Hari hari aku jalani dengan berat hati, entah apa yang membuatku menjadi seperti ini. Aku selalu bertanya pada diriku sendiri: Apa ini diriku sebenarnya? Karena setiap kegiatan yang aku lakukan bukanlah kehendakku. Itu semua kehendak keluargaku, aku hanya bisa mendengarkan dan laksanakan apa yang mereka perintah. Bukankah itu sangat menyebalkan?
Aku tinggal di keluarga yang penuh dengan aturan karena kami melindungi para rakyat. Melindungi? Menurutku kata itu tidak pantas dikatakan sebab sebaliknyalah yang terjadi. Ya, rakyat didaerah ini memang aman tetapi ada sebuah kawasan kumuh yang berisi sekelompok orang orang yang terkurung disana. entah apa benar benar terkurung atau mereka yang memilih kehidupan seperti itu
Antara daerah ini dengan kawasan kumuh itu dibatasi tembok tinggi yang melingkari kawasan tersebut, merekalah yang membuat itu, entah apa yang membuat mereka berfikir membuat tembok tinggi tersebut. Kalau kata kakek pemimpin daerah ini, mereka penghianat. Katanya kurang lebih 20 tahun yang lalu, terjadi perselisihan antara pemimpin daerah Barat dengan Timur. Kata kakek, pemimpin Timur telah melakukan penghianatan terhadap negara ini. Sedangkan orang orang yang terkurung di kawasan kumuh mereka dahulu mendukung Timur. Dulunya daerah Barat dan Timur adalah satu negara, sekarang kata negara sudah lenyap diganti dengan perpecahan menjadi negara Cland Barat dan negara Cland Timur sejak 20 thn lalu. Jadi antara Barat dan Timur diberi batas berupa tembok tinggi serta dijaga ketat oleh tentara kami begitu pula dengan tenta mereka Cland Timur. Aku tidak mengetahui cerita asli dari kejadian tersebut, entah yang diceritakan kakek benar atau tidak. Jadi aku tinggal di daerah Barat dengan penuh pertanyaan.
Aku berumur 24 tahun, tahun ini. Bahkan aku telah melakukan banyak hal diumurku yang sekarang. Aku bertemu dengan para penjabat, dewan, petinggi daerah Barat, profesor dll. Aku juga mengikuti rapat tentang militer, kemajuan teknologi daerah Barat, kemajuan daerah ini dll. Tidak ada kata teman disini, karena mom melarangku mempercayai mereka.
Padahal aku ingin menjadi seorang gadis pada umumnya yang dapat berteman pada siapapun. Tapi aku harus tetap menurut dengannya. Alhasil setiap hari aku selalu bertemu dengan para guruku dan profesor mendiskusikan sesuatu. Mereka selalu ada dirumahku. Karena rumahku sudah seperti laboraturium.
Aku tinggal di lantai 2, sedangkan labnya berada di ruang bawah tanah. Aku tidak tau apa yang mereka kerjakan bertahun tahun disana, karna mom melarangku memasuki lab itu. Lantai pertama digunakan untuk menyambut para tamu yang datang. Lantai 3 digunakan oleh orang tuaku (dad: Liam James dan mom: Sophia Wells), sedangkan di atap terdapat landasan helikopter. Dengan keadaan tersebut aku sudah terbiasa dengan bunyi bising dirumah ini.
Tok tok tok....suara ketukan pintu kamarku. Aku beranjak dari sofa tuk membuka pintu.
"Selamat Pagi, Nona Bella"sapanya, ia Meka asistenku (sekarang pukul 08.00).
Ia berumur 28 thn, sudah 18 tahun dia berkerja menjadi asistenku. Aku berkali kali bertanya padanya apa yang terjadi 20 tahun lalu, tapi dia diam saja dan bilang dia tidak tau apa yang terjadi. Kurasa dia berbohong padaku, menurutku ada yang dia pendam selama dia melayani keluargaku. Aku tersenyum menatapnya, membiarkannya masuk kamarku. Segera aku tutup pintu kamar setelah ia masuk, meninggalkan kami berdua di dalam. Kamarku lumayan luas, mereka memberiku ruangan yang luas agar aku bisa ber eksperimen, aku suka itu. Ia menatap kamarku dari ujung ke ujung melihat kamar yang berantakan.
"Sedang kesal?"tanyanya menatap mataku yang berkantung karena mengerjakan sesuatu.
Semalaman aku membuat sesuatu, saatku sedang kesal aku akan bereksperimen merakit robot kecilku. Aku hanya diam saja tidak menjawab pertanyaannya.
"Oke, baiklah aku tau maksudmu" pasrah, ia melihat tablet yang dipegangnya.
"Ayahmu menunggu di pangkalan militer"ucapnya sambil melihat tablet yang berisi jadwalku.
Dad seorang Jenderal dan aku seorang Letnan. Aku masuk pendidikan kemiliteran sejak umur 17, sebelum itu aku dilatih oleh dad. Seperti bela diri, menembak, dan memanah. Karna merakit dan membuat benda sudah menjadi hobiku, itu tidak akan hilang.
"Rapat?"tanyaku sambil membereskan kamar. Ia membalasnya dengan menaikkan bahunya, artinya dia tidak tau. Lalu ia memberiku satu stel baju dan celana panjang bewarna hitam.
