Bukan Itu

71 1 0
                                        

"Nggar nanti istirahat maen ya, diajakin sparing nih sama anak kelas XII IPS 3. Mereka mau balesdendam kayanya haha", kata Johan. "Iya selo, makan dulu gak ya?", tanya Henggar. "Ah lama, lagian nanti muntah njir kalo makan dulu", sergah Johan. "Iyaiya santai aja mas", jawab Henggar. "Yaudah nanti gue mau balikin buku bentar ke kelas Dita", tambah Henggar. "Oke, dari situ langsung ke lapangan aja ya", pinta Johan. "Siap bos", jawab Henggar. Henggar Pradana dan Johan Arifin adalah siswa kelas X IPS 4 SMA Pelangi. Kelas mereka adalah yang terbaik seangkatan untuk urusan futsal, tidak heran kelas mereka sering menjadi sasaran bagi kakak kelas mereka. Tak jarang sparingan di lapangan sekolah sering ditambahi bumbu "taruhan" sebagai prestige tambahan apabila mereka bisa menang. Namun tak jarang pula para kakak kelas sering berbuat curang kepada adik kelasnya dengan cara mengintimidasi mereka baik dari dalam lapangan maupun dari luar lapangan dengan cara menyoraki adik kelas yang bermain.

Bel istirahat berbunyi. Henggar bergegas mengembalikan buku ke kelas Dita. Sudah setengah jalan, ia baru ingat jika bukunya tidak dibawa. Ia pun berlari kembali ke kelasnya untuk mengambil buku di tasnya. "Si Bambang ngapa bukunya gak kebawa", gerutu Henggar dalam hati. Sampai kelas ia mencari bukunya Dita di tasnya. "Duh perasaan sebelom berangkat tadi udah gue masukin tas deh", ucap Henggar sambil mengeluarkan seluruh isi tasnya. "Mampus inimah", gerutu Henggar. Henggar lalu ke kelas Dita dengan harapan pacarnya itu memaafkan dia karena lupa membawa bukunya. Sampai di kelas Dita ia melihat Dita sedang mengobrol dengan Sila teman sebangkunya. "Hay Sil", sapa Henggar. Sila mengangguk. "Dit aku lupa bawa buku kamu, perasaan sebelum berangkat tadi udah aku masukin tas deh, aku yakin banget kok, tapi bukunya gak ada di tas", kata Henggar. "Trus kemana bukunya? Dimakan kodok? Kamu tuh kebiasaan deh suka gak dicek lagi", kata Dita dengan nada ketus. "Iya maaf, tapi seinget aku udah dimasukin tas kok", bela Henggar. "Trus mana? Kamu masukinnya ke tasnya Pak Pono kali", kata Dita masih dengan nada ketus. Pak Pono adalah supir mamanya Henggar. "Kok gitu sih, aku serius", kata Henggar dengan nada memelas. "Aku juga serius, kamu tau nanti buku itu mau aku pake buat ngerjain jurnal mingguan Pak Hata? Kamu tau kan rese nya Pak Hata gimana kalo muridnya gabawa buku jurnal itu? Yaudah mau digimanain lagi", kata Dita. "Maaf Dit, yaudah bukunya aku minta anter orang rumah deh kesini ya?", kata Henggar berusaha menenangkan Dita. "Gausah, ntar dikira aku ngerepotin. Harusnya tuh kaya gini-gini gausah dibikin repot, makanya kamu tuh.. bla...bla...blaa", Henggar semakin tidak fokus mendengar omelan Dita yang seakan tidak berhenti. "Udah? Kalo udah aku mau ke kantin beli makan. Yuk Sil", Dita mengajak Sila pergi. Dita dan Sila meninggalkan Henggar. "Bye Nggar", ucap Sila berusaha mencairkan suasana. "Yo", ucap Henggar lemas. Ya begitulah keadaan hubungan Henggar dan Dita. Belakangan ini mereka sering bertengkar karena hal-hal sepele. Tidak seindah masa PDKT, Henggar merasa Dita semakin kesini semakin sensitif, sebaliknya Dita merasa Henggar selalu menyepelekan segala sesuatu, dengan kata lain Dita merasa Henggar kurang berkomitmen setiap melakukan sesuatu. Serumit itu kah pacaran jaman SMA pikir Henggar.

