Ervina syakira adnan
Yap, mahasiswi akademi kebidanan yang baru saja memasuki semester 2 di Akademi Kebidanan Bandung. Dia termasuk gadis yang ceria yang selalu tersenyum pada sejuta umat, umur Vina yaitu 19 tahun dan 3 bulan lagi dia genap 20 tahun. Sedari dulu Vina telah bercita-cita menjadi bidan yang bisa menyaksikan bagaimana perjuangan seorang ibu untuk anaknya.
Setelah sekian lama libur, hari ini tepat hari senin Vina telah siap mengikuti apel pagi yang dilaksanakan di lapangan depan kampusnya. Dengan sabar Vina mengikuti apel hingga selesai dengan keringat yang bercucuran.
"Ervina syakira adnan woyy gue kangen", Vina yang sedang berjalan santaipun terkejut dengan gerak refleks memutar kebelakang
"Apa banget sih lo, kaget tau gak gue!", dengan kesal Vina pun memukul lengan atas Devi, dengan wajah tidak berdosa nya Devi hanya nyegir kuda menampilkan gigi nya yang putih.
"Calon ibu persit ga boleh galak dong hahahahahaha", santainya Nindi berkata seperti itu membuat Vina yang tadi memukuli Devi beralih kepada Nindi.
"Apa banget ih nyebut gue calon ibu persit, gak ya. Gue takut kalo berhubungan sama tentara gitu nanti gue ditinggal mulu lagi"
Sudah sebulan ini memang Vina didekati oleh seorang komandan prajurit tentara angkatan darat, berawal dari penugasan seorang dosen yang membuat Vina harus mendatangi markas tentara tersebut untuk memeriksa kesehatan para tentara secara menyeluruh, dengan kesal dan tidak bisa membantah Vina pun melaksanakannya dengan dibantu oleh temannya Devi dan Nindi. Padahal tugas seperti ini bukan bagian dari Vina tapi ya sudahlah dia mengerjakannya dengan ihklas.
Dari penugasan itulah Vina didekati oleh seorang komandan yang memang Vina mengakui bahwa dia sangat tampan dan plus tubuhnya yang gagah mengingat bahwa dia adalah seorang tentara, kedua temannya pun setuju dan merestui hubungan Vina dengan komandan tersebut. Padahal orang tua bukan saudara bukan tetapi sudah merestui hubungan Vina.
"Kalau menjalaninya dengan sepenuh cinta dan sayang pasti sanggup deh Vin, dari situlah kesetiaan seorang wanita akan diuji. Dan satu lagi Vin jika ingin menjalani sebuah hubungan jangan dulu liat bagaimana kehidupan lo kedepan tapi, lihat bagaimana lo ngejalaninnya ikhlas atau tidak dari sekarang", dengan tegas Nindi memberi nasihat pada Vina dan hanya sebuah senyuman yang menjadi jawaban Vina.
"Alah sok bijak lo bangke", baru kali ini Devi mendengar kata-kata bijak dari mulut seorang Nindi
"Eh lo tuh yang bangke, gue mah wangi ya lo yang bau, lagian gue ngasih tau Vina bukan lo biji ketapang", akhirnya Devi dan Nindi pun saling memukul lengan atas nya. Vina yang hanya menyaksikannya pun tertawa melihat kelakuan dua sahabat nya itu. Dengan baik hati Vina pun memisahkan mereka dengan memberitahukan ada dosen di belakang mereka.
"Vina kampret lo emang ngerjain doang", mereka berlari memasuki kelas dengan gelak tawa yang tiada henti.
****************
Matahari semakin terbenam dan Vina baru sampai dirumah dengan keadaan rumah yang sepi, karena orang tua Vina sedang berada di rumah saudara Vina yang tinggal di Bali. Vina ingin ikut tetapi karena kuliah sudah mulai masuk dan sudah pasti sebentar lagi akan banyak tugas yang datang.
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatu", setelah mengucapkan salam Vina dengan malas melemparkan tas nya ke atas sofa karena sudah merasa sangat lelah, dan Vina pun merebahkan dirinya diatas lantai yang dilapisi karpet berbulu tebal. Sejak tadi sampai di rumah handphone nya tidak berhenti bersuara menandakan ada yang meneleponnya, dengan malas Vina mengambil nya dan tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo"
"Hai"
Deg
Vina sangat terkejut mendengar suara lelaki yang meneleponnya tersebut dan spontan melihat siapa yang meneleponnya. Dan ternyata
"Apakah saya mengganggu waktu kamu ?", "Jantung gue napa dah", dalam hati Vina sangat gugup dan entah mengapa jantung nya merasa sangat cepat berdetak
Setelah mencoba bersikap tenang Vina menjawab pertanyaan tersebut
"Hmm gak ko", Vina menggerutu dalam hati karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Kamu baru pulang kuliah? Saya tadi mengirimi pesan tapi tidak kamu balas"
"Aku minta maaf soalnya gak lihat handphone lagi dan tadi baru pulang langsung tiduran", memang sejak tadi pulang dari kampus Vina tidak lagi memegang handphone nya karena terlalu malas untuk memegang handphone jadi dia simpan didalam tas.
"Yasudah tidak apa-apa, sekarang istirahat dulu saja"
"Iya, terima kasih", setelah mengucapkan itu Vina langsung mematikan telepon nya dan menempelkannya di dada
"Jantung gue kenapa, ya tuhan tolong Vina", teriakan Vina menggema didalam rumah.
Dalam beberapa menit Vina masih diam ditempat dengan masih dalam rebahan, Vina masih berusaha menenangkan jantung nya. Karena ini pertama kalinya Direza meneleponnya biasanya hanya saling bertukar pesan selama satu bulan ini, itupun jika Direza tidak sibuk dengan urusannya.
Ya komandan tentara itu bernama Direza surya pratama, memiliki pangkat brigadir jenderal yang berasal dari jakarta. Direza berumur 26 tahun dan terpaut cukup jauh dengan umur Vina, tetapi meskipun begitu Direza memiliki wajah tampan yang sangat muda.
**************
Jam menunjukkan pukul 11 malam tetapi Vina masih belum mengantuk, dan untungnya besok tidak ada kelas pagi jadi Vina tidak perlu takut apabila dia merasakan kesiangan. Dengan malas Vina memutar-mutar stasiun televisi nya karena di jam segini banyak film yang membosankan.
Setelah menemukan film yang pas Vina menonton dengan serius sampai adanya bunyi handphone yang menandakan pesan masuk, dengan cepat Vina melihat siapa yang telah mengirim pesan di jam segini.
" Ervina, lusa nanti saya akan ke perbatasan untuk beberapa hari ke depan. Saya akan sangat merindukan kamu"
Deg
*********************
Hai gengs, maafin ya kalo tulisannya ada kesalahn, maklum author udah lama banget gapernah nulis lagi. Terkahir SMP kelas 3 itupun akunnya udah gaada lupa kata sandi. Jadi curhat gue hehe
pokonya kalo suka ceritanya jangan lupa klik bintangnya dan koment ya.
Insyaallah besok update lagi.
VOUS LISEZ
Rindu Yang Tak Tersampaikan
RomanceTeruntuk kamu yang slalu ada di hati tapi jauh untuk di gapai, aku selalu menanti walau kadang aku merasa harus berhenti. Ketika rindu yang sudah tidak bisa tertahan aku harus menangani nya sendiri ?. Jujur ini hubungan tersulit yang pernah aku jal...
