Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Aldino Geo Riansyah nama lengkapnya, kalian bisa memanggilnya Aldi saja. Ganteng, ya liat sendirilah idung mancung bibir tipis kulit putih bikin merinding melihatnya. Manusia yang punya tatapan sedingin es dan senyuman sehangat mentari ya dia itu, Aldi.
"Kak Aldi" teriakan di koridor sekolah sedikit memekakan telinga hingga membuat Aldi yang sedang berjalan menghentikan langkahnya dan memalingkan muka ke belakang, duh gantengnya. Aldi melihat seorang perempuan setengah berlari kearahnya dan berhenti tepat dihadapannya.
"Buat lo" perempuan itu menyodorkan kotak bekal berwarna pink dengan kedua tangannya. Aldi hanya menatap heran, orang yang tidak dia kenal tiba-tiba saja memberikan sekotak yang sepertinya berisi makanan. Enggak mungkin kan hanya karena dia ganteng?!.
"Dari temen gue, hari ini dia gak masuk dia nitipin ini buat lo, sorry ya gue buru-buru, bye.." Aldi hanya menatap sosok perempuan yang sudah melesat pergi, Kotak yang sama, sudah 3 hari Aldi menemukan kotak bekal itu di laci mejanya, tapi hari ini dia mendapatkan secara langsung dari orang yang entah siapa dan dia juga bilang ini hanya sekadar titipan. Aldi mengintip isinya, dan benar saja roti keju seperti biasanya. Aldi menutupnya kembali dan berjalan menuju ke kelas.
"Pantesan gue tengok laci meja lo nggak ada apa-apa. Gue fikir dia udah nyerah sebelum identitasnya gue bongkar. Jadi lo udah tau siapa yang ngasih ini" ucap Reo menyambut kedatangan Aldi dan langsung menyambar kotak pink yang Aldi letakkan di atas meja. Sementara Aldi hanya menatap tajam mengisyaratkan agar Reo menyingkir dari tempat duduknya.
"Lagi, lumayan dah gue belum sarapan" Reo langsung berpindah ke tempat duduknya sambil membawa roti keju itu. Reo mengambil satu potong dan menjejalkan penuh ke mulutnya, dia memang doyan banget keju tidak seperti Aldi yang alergi terhadap makanan kuning yang lezat itu.
"Oreo pinjem tugas mtk lo dong buruan" ucap Ghana yang baru datang dan masih menggendong tas ransel di punggung nya. Karena Reo anak yang baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung dia menuruti maunya si Ghana. Saat Reo mengambil buku tugasnya di tas, Ghana mengambil potongan terakhir roti keju yang ada dihadapannya dan menyambar buku di tangan Reo dengan tangan kirinya. Ghana langsung berlari ketempat duduknya sebelum manusia dihadapannya murka.
"Makasih"
"Anjirr roti gue"
"Udah nanti gue beliin lagi di kantin" suara Aldi membuat Reo memeluk orang yang duduk di sampingnya itu. Sementara Aldi hanya bergidik sambil melepaskan pelukan dari orang yang ber-title sahabatnya itu.
"Jadi siapa orangnya?" Reo melupakan kekesalannya dan memunculkan sifat kepo nya yang kadang bikin kesel semua orang. Sementara Aldi masih terdiam, dia sedang mengingat-ingat wajah perempuan yang ditemuinya tadi.
"Gue tadi nerima ini dari cewek, kayaknya adik kelas dan dia bilang ini titipan dari temennya"
"Namanya?"
"Maksud lo"
"Ya cewek yang ngasih lo roti tadi namanya siapa bambang" Reo sedikit kesal dengan sahabatnya itu.
"Ya mana gue tau, orang tadi dia buru-buru cabut"
"Cantik gak?" kali ini Reo memunculkan sifat playboy nya, ya jangan heran dia memang orang absurd yang memiliki segala sifat sekaligus.
"Cantik" tanpa sadar Aldi mengucapkan kata itu saat dia membayangkan wajah cewek koridor tadi.
"Aduhh bang Aldi jatuh cinta nih jangan-jangan" seketika itu Aldi baru sadar dirinya keceplosan dan dia tersenyum tipis.
"Eh tapi jangan bilang ke dia buat ganti menu bekalnya ya, nanti gue ga dapet jatah roti keju lagi-.." saat Reo bicara bell masuk berbunyi dan Reo teringat dengan buku matematika nya yang masih di pinjam Ghana.