Di lapangan Henggar bermain dengan tidak fokus. Ia sering kehilangan bola dan timnya dikalahkan dengan skor 5-1. Selesai bermain kakak kelas mereka meledek mereka, "Yah yang begini mau main di Arena Futsal, mau jadi bulan-bulanan. Hahahahaha", ucap Anton, salah satu anak kelas XII IPS 3 yang cukup ditakuti karena mukanya yang memiliki codet di pipinya. Konon katanya, codet itu didapat akibat kecelakaan motor ketika ia masih kelas X. Konon katanya pula ia sempat pingsan cukup lama saat kecelakaan karena tidak ada yang menolongnya. Versi lainnya, itu bukan pingsan melainkan ia ketiduran sambil posisi motor menimpa dirinya. Ya gosip-gosip di sekolah memang suka terdengar aneh, entah untuk lucu-lucuan atau memang begitu adanya. Anton sering diledek anak- anak angkatannya jika sekali lagi ia dapat codet di tempat yang sama dengan posisi yang berlawanan ia akan dipanggil Batosai, karakter utama di kartun Samurai X. Kembali ke lapangan, anak-anak kelas X IPS 4 yang bermain hanya diam tidak membalas ocehan Anton.

Di kelas, anak-anak mempertanyakan permainan Henggar yang jelek. Johan sebagai teman dekat Henggar berusaha membela temannya itu. "Udah udah, anggap aja kita impas menang sekali kalah sekali", bela Johan. "Tapi kan bacotnya Codet itu malesin", gerutu Putra. Codet adalah nama lain Anton di sekolah. "Gapapa, toh kalo kita menang lagi mereka pasti ngajakin sparing lagi, terus aja gitu gaabis-abis sampe Korea Utara ama Korea Selatan damai kita lawan mereka terus", bela Johan. "Sorry sorry barusan gue gak fokus mainnya", Henggar minta maaf.

################################

Malam hari di rumah Henggar galau karena chatnya tidak dibalas, dan teleponnya tidak diangkat oleh Dita. "Bodo deh", ucap Henggar. Iseng melihat status di Whatsapp, ia melihat postingan Reva mantan pacarnya saat SMP. "Udah bisa dandan makin cakep aja", ucap Henggar dalam hati. Ia pun mengomentari postingan itu dengan kalimat "Selamat malam, pipi karet". Henggar sering memanggil mantannya itu dengan panggilan pipi karet karena pipinya Reva yang chubby dan sering ia cubiti. "Duh gue ngapain sih", Henggar langsung meng close chatnya ke Reva. Tidak lama berselang, Reva ternyata membalas chatnya Henggar. "Apa perut karet?", balas Reva. Ya jika Henggar memanggil Reva 'Pipi Karet' maka Reva memanggil Henggar 'Perut Karet' karena ketika SMP Henggar adalah anak yang gendut tidak seperti sekarang. Pubertas memang suka menghasilkan sesuatu yang tak terduga. "Aku udah ngga gendut tau", bela Henggar. Mereka pun lanjut chattingan hingga larut malam.

#################################

Keesokan harinya menjelang bel istirahat Henggar ternyata masih lanjut chattingan dengan Reva. "Semalem kamu jago banget, aku suka haha", ketik Henggar. "Biasa aja aku masih cupu haha", balas Reva. "Cupu apaan, aku ketagihan, nanti malem lagi yuk", pinta Henggar. "Yakin? Kuat ngga? Aku mah ayo aja haha", tantang Reva. "Siapa takut, sampe jam 3 lagi juga aku ladenin, enak sih sama kamu mah haha", balas Henggar. "Yaudah ayo", jawab Reva. Dito teman sebangku Henggar ternyata daritadi mengintip isi chattingan Henggar dengan Reva. "Dasar kampret, siang-siang chattingan cabul gitu", hardik Dito. "Yah namanya juga rejeki, si anjir pake ngintipin segala", kata Henggar sambil memiringkan HP nya agar tidak dilihat Dito. "Gila gila anak mana tuh Reva? Abis ngapain lo sama dia? Bae-bae dosa, ibadah lo 70 taun ga diterima", ucap Dito. "40 taun Dit salah lo, dan yauda sih, dia nya juga mau masa gue tolak", bela Henggar. Henggar pun meninggalkan Dito ke kantin. Dalam benak Dito ia mengira jika Henggar sudah melakukan ML dengan Reva yang sekilas ia lihat profile picturenya barusan adalah cewek yang cukup cantik dan ia merasa iri bagaimana cara Henggar bisa melakukan itu dengan cewek yang cantik. Di perjalanan ke kantin, Henggar merasa bangga sekaligus lucu karena sudah membodohi Dito. Ia merasa bangga karena dikira sudah pernah melakukan 'itu' dengan cewek dan bukan pacarnya, di sisi lain ia merasa lucu karena 'itu' yang dimaksud sesungguhnya bukan ML (Making Love) melainkan mabar game PUBG. Iya, semalam Henggar dan Reva bermain PUBG sampai jam 3 pagi. Reva ternyata lebih jago dari Henggar, makanya ia ketagihan mabar sama Reva. Iya, sesaat dia merasa senang karena sudah membodohi temannya, tapi ia lupa masih punya satu masalah lagi. Ia lupa jika pacarnya, Dita masih mengacuhkan dirinya dan mereka belum berbaikan.


END

Baskomkimchi

Bukan ItuWhere stories live. Discover now