"TUNGGU Nit, dengerin penjelasan dari gue dulu! Maafin gue, gue juga nggak nyangka kejadiannya jadi kayak gini. Nita, tunggu!" teriak cewek berkacamata lensa tebal sambil berlari mengejar sahabatnya. Nita. Nita berlari terus berlari tanpa menghiraukan teriakan dari serak sahabatnya, Liana. Untung saja, saat itu sekolah sudah sepi karena semua murid sudah pulang. Jadi, mereka tidak menjadi perhatian atau bahkan menjadi bahan pembicaraan murid-murid di sekolah mereka. Hanya karena kejadian itu.
Akhirnya mereka berhenti di depan perpustakaan. Liana berhasil menarik tangan Nita, hingga akhirnya Nita berhenti. Mata Nita sembap. Dia menangis. Mereka larut dalam diam selama beberapa saat. Hingga akhirnya Nita buka suara.
"Apa lagi sih Li yang perlu lo jelasin? Apa? Apa Li? Semua udah jelas. Jadi nggak ada yang perlu dijelasin lagi. Dan lo juga nggak perlu minta maaf. Gue yang salah, gue yang terlalu ke-PD-an. Gue kira Rey suka sama gue. Gue kira Rey sama gue bakal jadi pasangan paling bahagia di dunia. Gue kira lo tulus bantu gue buat deketin Rey. Gue kira lo nggak bosen dengerin gue cerita tentang Rey. Tapi, gue salah. SALAH BESAR. Gue salah udah percaya sama lo. Gue salah udah cerita banyak tentang Rey sama lo. Gue salah udah...Ah, pokoknya gue yang salah. Gue yang salah," jelas Nita sambil sesekali mengusap cairan bening yang mengalir di pipinya.
"Rey suka sama lo. Dia deketin gue buat cari informasi tentang lo. Dan hari ini dia nembak lo. Dia nembak lo tepat di depan mata gue. HATI GUE SAKIT LI SAKIT," bentak Nita sambil memegang dadanya.
"OK. Gue minta maaf. Gue juga nggak nyangka kejadiannta jadi kayak gini. Gue nggak tau kenapa semua ini bisa terjadi. Gue juga nggak tau kenapa Rey bisa nembak gue tadi," kata Liana sambil memegang bahu Nita. PLAK! Namun, dengan cepat Nita menghempas tangan Liana. Liana diam seribu bahasa. Menunduk adalah sikap yang tepat.
Mereka kembali larut dalam keheningan sementara. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Suasana yang dulu sangat nyaman, kinu berubah sudah. Suasana menjadi canggung. Suasana menjadi tidak nyaman bagi mereka, terutama bagi Nita. Sebenarnya, Nita juga tidak ingin suasana ini menyelimuti mereka. Namun, ego Nita terus menguasai dirinya. Ego yang membuat suasana ini terjadi. Harusnya ia memaafkan Liana...Ah, tidak! Lupakan! Ego kembali merasuki Nita.
"Maafin gue ya Nit. Kalo lo nggak maafin gue, gue terima. Tapi gue nggak pernah nyesel jadi sahabat lo. Makasih buat selama ini. Makasih buat bantuan lo selama ini. Sekali lagi, makasih buat semuanya." kata Liana bebarengan dengan raut muka sedihnya. Ia sedih. Ia diam selama beberapa saat. Hingga akhirnya, ia berbalik dan meninggalkan Nita sendiri. Bayangan Liana pun hilang dari jangkauan mata Nita.
votement!votement!votement!
-eheh ngegas anjir >:v
ESTÁS LEYENDO
Persahabatan itu ?
Historia CortaApa engkau akan tetap di sana? Dengan orang yang asing. Menanti mendung lalu hujan. Lihatlah aku yang masih menantimu sebentar saja, lihatlah. Apa engkau sadar? Kerapuhan hati tanpa tanyamu. Apa engkau bosan? Dengan segala curahan hatiku. Dengar sah...
