sangat terkejut melihat wajahnya menjadi bahan percobaan melukis Bara.

Sedangkan bara yang mendengar teriakan Synta hanya terkekeh.

Sekitar dua puluh menit dua pintu yang bersebelahan terbuka secara bersamaan.

Cekrekk. (Anggap suara pintu dibuka)

"Apa Lo liat liat, gue tau gue cantik."

"Ih gr amat, muka kayang dugung gitu di bangga in"

"Apa Lo bilang?" Synta melototkan matanya menatap sang kakak.

"Apa."

"Apa."

"Lo iri kan sama kecantikan gue."

"Ngarep!"

"Jujur aja kali."

"Cih."

Dari meja makan Bara dan boyok Syndi dan Synta hanya geleng geleng mendengar perdebatan kedua putrinya.

"Apa Lo."

"Apa?, tu mata bisa ngak di jaga! "

"Suka suka gue lah mau gue liat apa aj-"

"Stop,kalian ini ngak bisa apa akur." Lerai firman yang sudah tak tahan mendengar ocehan putrinya.

"Ngak."ucap cynta dan sindy bersamaan.

"Udah udah sekarang kalian makan!"

Synta tak henti hentinya menatap Bara dengan tatapan sinis.

"Dek,ngapain liat gue gitu?"
"Gue tau gue ganteng." Ucap bara sambil menyisir jambul nya menggunakan jari tangannya.

Synta hanya memutar bola matanya jengah dan memilih melanjutkan sarapan paginya.

"Kalian nanti jangan bikin ulah, khususnya kamu cynta harus dapet nilai minimal 70 bukanya 30 Mulu, lihat tu Syndi!"

"Syndi lagi syndi lagi, neg gue dengernya." Suara batin synta.

Synta hanya menundukkan kepala  dan memilih berangkat sekolah.

"Gue berangkat."

"Dasar baru di kasih tau malah pergi."

"Udah yah ini udah telat biarin."

Synta membelah jalanan kota dengan mobil merah menyala ya dg kecepatan tinggi.

Sudah biasa baginya melakukan hal  ini.

The TwinsWhere stories live. Discover now