"Gio janji ya jagain Sherly, jangan biarin dia sendirian, jangan sampe Sherly kesepian. Kalian jangan berantem, harus saling sayang. Gio ngerti nak?"
Gio hanya mengangguk patuh pada Mamanya, sedikit bingung sebenarnya.
"Ma, Shey laper." Itu suara Sherly, tadinya dia tengah bermain di sofa bersama bonekanya. Kini dia berusaha naik ke atas bangkar tempat Mamanya berbaring.
Iya, Mama Gio dan Sherly sedang dirawat sekarang, penyakit yang cukup parah bukan jika beliau harus melakukan kemoterapi?
Melihat adiknya yang kesulitan, Gio turun dan menggendong Sherly lalu ia dudukan di bangkar. Setelahnya, ia menarik kursi ke dekat bangkar dan lekas mendudukinya.
"Emang Shey belum makan yah? Perasaan dari tadi jajan kak Gio dihabisin sama kamu semua", ujar Gio.
"Itu kan jajan. Ga bikin kenyang tau," balas Sherly dengan pout di bibir mungilnya. Melihat interaksi kedua anaknya, Ranti hanya tersenyum geli kemudian ia berkata "Yaudah. Gio, tolong ambilin roti di lemari yaa. Papa belum kesini soalnya, nanti kalo kamu ke kantin sendiri malah ilang," tutur sang Mama sambil tersenyum. Tanpa menjawab Gio langsung bergegas mengambil roti di lemari. Langsung ia buka bungkusnya dan menyerahkannya pada Sherly.
Jika kalian mengira kalau keluarga mereka adalah keluarga yang kekurangan, maka kalian salah. Mereka adalah keluarga Diwangga, salah satu pemilik perusahaan terbesar dan tersukses di dunia.
Lalu kenapa saat Sherly mengeluh lapar, sang Mama hanya memberi roti? Itu karna Sherly sudah makan banyak cemilan sebelumnya. Dan jika Ranti menyuruh Gio untuk ke kantin RS ia takut kalau Gio akan kenapa-napa, ia baru menginjak usia 10 tahun kini.
(づ ̄ ³ ̄)づ
Terhitung sudah setengah tahun sejak pertama kali Ranti dirawat. Bukannya membaik, ia justru kelihatan makin tak sehat. Tubuh makin kurus, rambut yang rontok, wajah pucat, dan diagnosa dokter yang menyatakan bahwa kanker getah bening yang dideritanya sudah menginjak stadium akhir.
Hernawan -suami Ranti- muali khawatir kalau akan terjadi hal hal di luar dugaan. Beliau begitu takut, takut akan ditinggal istrinya. Beliau cemas tak bisa membesarkan kedua anaknya sendirian. Beliau khawatir justru dirinya yang lebih terpuruk dari kedua anaknya.
"Gio, Sherly, sini Papa sama Mama mau ngomong," panggil Hernawan. Gio dan Sherly yang tadi ada di sofa depa tv kini mendekati bangkar tempat dimana Papa dan Mamanya berada.
"Ada apa Pa ? Mau beli es krim ya? Jangan sekarang dong, Shey masih kenyang banget jadi nanti aja ya."
"Idih, yang mau beliin kamu es krim juga siapa? Pd banget deh," balas Gio.
"Udah udah. Iya nanti kita beli es krim ok Shey? Sekarang Papa sama Mama mau ngomong kalian dengerin ok?" ujar Ranti menengahi.
Suasana jadi hening setelahnya. Hanya suara detak jam yang terdengar di ruangan itu. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing masing. Sherly dengan rasa es krim yang akan dia beli, Gio yang menebak nebak arah pembicaraan mereka, dan Hernawan serta Ranti yang tengah berkutat dengan emosi.
"Okey, Papa mulai. Jadi, Papa sama Mama mau ngomongin tentang kesehatan Mama," tutur Hernawan memecah keheningan. Kalimatnya membuat Sherly seketika melupakan es krimnya. Itu terlalu sensitif untuk Sherly. Sedangkan Gio, ia berusaha menutupi kekhawatirannya dan mencoba tetap tenang. Pemikirannya cukup dewasa untuk anak seumurannya.
"Gio ingetkan waktu Mama nyuruh Gio jagain Shey, jangan kamu lupain loh. Jangan digangguin adiknya. Kalian emang kembar, tapi kan kamu dulu yang lahir. Jadi, kamu harus jagain Sherly, karna kamu itu kakaknya." Kata demi kata yang Ranti ucapkan membuat Sherly makin takut, dan Gio jadi merasa sedikit bersalah karena sering kali mengganggu adiknya itu.
"Hm, Gio inget kok. Gio janji bakal jagain Shey. Gio janji ga akan biarin Shey sakit. Gio janji ga akan bakal ninggalin Shey sendiri. Gio janji bakal hukum orang orang yang nyakitin sama gangguin Shey. Gio janji Ma," jawab Gio dengan mantap. Sejak Ranti sakit, itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Gio ucapkan.
Sherly menunduk, menutupi selaput bening di matanya yang menuntut tuk dikeluarkan. Hernawan yang menyadarinya pun bertanya "Sherly, kenapa?". Sherly menjawabnya dengan gelengan kepala lalu bergegas mengusap air matanya dengan kasar. Menutupi sedih yang ia rasakan.
Gio memilih hanya memperhatikan, menunggu kelanjutan kalimat dari kedua orang tuanya. Tapi mereka hanya diam, membiarkan keheningan kembali hadir. Gio memilih keluar dari kamar, diikuti Sherly di belakangnya. Sedang Hernawan menenangkan Ranti yang tangisnya langsung pecah seketika setelah kedua anak itu keluar kamar.
(づ ̄ ³ ̄)づ
Beberapa hari setelah hari itu, Ranti meninggal dunia. Hernawan sempat menangis tapi berusaha kuat untuk menepis kesedihannya dan berusaha terlihat tegar di depan kerabat, rekan kerja, dan terutama kedua anaknya.
Sherly juga meluapkan kesedihannya dalam bentuk bulir bulir bening itu, bahkan matanya sampai sembab karna menangis dari tadi malam.
Tapi tidak dengan Gio. Ia terlihat paling kuat diantara semua anggota keluarga yang lainnya. Ia tidak menangis, sorot matanya justru menyiratkan kebencian kepada orang-orang yang menatapnya kasihan. Meskipun tatapannya lebih teduh dari biasanya, tapi segala emosi tergambar jelas di matanya. Sama seperti Hernawan, ia berusaha kuat walau batinnya benar-benar hancur sekarang.
Pemakaman berlansung lancar meski diiringi isak tangis dari beberapa kerabat. Jelas mereka sangat kehilangan sosok mendiang Ranti, sifatnya yang keibuan dan pembawaanya yang kalem membuat orang orang mudah nyaman berada di dekatnya. Tutur kata yang terkesan lembut begitu membekas di hati, sangat menenangkan.
(づ ̄ ³ ̄)づ
Gio mulai berdamai dengan takdir, ia mulai menerima semuanya. Ia menepati janjinya, menjaga dan melindungi Sherly. Menemani tanpa membiarkan adiknya tersakiti.
Ini cerita pertama ku. Jadi, tolong dimaklumi jika ada kesalahan hehe. Mohon dukungannya ya :)
YOU ARE READING
Sherly
Teen Fiction'Kenapa harta harus jadi dasar dalam bergaul? Mengapa mereka menilai dengan itu? Apa hanya harta yang bisa memberi kebahagiaan?' 'Tuhan menciptakan semua mahluknya sama. Dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tuhan sudah memperhitungkanny...
