PROLOG

62 4 0
                                        

👧~Ara

Aku tak akan menyalahkan hari itu, Boolan. Aku juga tak akan menyalahkan kebodohanku untuk bicara denganmu pertama kali.

Aku tak menyesal, telah membiarkan jari jemari membuat ukiran senyuman di malam pertama kami berdiskusi..

Materi apa yang membuat kita bisa sedekat ini? Ataukah diri kita masing masing yang tidak menolak untuk saling bertemu lebih sering lagi?

Biarlah semua itu terjadi.. Semua takdir Tuhan yang membuat kita tertawa bersama di malam hari. Yang menyatukan langkah kaki menjadi satu frekuensi. Yang membuat pikiran kita berada dalam satu lorong intuisi. Dan hati kita.... 

Bagaimana dengan hati? Kurasa hati kita kembali pada masa yang telah dilalui. Yang sudah kau pilih sebelum kamu berada di garis ini, Garisku.  Dan hatiku masih tetap sama. Kosong, tak berpenghuni. Mungkin Tuhan terlalu mencintai, hingga yang seharusnya mengisi malah pergi atau kembali, pada rumah mereka yang telah lama berdiri, atau baru ingin dihuni..

Bisakah kita bicara tanpa membahas soal mencintai? Kamu dan aku rasanya tak perlu peduli. Biarkan aku, dan kamu menikmati malam ini..

Hingga satu hari dimana aku harus melepasmu pergi, lebih tepatnya kembali.. Kembali pada masa lalu yang terus menanti.. 

Dan aku, sendiri lagi..

Secarik surat kutulis dalam diary ungu kesayanganku. Surat surat yang tak pernah sampai pada tujuannya. Yang akan selalu menjadi rahasia hatiku, yang tak akan pernah tersuarakan oleh kata yang terucap dari seseorang yang ku tuju.

Malam ini aku tengah berbaring dalam lamunanku. Menyaksikan bayangan bayangan tabu tentangmu. Tentang dirimu, sang lampion asa yang enggan ku hempaskan pada bintang yang tengah menantimu.

Sempat ku bertanya pada sukmaku, haruskah jemari ini melepas genggamanmu.. Haruskah senyum ini merelakan kepergianmu.. Pada hari hari yang bahkan belum sempat untuk menanyakan dimana rumahmu? Siapakah orang tuamu? Dan, seperti apakah masa depan yang kau mau?

Semua ini terlalu cepat berlalu. Hadirku dihadang masa lalu, atau masa depanmu? Salahkah saat ini aku menari bersamamu?

Aku tak ingin bertemu dengan masa lalu.. Aku juga tak tahu masa depanku ataupun dirimu.. Yang ku tahu , saat ini kita berjalan bersama... Berada dalam satu cerita... Bukankah begitu?

Baiklah, mungkin aku terlalu jauh dalam lamunanku.. saatnya aku membuka mataku untuk,, bertemu dirimu?

Sudahlah. Selamat malam.

                                      ***


👦~El

Sebaris kata berderet frasa muncul di kepala..
Entah mengapa,hari itu segelas air panas seketika dingin.. Ataukah aku lupa menyalakan api,atau angin mungkin..

Mungkinkah musim salju tiba? Ah! Rasanya tidak mungkin.. Matahari pun masih ada untukku menikmati senja..

Secangkir teh hangat tepat berada dihadapanku. Senja membuatku terlena,sampai aku lupa..

"Bagaimana aku bisa lupa!" lamunanku seketika pecah ketika mengingat kata 'fathah'. Satu gelas teh hangat itu habis dalam satu tegukan. Terdengar aneh mungkin,itulah yang terjadi. Tapi menurutku dengan ukuran gelas sebesar tutup sirup ABC rasanya tidak aneh.

Putih abu berganti abu hitam menghiasi tubuh tinggi semampai. Ikatan simpul tali sepatu tak beraturan. Kuatnya belitan ikat pinggang,sedikitpun tak dihiraukan.

Bergegas langkah menuju alamat tujuan. Walaupun aku bukan pelari tapi skill dalam berlariku tak tertandingi! Mungkin.. Karena lawanku adalah diri sendiri.

Terlintas dalam benakku kejadian tadi siang. Kalau saja dapat kembali. Lebih baik mengejar kembali tanpa melihat kanan kiri mendekat menemani. Meski mengandalkan percaya diri. Percuma saja dia sudah pergi. Hanya terpatri dalam hati. Namun sesaat menghilang lagi.

Senja.. Sampai jumpa.. Mungkin kita tidak bisa bercerita.. Tapi akan kuceritakan pada bintang ketika malam tiba.. Bahwa kita pernah bersama.


BoolanternsStories to obsess over. Discover now