Prolog

30 2 0
                                        

Apa sih yang membuat kamu menangis ketika sedang dalam suatu hubungan? Perselingkuhan atau perpisahan? Keduanya menyakitkan. Tapi tidak untuk Justin. Kekasihnya baru saja mengirimkan pesan singkat yang seharusnya membuatnya sedih atau paling tidak terkejut.

'Justin, sorry. I have to go.'

Sore itu, Justin mengantarkan Meira ke bandara. Kekasihnya itu memutuskan untuk melanjutkan studinya di Prancis. Namun, satu hal yang menjadi pertanyaannya. Kenapa ia sama sekali tidak merasa sedih? Padahal hubungan Justin dan Meira sudah jalan 4 tahun, tapi Justin merasa biasa saja ketika ditinggal kekasihnya.

"Kamu hati-hati di sana. Jaga kesehatan, jangan lupa sholat." Ucap Justin seraya mengusap kepala Meira.

"Sekali lagi, aku minta maaf."

"No need to say sorry. Lagian kamu pergi buat belajar, kan?"

"Aku akan kembali." Kata Meira memeluk erat kekasihnya.

Pengumuman penerbangan Meira sudah terdengar, menyadarkan sepasang kekasih itu bahwa waktunya telah tiba. Waktu yang tidak pernah diinginkan oleh semua orang, berpisah dengan orang yang tersayang.

"I love you." Satu kecupan mendarat di bibir Justin.

Meira melangkah mundur sambil tersenyum pada Justin. Mereka sama sekali tidak melepas pandangan masing-masing seolah ini terakhir kalinya mereka bertemu. --atau mungkin iya-- Perlahan namun pasti, Meira memutar badannya. Menahan diri sebisa mungkin untuk tidak menangis. Hingga satu kalimat meruntuhkan pertahanannya.

"Mey..." Meira menghentikan langkahnya tanpa menoleh.

Tidak, Justin jangan katakan itu.

"Find your own happiness."

SenjaWhere stories live. Discover now