Kalut

2 0 0
                                        

Di luar gelap semakin pekat. Bintang dan bulan bersembunyi di awan yang gelap. Sesekali suara binatang malam memecah kesunyian.

Gelisah, menatap jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul 21.30 WIB. Sudah cukup malam. Biasanya paling lambat selepas magrib Ia sudah datang. Cemas aku mondar-mandir melihat anak-anak yang tertidur lelap di kamar, lalu kembali ke ruang tamu.  Duduk dengan gelisah sembari menatap pintu berharap sosoknya segera muncul.

Tok! Tok! Tok!

Suara pintu mengejutkanku, tergesa aku membukanya, tapi ternyata bukan suami yang sedang kutunggu.

Wanita itu masuk begitu saja sebelum aku persilakan, duduk dengan angkuh. Mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.

"Mana suamimu?"

Aku yang masih terpaku di depan pintu, tersentak mendengar pertanyaan wanita itu.
Aku melangkah pelan, duduk di depannya. Matanya tajam menatapku.

"Kau harus memenuhi janjimu. Kau bilang tak mau makan uang haramku. Kau tahu bukan aturannya."

"Iya, aku mengerti. Tapi Mas Yudi belum datang. Malam ini juga akan aku minta Mas Yudi mengantarkan ke rumah, begitu Ia datang nanti," jawabku.

"Ini sudah jam 9, apa kau yakin dia pulang malam ini?"

Aku menggeleng pelan,  menatap keluar.

"Pak Karyo, sini masuk!"

Wanita itu ternyata tak sendiri. Ia membawa orang kepercayaannya.

"Pak, angkut kasur yang kemarin kau bawa."

Lelaki tua itu menatapku ragu.

"Kenapa diam saja?kau mau aku pecat?"

Wanita itu menatap tajam. Matanya merah menyala seakan ingin melahapku.

"Tunggu! Aku akan memindahkan anak-anakku. Setelah itu silakan dibawa kasur dan tempat tidur itu."

Aku beranjak ke kamar anak-anak. Satu persatu kupindahkan anak-anak ke kamarku tanpa membangunkan mereka. Kubelai rambut mereka, meminta maaf.

"Silakan Pak Karyo. Anda bisa ambil semua yang ada di kamar".

"Maaf ya mba. Saya hanya diperintah."

Aku mengangguk. Memberi jalan untuk Pak karyo melakukan tugasnya. Diangkutnya semua, kasur, tempat tidur,  lemari. Aku pasrah. Dada ini mendadak terasa sesak. Sekuat tenaga kutahan air mata ini tumpah.

"Kau boleh ambil lagi semua. Setelah kau lunasi hutangmu besok. Tanpa bunga," ujar wanita itu.

Kemudian wanita itu pergi begitu saja. Tak dipedulikannya aku yang memelas. Air mataku akhirnya tumpah tak terbendung. Aku terisak lirih sembari membekap mulut supaya tangisku tak terdengar. Aku luruh di sudut ruangan. Gemetar menahan tangis dan sesak. Tak menyangka wanita itu tega melakukannya pada darah dagingnya.

Kupikir sakit hatinya padaku berkurang ketika menyaksikan kelucuan anak-anakku. Ia akan memaafkan aku karena kelancanganku pernah menegurnya. Aku hanya ingin kebaikan untuknya. Rasanya menyakitkan ketika orang yang paling aku sayangi melakukan sesuatu yang dilarang agama. Masih ingat jelas wajahnya yang memerah ketika aku menasehatinya.

"Jangan lancang kau! Kau pikir uang dari mana yang selama ini kau makan? Kau pikir cukup gaji bapakmu untuk makan? Kalau kau tidak suka. Kau boleh pergi. Kau jangan pernah lagi meminta uang padaku!"

"Baik. Aku tidak akan minta uang Mama lagi. Aku juga tidak akan makan di rumah ini. Sampai Mama berhenti jadi rentenir. Haram buatku makan uang riba. Tapi aku tidak akan pergi dari rumah,"tegasku.

Di depan pintu, Bapak berdiri. Matanya basah menatapku. Sejak itu aku mulai bekerja sepulang sekolah. Membiayai hidupku sendiri. Sesekali Bapak diam-diam menyelipkan uang di tanganku.

"Cukup Bapak kehilangan Kakakmu. Jangan lagi. Tetaplah di sini. Sadarkan Mama. Doakan Ia di setiap sholatmu," pinta Bapak waktu itu. Maka aku terus bertahan dengan segala kebencian Mama kepadaku. Sampai kemudian Bapak meninggalkan kami. Lalu laki-laki itu datang,  membawaku keluar dari rumah itu.

Di luar langit hitam masih  menggelayut. Udara dingin menerobos masuk dari pintu depan yang masih belum kututup. Aku masih terisak. Dadaku makin sesak mengingat perjumpaan dengan Ka Aida, kakakku.

"Aku harus mencari uang yang banyak walau harus melacurkan diri. Supaya Mama berhenti mengeluh." Wajah cantik tanpa senyum itu menatap kosong.

Ah, Mama. Apa hanya uang yang bisa membahagiakanmu? Tak peduli kehidupan anakmu rusak. Mana rasa kasihmu? Bukankah seorang ibu harusnya punya rasa kasih sayang yang besar untuk anak-anaknya?

Aku bangkit, mengusap air mata lalu menutup pintu rapat. Tekadku, akan aku ajarkan bagaimana bahagia sebenarnya. Bukan harta yang akan jadi ukuran. Lihat Ma,  uang bukan segalanya. Aku akan memberikan makan dan keperluan anak-anak dari uang yang halal. Supaya nanti Mama bisa membedakan,  harta yang berkah dan yang haram.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 03, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Catatan AliyaStories to obsess over. Discover now