Pakaian putih dipadankan rok abu-abu ramai melintas di Halte. Beradu tubuh saat memasuki gerbang Transjakarta. Sembari berdesak-desakan sibuk mencari tempat ternyaman, sekali pun berdiri. Tampaknya, gadis yang duduk di sudut terperanjak kaget.
"Woy! Mesuum!" Teriaknya.
Keadaan ricuh. Seluruh mata menatapnya seribu pandangan.
"Mbak, sadar!" Tepukan mengenai pundaknya.
Ia pun mengelap pelipisnya penuh keringat dingin.
"M ... Maaf," ujarnya pelan. Digigit pelan bibirnya, menelan ludah teramat berat, dan seulas senyuman tipis. Merutuk kesal karena mengingau di bus.
Bus pun berhenti di halte berikutnya. Satu per satu tapak kaki meninggalkan ruangan ini. Ia pun membenarkan rok abu-abunya. Dan merapikan letak rambut yang sebagian ujungnya tersapu iler.
***
"Sekar, bagaimana sekolahmu?"
Gadis itu menoleh. "Seperti biasa," lirihnya datar.
"Mama tadi dapat telepon dari kepala sekolah," suara Lisa sedikit serak seakan menyimpan sesuatu untuk diucapkan.
"Aku tuh baru pulang dari sekolah loh, entar aja kalau mau tanya-tanya!" Sekar masa bodoh, kepalanya cenat-cenut, lantas masuk ke kamar.
Tibalah di kamar, tempat ternyaman baginya. Belum sempat mengganti pakaian, ia lebih memilih selonjoran, tubuhnya sedikit penat dengan problematika sekolah.
Pesan whatsapp, nada telepon, dan notifikasi diabaikannya begitu saja. Selang beberapa menit, ponsel genggamnya sudah berlayar hitam. Sekar menggenggam ponsel sampai matanya terlelap.
***
Lisa menyilakan sosok lelaki bertubuh proposional duduk di sofa cokelat. Sembari membawakan minuman dingin.
Ruangan yang didominasi biru dan cokelat adalah perpaduan yang menarik. Setiap sudutnya terdapat lukisan-lukisan abstrak yang disuguhi tanda tangan seseorang. Lelaki itu memerhatikan setiap ruangan, tetapi lukisan inilah yang membuatnya tertarik.
"Siapa yang lukis, Tante?" Pandangannya terpesona.
"Silakan diminum. Mau cari Sekar?" Lisa tak menjawab. Dan mempersilakan anak muda agar duduk.
"Maaf Tante kalau saya lancang." Lelaki itu agak sedikit kaku, padahal niatnya mau mencairkan usaha, tapi gagal. Lalu dia duduk, meminum untuk menghilangkan perasaan nervous.
Perempuan paruh baya tersenyum singkat. "Kamu teman sekelasnya? Pacarnya? Atau siapa? Saya baru kali pertama melihat kamu, Sekar belum pernah bawa teman laki-laki ke rumah."
"Mohon maaf untuk kedatangan saya yang mendadak ini. Perkenalkan, nama saya Briliant Laksana Samudra. Panggil saja Samudra," ucapnya sambil menjulurkan telapak tangan.
"Oh iya, Samudra ya? Saya Lisa. Sepertinya namanya nggak asing, hm."
"Iya Tante, karena Indonesia diapit Samudra Hindia dan Samudra Pasifik."
"Hahaha, iya, sudah lama nggak belajar."
"Iya Tante, saya ingat, kebetulan saya wali kelasnya Sekar."
Bola mata Lisa terbelalak kaget. Untuk seumuran guru masih terlihat muda sekali, seperti seumuran dengan anaknya.
"Eh, seriusan?"
"Iya Tante, niat saya datang ke sini karena ingin membujuk Sekar agar sekolah lagi."
Deg, air muka Lisa berubah merah. Api di ubun-ubun telah terbakar, namun sebisa mungkin ia mengontrol emosinya agar tidak memuncak.
"Sebentar Samudra, saya panggil dia dulu."
Lisa pun menaiki anak tangga. Sedangkan Samudra masih tertarik dengan sudut ruangan yang penuh lukisan. Rasa ingin tahunya memuncak untuk menyentuh benda di dinding yang menarik minat. Setiap goresan yang penuh makna seperti memberitahu pesan tersembunyi dalam garis-garis halus, kasar, dan kusut.
Hingga tak sadar, Samudra pun bergidik kaget. "Ada apa Bapak ke rumah saya?" tatapan memicing dari gadis itu. Sekar pun duduk di samping Lisa.
"Sekar, kamu baik-baik aja kan?" Lisa memastikan anaknya tidak membuat masalah di sekolah.
