Seingat gue, kala itu gue berumur 4,5 tahun. Dimana gue sempat di tinggal di kampung bersama nenek gue dalam beberapa waktu. Nama desanya Binagun, Kec. Singgahan, Kab. Tuban. Rumah gue dekat sekali dengan sekolah Bahrul ulum dan di belakang rumah dekat sekali dengan Ponpes Al - Hikmah.
Awal, bonyok (alias bokap - nyokap), mau percobaan untuk meninggalkan gue di kampung selagi mereka merantau ke Jakarta. Jadilah seperti itu. Rumah gue sederhana, ya sepertinya rumah kampung pada umumnya. Sejuk, wangi jerami, gue suka.
Rumah gue itu masih kuno banget, bahkan buang hajat pun masih di jamban yang ada di belakang rumah. Selain jamban, di belakang rumah gue juga banyak pohon bambu. Mereka adalah dua serangkaian pohon bambu yang tumbuh di sisi kanan dan kiri seperti hiasan sebuah pintu, yang sebenarnya di tengan ada jalan menuju ke sawah, tapi kita harus naik gunukkan tanah dulu.
Belakang rumah atau Ngguritan, adalah tempat teradem bagi gue. Nyaman bagi gue, meski kadang ada beberapa batang bambu yang turun dengan cara yang tidak wajar bagi gue yang melihat tapi tempat itu cukup sejuk. Gue itu suka main disana, nyanyi lagu yang suka keluar sendiri dari mulut gue, entah itu judulnya apa dan gue tahu lagu itu darimana. Gue suka nyanyi sambil berputar menikmati angin disana, kadang memetik pucuk daun bambu yang masih muda.
Selayaknya anak kecil, gue loncat - loncatan disana. Menguruk tanah, bermain air dari padasan (tempat ambil wudhu). Selain itu di belakang ada kandang sapi saudara - saudara gue. Jadi kadang gue bermain di awasi sama sapi. Kadang pun gue suka iseng ngomong sama mereka, mereka gak bisa jawablah cuma melirik atau menatap dengan matanya yang besar.
Di belakang ada sumur, tempat mbahku menimba air. Kata mbah,
"ojo mrono loh ndok"
Tapi gue penasaran, gue diem - diem suka berjinjit melongo ke dalam sumur itu. Melihat air yang menggenang, gue begitu anteng sambil melihat muka gue yang terbias di air. Percaya atau enggak gue sering banget mendengar percakapan dari dalam sana.
"ssnejahajajsuebjagjaj2hagjyeikaks"
Tidak begitu jelas karena begitu jauh. Gue pun penasaran.
"hei!. Di sana ada orang ya?"
Karena gue baru di kampung jadi gue masih ngomong dengan bahasa kota.
"ya"
Itu jawaban yang gue dengar. Yang gue paham dulu bokap sering bilang di atas langit masih ada langit, di bawah tanah masih ada tanah lagi. Jadi gue pikir mereka adalah makhluk yang hidup di tanah tingkat satu sedangkan gue sedang hidup di tanah tingkat 2, karena mereka berasal dari bawah.
Sejak saat itu, kalau lagi gak ada mbah gue suka diam - diam melongo ke sumur.
"hai"
"iyo", itu jawaban yang ku dengar dari bawah sana. Seperti anak seumuran ku tapi dia laki - laki.
Gue gak pernah berpikir kalau mereka bukanlah dari kaum kita. Karena yang gue tahu dunia itu berlapis - lapis jadi gue anggap mereka adalah orang yang tinggal di tanah tingkat pertama.
Meski kadang gue suka ngobrol gak jelas dengan sumur itu, tapi gue tetap suka berlari di belakang di antar pohon bambu yang meliuk - liuk tertiup angin. Suatu ketika gue sedang berlari untuk mengejar batang bambu yang turun jatuh ke tanah, tapi tak kesampaian dia malah naik lagi.