"Na buku mtk gue mana" Reo berteriak cukup kencang. Tahu suara itu ditujukan untuknya Ghana yang tengah bersenda gurau menoleh ke belakang.
"Tadi di pinjem si Raju" Reo langsung mengalihkan pandangannya ke Raju.
"Tadi sama Jeno"
"Engga tadi sama lo bukunya"
"Kayaknya di pinjem Boby deh"
"Lah kita kan tadi makenya bareng-bareng di taruh sini"
"Kayaknya udah diambil lagi sama Ghana"
"Enggak kok gue nggak ngambil"
"Coba deh kalian cek di meja masing-masing"
Buku matematika Reo seketika menjadi bahan ribut anak laki-laki di kelas XII MIPA 3. Sementara Reo hanya menyesal meminjamkan bukunya tamat riwayatnya nanti kalau buku itu tidak ketemu bahkan mungkin teman-temannya juga akan terkena dampaknya, dan sekarang hampir seluruh anak laki-laki di kelas itu mencari keberadaan buku Reo, sementara yang cewek-cewek masih sibuk dengan bahan gosipnya tanpa mau ikut campur dan bersikap seakan tidak tahu apa yang telah terjadi.
Kegaduhan kelas terhenti ketika ada yang membuka pintu kelas. Sosok perempuan yang tidak terlalu tinggi masuk dengan aura gelep yang menyelimutinya. Atmosfer di ruangan XII MIPA 3 berubah mencekam, tak ada yang berani membuka suara, semuanya duduk diam tanpa terkecuali.
"Selamat pagi anak-anak"
"Pagi Buuu"
"Sudah disiapkan berdoa"
"Belum" celetuk siswi perempuan yang duduk di deretan depan.
"Loh bukannya bell masuk sudah dari tadi, seharusnya kalian menjadi siswa-siswi yang aktif tanpa harus di perintah terus seperti ini. Kalian sudah kelas XII mau jadi apa nanti kalau berdoa saja mesti nunggu gurunya datang ke kelas.Yuk ketua kelas siapkan berdoa"
"Siap grak berdoa mulai" ucap Jeno selaku ketua kelas. Keadaan kelas makin hening hampir semuanya berdoa dengan khidmat meski ada saja yang hanya ikut menundukkan kepala tanpa memanjatkan doa dan hanya berharap agar guru itu segera keluar kelas. Selesai berdoa sang guru kembali berceloteh.
"Buku tugasnya mana? Bu Lastri kan sudah pernah bilang tugas harus di kumpulkan di meja sebelum jam 7. Ini kenapa meja masih kosong" Bu Lastri berkata begitu meski ada beberapa barang di mejanya. Sementara kelas hanya diam terlebih Reo yang belum menemukan keberadaan bukunya yang entah dimana.
"Kok masih diam saja, apa mesti nunggu saya teriak-teriak baru kalian bertindak" seketika itu juga beberapa murid yang memang terbiasa bertugas mengumpulkan buku berdiri dan mengumpulkan buku teman-teman sekelasnya.
"Buku gue di pinjem sama Ghana tadi" ucap Reo saat Firda menghampiri ke mejanya. Firda pun hanya cuek saja, sudah biasa, dan dia kembali mengumpulkan buku teman-temannya yang lain.
"Hitung dulu coba" ucap Firda kepada dua temannya yang lain untuk memastikan.
"9"
"11"
"12"
"Pas 32" lanjut Firda kemudian menumpuknya menjadi dua bagian di meja guru. Firda kembali ke tempat duduknya.
"Fir buku gue ada kan" ucap Reo bisik-bisik.
"Ada kali"
"Dih kok kali sih, yang bener!!"
"Ssst lo mau tikus got ngamuk" ucap Firda kesal yang masih sambil berbisik.
Aura mencekam kembali menyelimuti ruangan itu, semua diam.hening.tanpa suara. Bu Lastri entah kenapa dijuluki tikus got oleh sebagian muridnya tentu saja tanpa sepengetahuan guru itu atau dia memang sudah tahu tapi pura-pura tidak tahu. Sang tikus got eh maksudnya Bu Lastri akhirnya memulai ceramah panjangnya tentang kejadian tadi agar tak terulang lagi kedepannya, beliau kalau ceramah bisa full satu jam pelajaran. Capek deh sampe ngantuk, tapi mending sih daripada dia ngajar malah lebih memacu adrenalin.