Sekar sekilas menatap ibunya. Dan mata tajamnya tertuju pada sosok lelaki yang menurutnya tidak sopan karena datang ke rumah tanpa persetujuan darinya.
"Saya sudah bilang sama Anda, Bapak Samudra. Kalau saya tidak akan mau masuk ke sekolah lagi!" tatapan mengunus seakan siap-siap membunuhnya.
Lisa mengerinyitkan dahi. Di sisi lain kebingungan karena anaknya tidak terbuka untuk menceritakan masalah apapun. Yang ia tahu, anaknya selalu pergi ke sekolah. Tetapi firasat seorang ibu selalu benar, pertanda apa ini? Kenapa Sekar bolos? Dan segelumat pemikiran memenuhi otaknya.
"Ceritakan pada Mama, apa yang terjadi Sekar?"
Sekar melengos napas panjang. "Mama sibuk kerja kan? Mama cari uang kan? Sejak kapan Mama tanya seperti ini?"
"Mama paham, Mama sibuk cari uang buat masa depan kamu, buat kita."
"Lalu kenapa Mama menanyakan itu? Bukankah Mama tahu dari awal kalau aku nggak mau sekolah lagi? Aku bolos Ma! Kepala sekolah meneror Mama untuk berbasa-basi menanyakan aku. Dan sekarang lelaki di depanku pun datang untuk memastikan anak didiknya, bukankah kalian semuanya egois!" bentak Sekar.
Rahang Lisa mengeras. "Siapa yang egois? Mama banting tulang cari uang, keringat mengucur demi makan, dan kamu masih bilang Mama egois? Sekolah sudah Mama pilih yang terbaik, buat kamu, buat masa depan kamu! Kamu sekarang maunya apa?"
"Mama tanya aku maunya apa? Kenapa tidak dari dulu bertanya seperti itu? Setelah aku rasa nggak ada gunanya sekolah. Sekolah favorit menurut Mama baik, bagiku itu sekumpulan anak-anak sok pinter, sok gaul, dan sok fashion! Aku cuma sampah masyarakat di mata mereka!"
"Harusnya kamu yang bergaul sama mereka! Cari teman! Kenali lingkunganmu! Kamu tidak pernah mau berbagi cerita pada siapa pun, itu kenapa Mama pilihkan sekolah terbaik agar kamu tidak salah jalur. Tapi tidak dengan bolos juga!"
"Mereka siapa Ma? Mereka sama sepertiku, orang tuanya sibuk kerja, anaknya diasuh di sekolah sampai sore hingga ada les tambahan sampai malem. Lalu pulang karena capek. Sekolah cuma nerima uang untuk kelangsungan hidup karyawannya, termasuk Bapak ini!"
Samudra yang dilema pun semakin merasa tidak enakan kalau memotong pembicaraan dua beranak ini. Agak sedikit sengit dan panas, namun lelaki itu menyikapinya dengan tenang. Senyum tipis menarik kumis tipis yang membuat wajah lelaki bertampang unyu tetap tak bisa menyembunyikan wajah awet muda.
"Maaf jika kedatangan saya lancang."
"Nggak perlu minta maaf, sebentar lagi buat dosa, kan nanggung!" ketusnya.
"Sekar, jaga ucapanmu! Hormati gurumu!"
Sekar diam.
"Selama kamu bolos, apa yang kamu lakukan?"
"Mama pulang ke rumah sebulan sekali kan? Paling lama satu tahun lebih baru pulang? Dan itu pun Mama pulang karena dapat telepon dari kepsek?"
Seakan kesabaran Lisa sedang diuji, kali ini kepalanya sudah benar-benar mau pecah.
Plak!
Tamparan mengenai pipi chubby yang membekas bercak merah. Sekar meraba bagian yang sedikit memar.
"Tampar aja sepuas Mama! Tampar!!!" Nanar mata Sekar memerah. Mulutnya sudah terbata-bata.
"Sudah! Kamu tak usah sekolah, cari lelaki yang mau menerima kamu. Menikah saja! Mama memang salah mendidik kamu, siapa tahu dengan kamu menikah maka suamimu bisa mendidikmu! Samudra, apa kamu mau menikahi wanita seperti dia?"
Puncak emosi Lisa sudah di luar kendali. Hingga ia tak sadar mengucapkan kata-kata itu.
Samudra dan Sekar pun memelotot.
YOU ARE READING
SEKAR
RomanceSekar benci kata "Cinta" atau sulit dia memahami makna "Cinta". Katanya, orang tua dia saling mencintai maka jadilah Sekar. Namun, apakah benar-benar tumbuh karena cinta?
