PROLOG

498 16 0
                                        

Ingin Zakir, Menjerit! Memanggil Mardiah sekeras-kerasnya. Sayang ia berada dalam taksi. Ingin meloncat keluar dan segera menyusul Mardiah namun, rontahan jiwa itu ditahan sekuat mungkin. Wajahnya berubah, mengerut, mendung dan gerimispun jatuh berguguran. Kenyataan yang tak dapat ia duga. Mengapa, malaikat maut begitu kejam pada dirinya? Mencabut nyawa seorang gadis yang teramat berarti dalam hidupnya.

Gemuruh menerpa jiwa, wajah Mardiah menduduki panggung sendu di kepalanya. Oh, Mardiah, meski berkali-kali melupakan namun, tetap saja abadi dalam barisan senja indah di sanubari.

Aku terlambat!

Merasakan desahan napas terakhir dari mulutnya. Terlambat memapah tubuhnya di atas pangkuan saat ia berhadap-hadap sakratul maut.

Aku kesepian.

Sebab keramaian duniaku adalah dirimu, kebahahagiaan duniaku adalah tawamu, dan semangat hidupku adalah senyummu.

Ketiadaanmu menghapus semuanya. Ketahuilah, bahwa cintaku telah kau bawa. Sejatinya cinta, adalah kau. Meski raga terbujur kaku. Meski nisan mengukir namamu, dan pusara bercerita tentang kematian.

...

“Saya mohon, nikahi saya dengan jenazah almarhumah, sebelum ia dikebumikan. Akan saya jadikan istri seumur hidupku.”

Zakir memastikan.

***

Senandung Surga (COMPLIT)Stories to obsess over. Discover now