Prolog

254 9 1
                                        

Surabaya, 1942

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Surabaya, 1942.

Namaku Binar. Bersebelahan dengan gubuk kecilku, menjulang sebuah gedung megah berdinding putih terang. Gedung itu telah berdiri kokoh jauh sebelum aku dilahirkan. Kata Ibu, gedung itu adalah sebuah pabrik pengolahan limun atau yang lebih dikenal dengan nama sirop, milik Belanda. Tak sembarang orang dapat masuk ke lingkungan itu. Apalagi aku yang kala itu hanya bocah berusia 8 tahun.

Setiap pagi, aku dan beberapa temanku selalu menikmati aroma manis yang beterbangan dari pabrik itu sambil sesekali membayangkan betapa sedapnya jika bisa mencicipi minuman itu suatu hari nanti. Sambil memejamkan mata, aku seringkali mencoba menerka-nerka betapa manis saat minuman itu dapat menyentuh lidahku, membasahi kerongkonganku hingga menuntaskan dahaga dan rasa penasaranku akan nikmatnya. Ah, betapa indah khayalan kami saat itu. Sederhana, tapi sangat sulit terwujud.

Sejak berdiri dengan megah di tahun 1923, sirop yang mereka produksi memang hanya dapat dikonsumsi oleh para saudagar atau relasi bisnis bangsa Belanda saja, tidak bagi kami rakyat pribumi. Meskipun rumahku hanya berjarak beberapa jengkal saja dari pabrik tersebut, namun rasa manisnya hanya jadi angan-angan saja. Belum pernah setegukpun ku nikmati. Dapat mencium aroma manisnya setiap hari saja hatiku sudah bergejolak riang.

Saat ini, yang aku tahu kepemilikan pabrik tersebut telah diambil alih oleh Bangsa Jepang. Kau tahu, awal kedatangan orang-orang bermata sipit itu disambut haru kegembiraan oleh kami  rakyat pribumi karena mereka telah berhasil mengusir penjajah Belanda dari tanah kami. Namun juga tak sedikit kegundahan kala hadirnya, apalagi saat kedatangan mereka yang diiringi dengan ledakan dimana-mana.

Kepulan-kepulan asap hitam, jeritan dan tangisan bersatu padu menciptakan gelombang kepanikan. Entah.

Tatkala mereka memilih beberapa gadis seusiaku untuk sekolah atau dipekerjakan entah dimana, tawarannya cukup menggiurkanku. Sama menggiurkannya dengan aroma manis sirop yang hingga detik ini belum jua pernah ku nikmati. Mungkin akan aku pertimbangkan untuk menerima tawaran sekolah.

Bukankah aku telah berjanji pada bapak jika suatu hari nanti aku akan pergi sekolah?

-----

Penggalan kisah ini sudah pernah di publish di IG pribadi, dalam event Ramadhan Writing Challenge 2019.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 11, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BINAR. (Unpublish beberapa dulu, utk satu dan lain hal)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang