Di pagi hari yang cerah seorang gadis tengah mengayuh sepedanya. Ya dia adalah Roseane Park. Gadis belia berusia 16 tahun yang masih duduk di bangku kelas 11 smk. Kini dia sedang berjuang untuk mendapat nilai yang memuaskan demi sang nenek tercinta. Gadis itu tinggal bersama sang nenek Lalisa Manoban nama Manoban pada marganya di hapus kala kematian kedua orang tuanya.
Walaupun begitu Rose sangat bahagia walau hanya ada dua orang nenek di sisinya yaitu Lisa dan Jisoo. Mereka berdua merawat Rose dengan penuh kasih sayang. Walau dia juga pernah merindukan kedua orang tuanya.
Rose berharap dia bisa bertemu kedua orang tuanya di surga nanti dan dia juga berharap kedua orang tuanya tak akan pernah meninggalkannya.
Saat dia tengah mengayuh sepedanya sebuah mobil mewah berwarna putih menabraknya hingga dia terpental ke bawah.
"Aww" Rose gadis itu merintih kesakitan. Dia berdiri kembali sambil membawa sepeda yang dia bawa saat ini.
Seorang pria dan seorang wanita tengah keluar menghampiri apa yang mereka tabrak tadi. Betapa terkejutnya mereka saat tahu menabrak seorang gadis. Pria itu menatap gadis itu intens entah kenapa dia menatap seperti itu?
Pria itu bernama Limario Manoban pria berusia 45 tahun yang sudah memiliki putri bernama Seulgi Manoban yang usianya beda 2 tahun dengan Rose.
"Dasar gadis miskin! Biasanya cuman menyusahkan orang saja! Kau tak sadar apa yang kau perbuat hah!? Kau telah membuat malu keluarga kami tahu!" Wanita paruh baya itu mengoceh tak jelas. Ya dia adalah Irene Manoban usianya sekarang menginjak 44 tahun. Dia di kenal sebagai wanita yang arogan. Semua orang nampak tak suka saat dia menatap seseorang. Namun, karena dia adalah istri dari seorang direktur ternama dan tersukses juga terkaya jadilah dia di hormati sebenarnya mereka tak mau menghormati wanita itu karena sikapnya yang arogan.
Rose menunduk dia menangis sesenggukan. Sudah sakit jatuh di tambah sakit terkena ucapan Irene yang sangat menusuk hatinya.
Limario merasa tak tega melihat gadis mungil itu menangis tersedu-sedu di sana. Dia mendekati gadis itu mengusap tangannya lembut dan tersenyum manis padanya "jangan takut padaku" dia mengusap kedua telapak tangan gadis itu dengan lembut "apa ada yang sakit?" Lanjut nya.
Rose menggeleng "tidak pak" dia kembali menangis kala Limario memegang tangannya yang luka.
Limario baru sadar kalau dia memegang tangan gadis itu yang seperti ada luka goresan panjang di sana "kamu terluka kenapa bilang tidak?" Gadis itu hanya diam tak mau bicara sama sekali.
****
Limario POV
"Mas nanti kita setelah jemput Seulgi langsung ke cafe yuk" Irene bermanja-manja di lenganku. Apa dia tak tahu kalau aku sedang fokus untuk menyetir? Apa dia itu sengaja ingin celaka?
"Irene kau bisa lepaskan tanganku tidak?"
"Kenapa?" Dia menatap menoleh ke arahku.
"Aku sedang fokus menyetir. Aku takut akan menabrak sesuatu jika kau terus bermanja-manja di lenganku"
"Sudahlah tak usah di perduli kan mas. Lagi pula kan yang ketabrak itu nanti bukan anak kita ini" bukannya menjauh Irene malah semakin menggelayut manja di lenganku. Lalu dia mengusap-usap adik kecil ku. Sial! Kenapa dia harus mengusapnya saat aku sedang menyetir? Kenapa tidak di ranjang saja nanti?
"Ah" aku mendesah. Sepertinya Irene tengah mengerjai ku. Apa-apaan ini? Aku kan sedang menyetir harusnya dia tahu itu.
"Kenapa mas? Enak? Mau lagi?" Sial dia bicara seperti itu kala mendengar desahan ku.
Ku singkirkan tangan Irene dari celanaku dengan kasar aku lelah menghadapi sikapnya yang selalu bermanja-manja padaku "lepaskan Irene!"
"Tidak mau!"
