Prolog

420 39 1
                                        

"Yang Mulia Pangeran... saatnya bangun. Rakyat sudah menunggu."

Fajar bahkan belum sepenuhnya masuk melalui tirai ketika suara langkah tergesa terdengar di luar ruang tidur.

Jinyoung mengerang pelan dan berbalik memunggungi cahaya yang menyelinap dari sela tirai.

"Baru saja aku memejamkan mata.." gumamnya serak, lalu akhirnya membuka mata juga. Pandangannya jatuh pada sosok yang berdiri di dekat pintu.

Jaebeom.

Pengawal kepercayaannya itu menunduk hormat, namun sudut bibirnya menyiratkan senyum tipis yang hanya muncul ketika mereka sedang tidak berada di hadapan banyak orang.

"Semua sudah dipersiapkan, Yang Mulia."

Jinyoung mengangguk, lalu bangkit. Rutinitas pagi dijalaninya dengan tenang, mandi air hangat, sarapan sederhana, latihan pedang singkat di halaman dalam.

Tak lama kemudian, lima ekor kuda telah berdiri berderet di gerbang istana.

Empat pengawal mengapitnya, Jaebeom di sisi kanan, sementara Bambam dan Yugyeom berada sedikit di belakang, bersama satu pengawal lainnya. Jinyoung menaiki kudanya dengan gerakan yang ringan dan tegas, lalu rombongan kecil itu pun bergerak meninggalkan istana menuju desa.

Udara pagi membawa aroma tanah dan dedaunan basah. Saat mereka memasuki wilayah pemukiman, suasana langsung berubah.

"Pangeran Jinyoung!"

"Yang Mulia!"

Sapaan demi sapaan memenuhi udara. Wajah-wajah penuh harap menoleh kepadanya, dan seperti biasa Jinyoung membalas semuanya dengan senyum hangat yang tulus.

Ia melambaikan tangan, menunduk hormat kepada para tetua, bahkan menghentikan kudanya sejenak untuk menerima sekeranjang kecil hasil panen dari seorang anak.

Namun di tengah suasana yang khidmat itu, bisik-bisik pelan terdengar dari barisan belakang.

"Kau dengar cerita dari para penduduk desa utara?" bisik Bambam, sedikit mencondongkan tubuh ke arah Yugyeom. "Katanya ada seorang gadis yang tinggal sendirian di hutan bersalju."

Yugyeom mendengus pelan. "Di hutan? Saat musim dingin? Bahkan para pemburu pun tak berani masuk ke sana."

"Aku tidak mengarang. Mereka bilang gadis itu muncul seperti roh penjaga hutan, cantik, tapi tidak pernah terlihat di desa."

Yugyeom mengangkat alis. "Cerita seperti itu biasanya berakhir dengan dua kemungkinan—entah itu dongeng atau... itu hantu."

Jaebeom yang mendengar percakapan itu hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan. Namun Jinyoung, yang berada tak jauh dari mereka, menangkap sebagian kalimat itu.

Mungkin bagi orang lain, hutan hanya menyimpan cerita-cerita aneh.

Tetapi bagi Jinyoung, hutan adalah awal dari segalanya.

The Prince and His Lover ~ (Jinji)Stories to obsess over. Discover now