1 Januari 2006
Hari ini, aku, menulis semua kenangan yang masih tersisa darimu, Kekasih ku.
Apa kabar kau disana? Aku menulis ini dihalaman belakang rumahku. Aku sendiri. Selepas kau pergi, hatiku ikut pergi, terbawa olehmu.
Boleh aku sedikit mengingat tentang mu? Tak ada alasan khusus, aku hanya rindu.
Jadi sore ini, saat sedikit kabut dan suara bising tanaman yang bergesekan, aku menulis tentangmu. Semua tentangmu.
Aku masih ingat hari itu.
Di halaman rumahku, kita masih bermain bersama kala kita masih kanak-kanak.
Tertawa, bersenda gurau, bahkan menangis pun kita bersama.
Aku masih ingat hari itu.
Saat kita sudah mulai memasuki masa remaja.
Negara yang awalnya damai, mulai menjadi tempat yang kurang nyaman.
Kau ingat? Aku terus meminta disampingmu saat para orang tua pergi untuk melihat situasi.
Aku ketakutan, tapi kau selalu ada untuk memelukku dan berkata semua akan baik saja. Aku nyaman.
Aku ingat hari itu.
Kau yang mengatakan bahwa perasaanmu lebih dari seorang sahabat. Aku tak tahu apa itu salah, yang aku tahu, perasaan ku sama denganmu.
Aku ingat hari itu.
Untuk pertama kalinya kita berpisah lama. Aku yang memang tak begitu sehat sedari kecil tak dapat ikut denganmu untuk pelatihan. Aku sendiri. Sunyi. Sepi. Tanpamu. Kau tak pernah pulang hingga enam bulan. Saat akhirnya kita bertemu, aku memelukmu begitu erat.
Aku ingat hari itu.
Saat negara benar-benar kacau dan semua warga desa harus pindah. Tapi tidak dengan beberapa pemuda, termasuk kau. Mereka bilang kau harus berangkat untuk membela negara. Tapi kemana? Kau bahkan tak memberitahuku.
Aku ingat hari itu. Saat senja mulai turun, didepan pintu gerbong kereta api dengan uap tebal, kau menangis menahanku untuk tidak pergi. Tapi aku harus. Untuk pertama kalinya kau menunjukkan sisi lemahmu dihadapkan ku. Kau berkata kau takut kehilangan ku. Kau takut aku sendiri. Kau takut, bahwa nanti kau tak dapat kembali padaku. Aku memelukmu erat. Berusaha menenangkan mu. Kau berjanji akan segera kembali ketika semuanya selesai. Ketika semuanya sudah aman. Kau berjanji akan menjemputku pulang. Tapi sampai hari ini, kau bahkan tak pernah muncul didepan ku.
Aku ingat hari itu.
Ketika keadaan negara berangsur membaik. Aku menunggumu. Setiap hari. Tapi ibu menyuruhku untuk tak lagi menunggumu. Saat itu, aku tak tahu maksudnya.
Sampai akhirnya aku tahu, namamu ada didaftar prajurit yang gugur dalam perang.
Hancur.
Luka.
Pedih.
Aku saat itu.
Hitam.
Kosong.
Dingin.
Hatiku saat itu.
Kau, bukankah setahun sebelumnya kau berjanji akan menjemput ku?
Kau berjanji untuk menghabiskan waktu tua denganku.
Tapi hari ini, dihari senjaku, begitu ku lewati tanpa bisik suaramu.
Tanpa ada senyum merekahmu seperti limapuluh tahun yang lalu.
Aku rindu.
Kini aku sendiri. Aku tak pernah bisa melepas bayangmu. Sudah ku coba, tapi tak bisa.
Kim Namjoon, kekasih ku, maukah kau menunggu ku di surga? Tak lama. Aku tahu tuhan sudah lelah mendengarkanmu yang terus meminta ku untuk menemanimu. Maka aku akan bersamamu, sebentar lagi.
Tunggu aku, kekasih ku.
-Kim Seokjin-
YOU ARE READING
Time [ NamJin ]
Fanfiction"Hari itu, senja ditahun 1952, saat kau menangis menahanku pergi dimuka pintu kereta api. Berjanji akan menjemput ku pulang suatu hari nanti. Namun, bahkan setelah sang kematian datang, kau tak lantas menjemput ku, Kim Namjoon." "Hari itu, ditahun 1...
![Time [ NamJin ]](https://img.wattpad.com/cover/199778236-64-k96379.jpg)