Sapphire and moonlight We danced for hours in the sand Tequila Sunrise Her body fit right in my hands, la-la-la It felt like ooh-la-la Yeah
Hentakan musik membuat tiap insan menggila di lantai dansa. Berjejer tequila disediakan menemani para tamu yang sedang duduk santai di ruangan VVIP seperti yang dilakukan Revan sekarang. Ia mendengus, sebenarnya malas rasanya mendatangi tempat-tempat para pecinta dunia malam. Hanya saja demi sahabatnya, ia rela melewatkan jam tidurnya untuk datang di acara salah satu sahabatnya yang sedang merayakan grand opening tempatnya saat ini.
"Hei Bung! banyak gadis cantik dan kau menyia-nyiakannya dengan duduk melamun disini?!" seru Rafael setengah berteriak mengingat suaranya teredam oleh musik dj.
Revan menoleh sekilas, "Aku tidak tertarik dengan mereka."
Rafael yang mendengarnya kemudian menarik kursi bar mendekat ke arah sahabatnya sebelum duduk. "Ugh, kau masih sama saja seperti dulu. Dasar pria kaku! Aku jadi penasaran, seperti apa wanita yang bisa membuatmu turn on."
"Sialan kau?!" maki Revan hendak beranjak bangkit dari kursinya namun ditahan oleh Rafael.
"Hey, kau mau kemana? Adam dan Richard sebentar lagi akan sampai, kau santai saja di sini sementara aku telfon mereka dulu. Nikmati pestanya, oke?" bujuk Rafael tak ingin sahabatnya pulang sementara mereka belum berkumpul. Kemudian ia pamit keluar dari kebisingan menghubungi dua sahabat lainnya.
"Suruh Karin mengantarkan tequila untuk temanku yang sedang duduk di sana," titah Rafael pada salah satu office boy saat ia melintasi lorong menuju pintu keluar.
Revan memperhatikan keadaan di sekitarnya mencari sesuatu yang menarik sembari menunggu Rafael kembali. Dia tak menyangka, bisa terjebak pergaulan bersama Rafael dan kawan-kawan yang sejak sekolah menengah atas tekenal sebagai badboys. Benar kata Rafael, dia yang paling kaku dari ketiga temannya yang menjalani kehidupan bebas tanpa batas. Bukannya menyesal, jutru Revan merasa nyaman berteman dengan mereka. Ia ingat betul, pertama kali Revan datang sebagai siswa baru dan dibully oleh kakak kelas. Rafael dan Adam ikut pasang badan hingga keduanya juga ikut babak belur karena kekuatan mereka tak sebanding dengan kakak kelas. Lucunya kakak kelas tersebut adalah Richard yang sekarang menjadi teman kami.
"Permisi Tuan," suara merdu membuat jantung Revan berdetak lebih kencang seketika, kemudian disusul suara dentingan gelas menyentuh permukaan meja di depannya membuatnya menoleh.
Wanita eksotis di depannya menyedot seluruh pusat perhatiannya. Kulitnya memang tak terlalu putih seperti wanita yang berseliweran di sekitarnya. Namun lekukan tubuhnya yang dibalut setelah seragamnya membuat tiap kaum hawa iri melihatnya. Memang Revan sedikit terbuai menikmati pahatan indah wanita cantik di depannya ini. Hanya saja, jauh dilubuk hatinya terlebih dulu berdesir mendengar suara merdu gadisnya.
Wait, gadisnya? Sejak pandangan pertama ia merasa yakin bahwa pelayan wanita ini adalah gadis yang sudah lama ia cari selama bertahun-tahun.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.