HARAPAN 1

13 0 0
                                        

     ~       Pertemuan pertama akan menjadi awal kisah yang akan di ceritakan ke depan ~

        Seorang gadis sedang berlari di lapangan untuk mengikuti OSPEK terakhir di universitas impiannya. Siapa lagi jika bukan ASLIN HAZEL DEVANLOVA, gadis berusia 19 tahun dengan semangat yang penuh mengikuti terakhir Ospek tersebut di mana dia senang bertemu banyak teman baru yang akan dikenal ke depannya. 
        Aslin sedang berjalan di koridor merasa lelah dan dia pun duduk meregangkan badannya.

    “Hai,“ sapa seorang gadis lain di sebelah Aslin. Pasti Maba juga, batin Aslin.

    “Hai juga." Aslin menyapanya balik sambil melemparkan senyum terbaiknya.

     “Nama lo siapa, nih?  Mungkin kita bisa berteman," ujar gadis itu menyodorkan tangannya, "gue Kristi."

     “ Emm...  gue Aslin Hazel Devanlova,“ jawab Aslin dengan santai. Ia menjabat tangan Kristi. Mereka bersalaman sebagai tanda bahwa keduanya sudah berkenalan.
      “Eh, nanti  temen gue yang lain gabung sini kok. biasalah... mereka liatin cogan di kampus,” sambung Kristi sebelum melepaskan jabatan tangannya.

      “Oh ya? Bagus dong.“ Raut kegembiraan terukir jelas di wajahnya.

       Tak lama, terdengar suara yang memanggil para mahasiswa baru untuk segera berkumpul di lapangan karena pengumuman serta penutupan Ospek akan dimulai. Gerombolan peserta ospek terlihat sangat gembira. Mereka tertawa lepas dan saling melempar gurau. Pasalnya beberapa hari terakhir adalah hari-hari yang sangat melelahkan.

Selama pengenalan lingkungan kampus mereka selalu diajak berkeliling hingga hapal bagian-bagian kampus tersebut. Jadi, tidak akan kesulitan atau tersesat jika harus mondar-mandir di kampus seluas itu.

     Krugggkk, itu suara perut Kristi yang meraung. Cacing-cacing di perutnya sudah meminta jatah. Untungnya hanya dia yang mendengar. "Makan yuk, Lin. Gue laper nih," ajak Kristi.

     Aslin terkekeh pelan. Ia mengerti suara aneh tadi ternyata berasal dari mana. "Yaudah, yuk!"

Dalam perjalanan mereka menuju kantin, Kristi menceritakan kekonyolan teman-temannya. Sedangkan Aslin, hanya mendengarkan dan tentu saja menikmati cerita itu sampai-sampai tertawa keras.
     
   Sesampainya di kantin, Kristi melambaikan tangan ke teman- temannya yang ternyata sudah berada di kantin lebih dulu. Berjalan dengan langkah lebar menuju meja teman-temannya.

  “Ke mana aja kalian?! Malah diem di kantin, mana tadi gak ikut penutupan.“ Kristi kesal dengan sikap se-enak jidat teman-temannya itu.

     Zahra yang duduk paling dekat dengan Kristi terkekeh. "Jangan marah dong."

     “Iya,  jangan marah. Nanti cepat tua loh," timpal Dian yang tiba-tiba datang sembari membawa siomay.

    Seakan baru menyadari keberadaan Aslin, Zahrapun bertanya, “Eh, dia siapa, Kris?” gadis itu menunjuk Aslin dengan sendok yang sedang ia pegang.

      “Tuh kan gue jadi lupa. Kenalin dia Aslin Hazel. gue baru kenalan juga, sih. Tadi nyari kalian kaga temu. Lagian kayak anak ayam aja, ilang terus kalo ketemu cogan.“ Sisi cerewet Kristi meronta-ronta keluar. Aslin yang mendengar istilah "anak ayam" tertawa kecil di sebelahnya.
“Zahra Ozcelik."
“Dian Diana."
Mereka berdua menyebutkan nama berbarengan dan saling berebut untuk bersalaman dengan Aslin.
"Lo ngikut gue mulu!"
"Enak aja. Lo tuh yang ikut-ikutan."

      “Aslin Hazel.” Ia bergantian menyambut jabatan tangan keduanya.

Setelah makanan datang, mereka berbincang bincang panjang.

WishWhere stories live. Discover now