Namaku Raina Tanaya Putri.
Aku berbeda dengan anak-anak normal seumuranku, aku lebih sering menyendiri, baca buku, dari mulai komik, novel, pengetahuan, ensklopedia, dan lainnya. Aku tidak pernah melakukan aktivitas apapun, kecuali bersekolah.
Sekarang, aku tinggal bersama
Paman & Bibiku disebuah desa yang bisa dibilang berbeda dengan suasana diperkotaan, suara kebisingannya, polusi-polusi udara yang kotor itu, dan kepadatan setiap harinya.
Disini, aku lebih didekatkan dengan alam pedesaan yang masih asri, polusi industri hampir tidak ada disini.
Suasana yang baru, udara bersih ada dimana-mana, tidak perlu repot-repot memakai masker ketika berpergian keluar rumah.
"Na-na!" Paman memanggilku dari bawah, Na-na adalah sebutan bagiku sebagai bentuk keponakan kesayangan Paman.
"Iya!", aku melangkah keluar dari kamar menghampiri Paman yang tengah duduk disofa panjang ruang tengah rumah ini.
Pria yang sudah berusia itu menunjukkan sebatang rokoknya kearahku, aku menelan ludah pahit. "Ada apa Paman memanggilku?" tanyaku gemeteran, "Na-na duduklah disini, Paman ingin berbicara denganmu!" jawab Paman, aku mengangguk dan duduk disamping Paman, pria paruh baya itu meletakkan tangan kanannya dipundakku.
"Na-na, nggak pergi jalan-jalan sama temen? Paman lihat Na-na duduk terus didalam kamar, apa nggak bosan? "tanya Paman serius padaku, aku menggeleng
"Na-na nggak papa kok Paman, Na-na ada banyak tugas akhir-akhir ini, jadi Na-na nggak ada waktu luang untuk keluar!" kataku terpaksa berbohong, sebenarnya bukan karena tugas, namun aku tidak pernah punya satupun orang teman.
"Na-na jangan berbohong, Paman tahu kok. Na-na nggak punya temen 'kan disekolah?" tanya Paman, aku terpaksa mengangguk meyakinkan Paman, "Maaf Paman Na-na terpaksa berbohong!" batinnya.
"Coba telepon teman Na-na, ajak mereka bermain disini!" kata Paman, aku hanya mengangguk, Paman bukanlah orang tua yang mudah dibohongi, ternyata.
Agar paman tidak merasa curiga padaku, aku mengeluarkan ponsel dari saku celanaku, kucari nama teman ditombol kontak, padahal tidak ada satupun itu.
Satu jam menunggu, Paman kembali mengintogerasiku, dan kali ini aku mengatakan yang sejujur-jujurnya pada Paman, dia memang peka.
"Mana Na-na? Teman-temannya kok nggak datang-datang juga?" tanya Paman, 'Hehe...' aku meringis, "Na-na menyerah, sebenarnya Na-na nggak punya teman, satupun nggak punya. Paman janji 'kan nggak akan marah sama Na-na, karena Na-na berbohong pada Paman!" lirihku, aku menunduk, Paman tersenyum. "Ya nggak lah, Paman sudah tahu dari awal. Na-na pasti kesulitan bergaul dengan anak-anak lain disekolah, tetapi Paman percaya Na-na pasti punya banyak teman nanti jika Na-na mau berusaha, bahkan lebih!" kata Paman, "Baik Paman!" jawabku.
Paman mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dia mengetikkan sesuatu dilayar ponselnya, aku penasaran.
"Paman sedang apa?" tanyaku,
"Anak teman Paman akan datang kesini sebentar lagi, sebaiknya kamu masuk untuk bersiap-siap,
dia akan menemanimu pergi jalan-jalan!" jawab Paman, awalnya aku menggeleng namun Paman memaksa, "Na-na nggak mau, Paman batalkan saja perjanjiannya!" kataku menolak,
"Harus mau. Na-na nggak kasihan pada anak teman paman, dia sudah datang jauh-jauh lho dari kota!" jelas Paman, aku membelalak 'Kota?', "Lima belas menit lagi dia akan sampai disini, "Baik Paman!" potongku,
aku langsung berlari menaiki satu persatu anak tangga dengam cepat, Bibi datang menghampiriku, "Na-na apakah ada yang bisa Bibi bantu?" tanya Bibi, aku mengangguk.
Bibi langsung membantuku memilih pakaian yang akan aku kenakan, sebenarnya aku tidak punya satupun pakaian yang bagus, tidak ada salahnya 'kan dicari. Aku menemukannya, "Ini sepertinya masih bisa dipakai Bi, aku memakai yang ini saja!"kataku, Bibi mengangguk.
Menit terakhir aku sudah selesai bersiap-siap, Paman kembali memanggilku, "Na-na!"
teriaknya, aku menjawabnya "Iya paman!", aku langsung turun menemui kembali Paman, ketika kakiku sampai di anak tangga yang terakhir, seorang pria datang menghampiriku, dia menyodorkan telapak tangan kanannya kearahku, aku menyambutnya, dia tersenyum padaku dan menyapaku ramah "Hai!", aku menjawabnya "Hai juga!".
YOU ARE READING
Magic Rain
Teen FictionRaina. Seorang gadis polos akan cinta, namun mampu melihat sisi kebahagian dan kesedihan orang-orang yang bersentuhan langsung dengannya ketika hujan.Bagaimana bisa?