"Gunakan ini"ucapnya sambil memberikan satu stell tersebut kepadaku.
"Terimakasih" seraya mengambil pakaian tersebut. Ia berjalan menuju pintu melanjutkan tugasnya. Sebelum dia keluar dari kamar,
"Kamu punya waktu 15 menit untuk bersiap siap, aku menunggumu diluar"katanya. Aku membalasnya dengan satu anggukan.
Ia keluar meninggalkanku sendirian di kamar, aku segera bersiap siap pergi ke Pangkalan Militer. Aku gunakan baju kaos hitam lengan pendek yang sudah disiapkan oleh Meka serta celana tentara dan sepatu bout hitam. Aku mengikat rambut hitamku seperti ekor kuda. Aku segera meninggalkan kamarku berjalan menuju tempat Meka menungguku (diluar rumah). Matahari pagi menyambutku, didepan sana Meka sudah menunggu.
"Telat 3 menit"lirikan matanya tajam bewarna kuning dengan nada jengkel.
"Maaf"kataku menjajari jalannya. Jarak antara rumahku dengan Pangkalan Militer hanya 1,5 km.
Disamping kiri dan kanan jalan menuju Pangkalan Militer ialah hutan hutan. Jadi rumahku ada di tengah tengah hutan. Pagi hari sudah satu dua mobil melewati jalan ini menuju Kantor Pusat daerah Barat. Kami tiba di gerbang Pangkalan Militer. Di lapangan para tentara sedang berlatih kadang tentara tentara itu lari pagi di jalanan yang kulewati menuju Pangkalan Militer. Disana ada dad dan Jenderal Iro sedang mengamati para tentara itu. Aku berjalan mendekat ke tempat dad berada.
"Selamat Pagi dad, Jenderal Iro"sapaku ke mereka yang sedang memperhatikan latihan bawahan mereka.
"Pagi, Bella"balas Jenderal Iro dengan senyuman khasnya. Jenderal Iro, sahabat dad dari kecil. Dad membalas hanya dengan senyuman.
"Ada rapat?"tanyaku ikut memperhatikan para tentara yang sedang berlatih.
"Tidak, aku memanggilmu karena Jenderal Iro akan melatihmu besok"sanggah dad.
"Dan kamu hari ini juga akan membantu Jenderal Leo untuk melatih tentara B"kata dad menunjuk sekumpulan tentara B laki laki yang sedang berbaris melakukan pemanasan dan disana.
"Baik dad, laksanakan"kataku tegas memberi hormat padanya dan segera pergi menuju sekumpulan tentara tadi, disana ada Jenderal Leo yang akan melatih para tentara bersamaku.
"Pagi, Jenderal Leo"dengan nada tegas lalu memberinya hormat.
"Pagi, Letnan Bella"balasnya.
"Apa agenda mereka hari ini Jenderal?" tanyaku melihat para tentara yang sedang pemanasan.
"Hari ini game untuk mereka, Bella" jawab Jenderal Leo.
"Kamu siapkan mereka"lanjutnya. Aku mengangguk melaksanakan tugasku dengan tegas.
"Cukup!"Dengan nada tegas menghentikan pemanasan mereka.
"Pagi, Letnan"hormat mereka kepadaku secara serempak, aku balas hormat mereka dan melanjutkan tugasku.
Selama 3 jam kami melakukan game di hutan tanpa istirahat dan akhirnya aku bisa istirahat setelah jarum jam dipukul 12.00. Aku istirahat di Camp Pangkalan Militer.
"Hei"panggil seorang laki laki lalu duduk disampingku. Ia, Kapten Jack. Bajunya yang terlihat basah menandakan ia baru saja selesai latihan.
"Sudah lama tidak bertemu"ucapnya, 1 minggu lalu aku menjalankan misi bersama timku selama 2 minggu di luar negeri.
"Menggantikan Jenderal Lucas?"tanyanya, aku jawab dengan anggukan.
"Ada waktu senggang?"tanyanya lagi dengan nada menggoda, ia memperhatikanku dengan tatapan yang tidak biasa.
"Mungkin malam nanti, aku akan menghubungimu"jawabku. Ia anak dari Jenderal Dhani dan Profesor Kate dan ia anak sulung dari tiga bersaudara.
"Maaf aku harus pulang sekarang"kataku beranjak dari kursi dan meninggalkannya sendirian. Aku lega ia membiarkanku pergi.
Ia adalah tunanganku, satu bulan lalu kami menggelar acara tunangan tersebut bersama rakyat kota Barat. Kata mom dan kakek aku hanya boleh menikah dengannya karna ia anak yang pintar dan ahli dibidang apapun, oleh karna itu aku hanya bisa menjalani semua omong kosong ini. Aku berjalan sendirian menuju rumah. Didepan teras rumah, Meka sedang menungguku pulang dari Pangkalan. Ia tersenyum padaku.
YOU ARE READING
REBEL
Mystery / ThrillerMengapa semua orang disekitarku terkait? Setelah kejadian yang buruk terjadi, hal hal sekitar yang kutemui selalu berkaitan. Dad, mom, kakek, bahkan tunanganku juga terkait. Tunangan yang awalnya tidak ku percayai perlahan lahan aku mulai memperca...