Irene malah kembali menggosok-gosokkan tangannya di adik kecilku sialan! Aku tak bisa berkonsentrasi untuk menyetir. Malah aku berkonsentrasi untuk mendesah.
"Lepaskan Irene!"
"Tidak mau😝"
Aku berdebat dengan Irene bisa-bisanya dia seperti itu saat aku sedang menyetir. Apakah tidak bisa nanti begitu? Aku kan harus berkonsentrasi untuk menyetir. Saat aku sedang berdebat tak sadar aku melihat seorang gadis memakai sepeda melintas di hadapan ku. Sontak aku terkejut dan akhirnya aku menabrak gadis itu.
Aku merasa bersalah telah menabrak gadis itu. Semua ini gara-gara Irene. Karena dia aku jadi menabrak gadis itu. Kasihan dia pasti kesakitan sekarang.
"Kita menabrak siapa, mas?"
"Aku tidak tahu"
Aku berjalan keluar mobil untuk meminta ma'af pada gadis itu. Sementara Irene mungkin nampak kesal saat aku keluar itu tertampak pada raut wajahnya.
"Tunggu mas" aku berjalan mencari gadis yang aku tabrak itu. Sungguh aku tak sengaja ini semua gara-gara Irene. Seandainya dia tak bermanja-manja pasti aku tak akan menabrak seseorang.
Betapa terkejutnya aku saat melihat gadis cantik dan sexy juga imut bak bidadari dan kucing surga sungguh dia adalah gadis tercantik yang pernah ku lihat. Dengan pakaiannya yang mengenakan rok pendek selutut dan baju merah yang di masukan. Juga rambutnya yang di kucir dua. Sayangnya dia memakai kacamata. Dia seperti gadis cupu yang tak terurus andaikan dia adalah istriku. Aku pasti akan merawatnya dengan sepenuh jiwa dan raga.
Irene datang dan mengomel-ngomel pada gadis itu. Dia menunduk sambil menangis sesenggukan. Sepertinya dia ketakutan dan merasa bersalah. Namun, di sisi lain aku menemukan luka goresan yang sangat panjang pasti itu sangat sakit.
Ya Tuhan kasihan gadis itu. Ku dekati dia "jangan takut padaku" aku berusaha untuk membuatnya tenang dan tidak takut. Ku lihat tubuhnya menegang kala melihat aku yang memegang tangannya.
"Apa ada yang sakit?" Tanyaku padahal aku tahu kalau di tangan kanannya tergores namun, kali ini aku salah memegang aku malah memegang lukanya dan jelas itu sakit. Bodohnya aku.
"Tidak pak" dia kembali menangis. Bodoh sekali aku ini bukannya meredakan tangisannya malah menambah tangisannya. Tunggu kenapa dia memanggilku pak? Memangnya aku sudah tua ya? Sampai-sampai dia memanggilku dengan sebutan pak.
****
"Kami keluarga besar Manoban minta ma'af atas kejadian ini" Limario menatap Rose dengan tatapan berbinar. Dia menyesal akan yang dia perbuat.
Rose mengangguk "iya pak tak apa" Rose langsung menaiki sepedanya dan mengayuhnya pergi meninggalkan kedua insan yang mematung di tempat itu.
Bukannya dia aneh atau apa tapi Rose lebih baik pergi dari pada menjadi benalu bagi orang lain. Sementara Irene wanita itu tersenyum kecut menatap gadis yang sudah kabur entah kemana "dasar aneh!" Dia kembali melingkarkan tangannya di lengan kekar Limario.
"Ayo mas kita pergi. Nanti Seulgi kasihan menunggu lama"
Limario hanya diam entah apa yang dia pikirkan sekarang ini. Dia menatap kepergian gadis itu dengan raut wajah yang menyesal. Irene menarik Limario menuju mobil.
Limario menginjak pedal gasnya dan berjalan menuju sekolah Seulgi untuk menjemput anak kesayangan mereka.
Jangan lupa vote & coment ya😊 makasih yang udah vote & coment 😘
BINABASA MO ANG
Affair With Oppa Limario | ChaeLim | ChaeLisa Sequel Affair With Daddy
FanfictionTumbuh besar tanpa kedua orang tua di sisinya pastilah sangat menyakitkan. Itulah yang dirasakan gadis berusia 16 tahun yang masih duduk di bangku kelas 11 smk jurusan mmu. Gadis itu polos, lugu dan juga cupu saat dia dipertemukan oleh pria matang y...