Gue berlari dan langkah gue terhenti seketika. Ada sesuatu yang keluar dari antara celah bambu di bawah. Itu keluar perlahan sedikit demi sedikit, hingga memanjang dan ternyata besar. Percaya atau enggak, itu kadal berwarna hijau. Raksasa, warnanya hijau mengkilat ada jengger di atas kepala seperti jambul atau tampak seperti mahkota karena warnanya agak kekunin - kuningan. Warna matanya hitam, seperti warna mata sapi yang sering melihat ke arah gue. Gue gak pernah lihat hewan raksasa itu. Gue cuma bisa diam karena dia juga sedang melirik ke gue dengan menjulurkan lidahnya yang panjang.
Gue gak berusaha mundur ke belakang, dia pun diam saja ngelihatin gue. Gue shock melihat kadal se besar itu. Warnanya hijau berkilau dan begitu cantik.
"Mbah!!! Mbah!!!! Mbah!!!"
Akhirnya gue bisa berteriak, tak lama Mbah datang dan langsung menggendong gue.
"ayo adus"
Entah kenapa Mbah biasa saja ekspresinya seperti tidak melihat hewan itu.
"itu Mbah! Itu", kata gue sambil menunjuk kadal yang masih memandangi gue sambil menjulurkan lidahnya.
"opo toh ndok?"
"itu... Buaya"
Iya dulu gue pikir itu buaya karena dia begitu besar, hijau dan raksasa.
"endi? Ayo melebu"
Mbah membawa gue masuk sedang dia masih ada dan matanya mengawasi gue. Gue masuk ke dalam dan meninggalkan dia. Lalu gue ketemu kakak sepupu gue.
"Kak, di belakang ada tu. Buaya", cerita gue dengan antusias padanya.
"mana buaya? Enggak ada"
"ada! Ruroh lihat buaya!"
"mana?"
"di belakang Kak! Besar!"
"ngawur"
Mbah datang lagi sambil membawa handuk, lalu menggendongku. Aku di bawa ke jeding yang ada di belakang. Dia pun masih ada dengan mata yang masih mengawasiku.
"Mbah, buaya nya masih ada"
"endi? Ora enek buaya!"
Begitu turun aku berlari mendekat dan menunjuk.
"ni. Ini mbah! Buaya!"
Mbah menyusul gue, lalu memungut sebuah batu.
"mbah! Jangan di lempar!"
Mbah pun melempar batu itu ke arahnya. Tapi batunya menembus tubuh kadal hijau berkilau itu. Seketika gue jadi takut, gue berlari memeluk mbah gue dan menangis jejeritan.
"pulang! Aku mau pulang! Enggak mau disini! Pulang!"
Mbah pun menggendong dan menenangkanku. Dan kadal itu dia masuk ke dalam celah bambu dan perlahan menghilang dari padanganku.
Setelah itu yang gue ingat, gue jadi demam tinggi dan sering melamun. Gue selalu membayangkan kadal itu ada di hadapan gue dengan tubuhnya yang berkilau. Gue jadi sakit lama dan susah sembuh. Al hasil gue di bawa bolak - balik ke mbah kyai untuk bolak - balik di doakan, di minumkan air doa dan segala macamnya. Tapi dia masih gue ingat jelas sampai hari ini.
Seiring dengan berjalannya waktu, gue pun tumbuh. Gue pun tahu itu bukan buaya tapi kadal. Itu bukan hewan, tapi entah apa antara jin atau siluman. Yang pasti gue pun tahu, orang yang hidup di tanah tingkat 1 itu bukan orang hidup seperti gue. Jelas yang menyahuti gue bukanlah sebangsa gue.
Dan itu masih gue ingat sampai sekarang. Termasuk si kadal hijau itu. Entah apa yang akan terjadi kalau saat gue dewasa dia mengunjungi gue lagi. Mungkin gue akan langsung pingsan.
YOU ARE READING
GEMBOK
Non-Fictionini adalah rangkaian kejadian yang aku alami. awalnya aku takut untuk menceritakan ini, karena kalian bisa pikir aku gila bahkan jahat. banyak cerita rahasia yang aku ungkap yang sebelumnya takut untuk ku ceritakan. Slow Up
