1 to 1. Your Brown Hair

91 18 4
                                        

"Arrrrghhhhh!!!!"

Pagi hari, seperti biasa Nana selalu memulai aktivitasnya dengan berteriak. Bukan berteriak untuk menyambut pagi dengan penuh semangat bahwa ia siap memulai harinya. Bukan teriakan seperti itu yang Nana lakukan. Ibu dan Ayahnya, bahkan para bibi yang setia menemani dan mengerjakan tugasnya sejak Nana berusia 5 tahun, kini seringkali merasa jengkel dan sedih. Karena semenjak kejadian yang menimpanya, Nana sering menangis, berteriak, melemparkan semua barang dan memukul orang-orang yang coba menenangkannya.

"Nona.. nona tenang non, ini bibi Nona ini bibi. Ini bi Maria non"."Nona sering memanggil bibi mbi Aria." celoteh wanita paruh baya itu kepada gadis berambut panjang berwarna coklat kehitaman yang sedang berada dipelukannya.

"Nona, nona ngga boleh seperti ini terus non. Bi Aria sedih kalau nona begini. Bibi sayang non Nana." wanita itu menenangkannya namun ia sendiri tidak bisa menahan air matanya sedari tadi.

Masih dengan arungan yang sama dan dengan mata birunya yang basah dengan air mata. Gadis itu terus memberontak. Ia tidak suka bila orang menenangkannya. Untuk apa? Untuk menambah rasa kesalnya? Atau untuk meledeknya?. Mina tidak bisa berpikir dengan benar bahwa mereka melakukan itu karena keluarganya sayang kepadanya.

"Lepaskan! Arrghh.. Hiks..hiks"
"Kamu siapa? Lepaskan! Jangan memelukku!!" dengan sekuat tenaga Mina mencoba melepaskan pelukan wanita yang memeluknya erat. Namun, pelukan itupun juga bertambah erat.

"Buat apa kamu kesini? Buat apa?! Aku bahkan ngga ingat siapa kamu. Aku bahkan ngga mengingat namaku sendiri! Orang tuaku, temanku, SEMUA ORANG! Haahhhkk..hiks. Kenapa? Kenapa?"

Dengan sabar wanita itu terus mengusap kepala Mina. Rambut lurus coklat kehitaman yang senang ia dandani sejak Mina masih berusia 5 tahun. Dikepang, kuncir dua, kuncir kuda atau mengepang dan membundelnya sehingga gadis itu tampak seperti anak-anak inggris pada jamannya. Mengingat itu semua, membuat bi Maria tanpa sadar menyunggingkan senyum di bibirnya.

"Nona, nona Nana mandi dulu ya. Rambut Nona sudah kusam begini. Ibu selalu senang dengan rambut nona yang berkilau kalau sehabis di keramas. Rambut kecoklatan nona yang persis dengan Ayah nona Nana." sahut wanita itu sambil mengusap-usap rambut gadis yang tetap berada dipelukannya, tidak peduli dengan apa yang dikatakan si gadis sebelumnya.

Mina yang tidak tahan dengan pelukan itu mencoba mendorong pelukan bi Maria dan akhirnya pelukan itupun terlepas. Dengan sigap bibi Maria pun menarik tangan Mina mencoba untuk menahannya. Karena ia tau Mina akan pergi untuk menyendiri setelah ini. Namun, bukan itu yang bibi Maria khawatirkan. Masalahnya adalah ketika menyendiri Mina lupa segala hal, ia akan lupa makan bahkan mandipun hanya 1 kali dalam sehari jika ia benar-benar tidak ingin diganggu.

"Nona, nona mandi dulu ya.. Se-sehabis itu kita makan."

"Apasih! Kamu bicara apa? Kamu ngga tau kalau aku hanya bisa mendengar suaramu sayu-sayu. Aku ngga bisa mendengar kamu bicara apa!! AKU NGGA BISA!" Mina berteriak sambil sesekali terisak oleh tangisannya.

"Nona.. Nona tenang ya.. ." jawab bibi Maria kepada Mina.

"Arrghh!" kali ini kibasan tangan kiri Mina yang sedari tadi ditahan oleh bibi Maria terlepas. Meninggalkan Maria yang hanya bisa melihatnya menuruni anak tangga, meninggalkan rumah dan pergi ke tempatnya melepaskan kekesalannya hari ini.

.
"Nona Mina... ."

REMINISCENTWhere stories live. Discover now