Sore dibulan agustus. Langit begitu cerah dengan angin yang berhembus sepoi-sepoi. Adira, begitu nama remaja13 tahun tersebut. Sore itu, Adira akan belajar kelompok bersama teman-temannya. Mereka janjian dirumah salahsatu kawannya yang bernama Ikbal.
Rumah Ikbal terletak 300 meter dari sekolahnya. Disebelah toko sepatu. Ikbal sendiri yang menawarkan untuk bekerja kelompok dirumahnya. Alasannya, karena dirumahnya tidak ada orang kecuali ibunya yang sibuk menjaga toko, sehingga mereka dapat fokus mengerjakan tugas bersama.
Setelah mandi dan melaksanakan sholat ashar, Adira pun bersiap. Dipilihnya kaus lengan panjang berwarna navy yang cukup longgar dan celana berwarna hitam.
Untuk berangkat menuju rumah Ikbal, Adira telah diberikan ongkos untuk naik angkot oleh ayahnya.
Remaja itu pun bersiap. Adira mengenakan jilbab berwarna senada dengan bajunya. Tas punggung berwarna coklat disampirkan pada kedua bahunya.
Saat akan berangkat, Adira terdiam. Remaja itu tersadar bila dirinya tidak mempunyai sendal. Hanya ada sepatu sekolah, yang itupun sudah cukup usang.
Keluar dari rumah, Adira melewati rumah neneknya. Rumah adira dan rumah neneknya berada didalam satu halaman. Dimana rumah mereka berada tepat dibelakang rumah neneknya yang besar.
Saat akan berpamitan pada neneknya, Adira melihat sepasang sendal berwarna-warni
-yang kemudian disebutnya sendal pelangi- dirak sepatu.
Adira diam sebentar, mengamati sendal pelangi yang begitu indah dimatanya.
"Punya siapa ini ?" tanya Dira dalam hati.
Remaja yang telah terpikat dengan warna-warni didepan matanya pun langsung memakainya. Niat berpamitan diurungkannya. Langkah kakinya menjadi ringan bersama sendal pelangi.
15 menit kemudian, Adira sampai dirumah Ikbal. Teman-teman mereka pun sudah berdatangan. Ada Rika dan Andri. Hanya tinggal Arista lagi yang belum datang.
Tugas yang akan mereka kerjakan adalah tugas kelompok matematika. Ibu Melin menyuruh mereka membuat gambar bentuk-bentuk bangun ruang dan juga mengerjakan beberapa soal mengenai bangun ruang.
Mereka berbagi kelompok. Andri, Arista dan Ikbal akan membuat gambarnya, sementara Rika dan Adira yang mengerjakan soalnya. Begitu usulan yang Dira berikan dan disetujui oleh teman yang lainnya. Maklum saja, Dira kurang baik dalam hal menggambar.
Pukul 5 lewat 15 menit, tugas mereka terselesaikan. Setelah membereskan barang-barang, mereka pun berpamitan pada ibu Ikbal. Dira dan Rika pulang bersama menaiki angkot.
"Dira, sendalmu bagus" puji Rika. Dira mengangguk.
"Iya, warnanya cantik"
"Beli dimana ya ?"
"Nggak tau. Aku cuma dibeliin" jawabnya pelan.
Tak lama, angkot yang mereka tumpangi berhenti didepan rumah Rika. Remaja perempuan itu turun dan melambaikan tangannya pada Adira yang juga ikut melambaikan tangan.
"Ketemu besok ya, Ra" kata Rika. Adira menjawab iya sebelum angkot kembali melaju. 10 menit berikutnya, Adira telah sampai dirumahnya.
Pukul 6 kurang 15 menit. Bergegas Adira masuk kedalam rumah. Teringat akan tugasnya untuk memasak nasi.
Dirumah bercat biru tersebut, Adira tinggal bersama 4 orang saudaranya dan kedua orangtuanya. Adira sendiri adalah anak tengah. Dia mempunyai 2 orang kakak dan 2 orang adik.
Arka, kakak tertuanya berbeda 4 tahun darinya, sedangkan Alia berbeda 2 tahun darinya. Kedua adiknya Arsen dan Aiza masih duduk dibangku sekolah dasar.
"Assalamualaikum" ucapnya saat membuka pintu.
"Waalaikumsalam" terdengar balasan salam dari dalam rumah. Adira masuk dan melepaskan tasnya.
Saat melangkah menuju dapur, dilihatnya semua piring telah rapi tertata dirak piring. Kakak perempuannya, Alia sedang memotong-motong sayur. Sementara Aiza duduk manis memperhatikan Alia yang sedang bekerja.
"Piringnya kakak yang cuci yah ?" tanya Dira. Alia menggeleng.
"Itu Arsen yang cuci. Katanya lama kalo tunggu kamu pulang"
Adira tersenyum. Arsen memang bisa diandalkan. Walaupun masih berumur 9 tahun, anak itu sangat cekatan. Dia sudah bisa menyapu, membersihkan tempat tidur, mencuci piring hingga mencuci pakaiannya sendiri.
"Arsen mana ?"
"Ke warung beli minyak goreng sama garam"
"Oh. Ibu belum pulang ?"
"Bentar lagi pulang"
Dira mengangguk. Dicoleknya pipi Aiza yang sedang serius memperhatikan Alia. Anak perempuan itu memberenggut.
"Kakak" rengeknya sebal.
Adira tertawa. Ekspresi Aiza benar-benar membuatnya gemas. Jarak umur mereka cukup jauh, 6 tahun. Aiza kini berada dikelas 2 sekolah dasar.
"Udah mandi, ra ? Udah mau maghrib" tegur Alia.
"Tadi aku mandi sebelum berangkat kerja kelompok"
"Assalamualaikum" salamnya bersamaan dengan suara derit pintu. Ketiganya membalas salam secara bersamaan. Tak lama, muncul Arsen dengan menenteng kresek berisi minyak goreng.
"Ini kak. Kembaliannya 18 ribu" ucap Arsen sembari menyerahkan uang pada Alia.
Sebagai kakak perempuan tertua, Alia bertugas memasak dan mengawasi adik-adiknya dirumah.
"Terimakasih. Ayo sekarang kamu siap-siap kemesjid. Ra, ajak Aiza"
"Kakak nggak sholat ?"
"Enggak"
"Bang Arka belum balik ya ?"
"Belum. Abis isya katanya balik. Masih ngerjain tugas"
"Oh gitu. Ayo za, kita ke masjid"
