Happy Reading!!
***
Raesa merasa, ada esensi tersendiri ketika memeta indahnya paras yang dipuja ke dalam sebuah diksi tertata. Memilih sebuah kata yang akan dirangkai menjadi kalimat, sungguh memberinya sebuah tantangan untuk melukiskan gambaran apik yang akan mendeskripsikan pemudanya.
Sebegitu memujanya Raesa kepada pemuda yang tengah memejam netra, dengan hembusan nafas teratur yang diiringi detakan jantung berirama. Begitu tenang, tak terusik. Tampan, mendeskripsikan bagaimana pemuda itu terlelap dalam tidurnya.
Tak begitu tega untuk membuatnya membuka mata, Raesa beranjak dari ranjangnya perlahan, sama sekali tak berniat mengusik pemudanya yang tengah terlelap. Namun sedikit pergerakan ternyata mampu membuatnya tersadar, inderanya begitu peka.
'Ah, maafkan aku, Gilang.' Hela nafas Raesa. Perasaan bersalah hinggap, sedikit membuatnya menyesal karena membuat pemudanya terusik, namun segera diusir dan digantikan dengan senyum selamat pagi.
"Oh, terbangun, Lang?"
Senyumnya tergurat, kian mengembang ketika pemudanya mengulur tangan dan menggamit lengannya. Mengisyaratkan agar Raesa tidak perlu beranjak kemanapun. Pemuda yang dipanggil 'Gilang' hanya mengerjap pelan, bulu mata lentiknya semakin indah tatkala bias benderang cahaya mentari mencium wajahnya dari sela-sela kelambu jendela.
"Kalau masih mengantuk, kembali tidur saja, ya?" Raesa urung beranjak, berakhir duduk di tepi ranjang, mengusak rambut pemudanya pelan. Mendapati sejumput halus rambut terjuntai di telapaknya, jelas membuatnya terhenyak.
Gilang menggeleng pelan, memejam mata sekali, dua kali, kemudian berusaha duduk bersandar di kepala ranjang, perlahan.
"Tidak, sa. Kemari, aku mau hadiahku." Kedua lengannya terlentang lebar, ingin menggapai tubuh yang lebih muda.
Raesa sukses dibuat heran. Sebab, tidak biasanya Gilang meminta agar diberi hal semacam ini. Ah, biarkan. Raesa juga tidak akan menolak, justru akan dengan senang hati memberikan afeksi yang lebih kepada pemudanya.
"Gilang, boleh aku egois hari ini?" Eluhnya kepada yang lebih tua, mengelus surai hitam jelaga itu pelan sebab tahu bahwa setiap jengkalnya sungguh rentan.
"Egois? Untuk hal?" Gilang merenggangkan jarak untuk menatap Raesa.
"Semua tentangmu." Raesa mengulas senyumnya, kemudian mendekatkan wajah untuk kemudian mengecup puncak kepala Gilang sayang.
"Aku mau egois tentang semua hal yang berkaitan denganmu." Raesa menempatkan dagunya di puncak kepala Gilang.
Gilang kembali memeta jarak, kemudian sedikit menunduk untuk menatap Raesa.
"Maksudnya?" Raesa terkekeh, ada rasa gemas ketika menyaksikan pemudanya mengerutkan kening, lucu.
"Ya seperti itu. Aku mau egois. Kau hanya milikku. Aku tak mau berbagi Gilang Ramadhan dengan dunia luar hari ini." Kemudian mengeratkan pelukan. Gelinyar hangat mendesir di nadinya, menciptakan rasa nyaman karena Gilang membalas pelukannya.
Gilang tertawa lemah. "Sa. Sejak kapan kau jadi manja sekali seperti ini, hm?"
Demi apapun, suara tawa Gilang adalah favoritnya, kedua setelah senyum manisnya yang berada di posisi pertama.
Raesa terkikik ringan, menghirup lamat-lamat aroma vanilla dari tubuh seseorang yang sedang dalam dekapan. Harum, lembut, begitu maskulin. Menyeruak manja dalam penghidunya. Sangat memabukkan.
"Kau tahu Lang? Aku baru sadar ternyata yang jadi bayi besar selama ini memanglah diriku. Maaf ya, aku pasti merepotkanmu." Menghasilkan gelakan tawa dari Gilang. Menggelikan, namun juga manis.
Gilang menciptakan jarak, melepaskan rengkuhan hangat dihadapannya. "Sa, kau membuatku terlihat seperti orang tua, tahu?"
Segaris bulan sabit di kedua kelopak mata Gilang terbentuk, dengan lekuk senyum dari bibir tipisnya yang tampak kian memucat.
Sontak menghasilkan desir nyeri di ulu hatinya.
'Bahkan dalam sulitmu kau masih bisa tertawa.'
Raesa terenyuh.
"Nyatanya kau memang lebih paham tentang makna hidup ketimbang diriku, Lang."
Raesa mengungkung pipi itu dengan kedua tangan. Beranjak menyusur bibir pucat di hadapan dengan ibu jari kanannya.
Gilang menghentikan pergerakan tangan itu dengan menggenggam lemah pergelangannya.
"Sa, kau janji tidak membahas itu lagi, kan?" Senyumnya senantiasa tergurat, tidak berniat untuk menanggalkannya sebab ia tahu arah pembicaraannya hanya akan membuat Raesa sedih.
"Hm... Maafkan aku, Lang."
Kemudian menyatukan dahi. Menyalurkan hangat temperatur tubuh keduanya melalui setiap helaan nafas yang beradu dalam dinginnya udara.
TBC~
