Awal Dari Segalanya

47 3 0
                                        

:)

Aku menghabiskan 3tahun untuk membencinya,dan entah mengapa aku butuh ribuan tahun untuk menerimanya

Kisah ini dimulai dari waktu umurku 18th dan kini umurku sudah menginjak 21th. Namaku Ririn dwi puspita sari atau akrab di sapa ririn,aku tinggal di daerah jakarta selatan. Aku tinggal hanya bersama ibuku saja, dan ayahku sudah 3tahun meninggalkan kami semua. Rindu rasanya mendapat kasih sayang dari seorang ayah,dan kalian tahu mengapa ayahku bisa meninggal?
Dulu sewaktu aku berumur 18tahun ayahku pemabuk yang hebat dan ditambah lagi pemain judi yang handal dan pemain wanita, sikap ayahku memang seperti layaknya binatang tetapi mau bagaimanapun ibuku tak pernah sedikitpun membenci ayahku. Karna ibu tau untuk menjadi seorang istri yang baik adalah dengan cara tidak melawan perintah ayah dan tidak membantah perintah suaminya.
Aku tak akan menceritakan kejadian ini terhadap siapapun terkecuali aku Khilaf.
Dalam usiaku yang beranjak 18th aku mempunyai teman sekaligus sahabat yang bernama Rama sadewa atau akrab di sapa rama. Entah kenapa pada saat itu aku tak ada niatan untuk memperbanyak teman

***

pada pukul 06:00 pagi ibuku sudah bangun lebih awal untuk membeli sayuran dipasar dan mau tidak mau akupun harus bergegas untuk menghantar ibuku

***
Setibanya di pasar ada seorang tetangga yang mencetus
"Hmm pagi pagi sudah ketemu janda Miskin yang kerjaanya menggoda suami orang"

Sontak kata kata itu menyaring di telingaku seroyak berkata
"ee bu jubaedah!!kalo ngomong itu dijaga ya,ibu saya gak pernah menggoda suami siapapun,termasuk suami ibu! Dan asal ibu tau ya suami ibu aja yang sering dateng ke warung kopi ibu saya sekalian modus sama ibu saya"

"Eee ririn suami saya gak salah ya,lah itu buktinya semenjak ibu kamu jadi janda banyak laki laki yang mampir di warung ibu kamu,dasar janda Ganjen" liriknya dengan penuh ketajaman

"Ibu kalo ngomong jangan sembarangan ya" tunjukku kewajahnya

"Sudah rin sudah,yuk kita lanjutkan kepasarnya udah mau siang juga ini nanti kamu telat berangkat sekolahnya"gumam ibuku. Dan akupun pergi meninggalkan tetangga rempong tersebut

"Sekolah yang bener,biar gak kaya ibumu yang tukang menggoda suami orang"jeritnya dengan lantang

Dan sepontan semua aktivitas di pasar itu berhenti dan menghayati ucapan jubaedah tersebut, akupun langsung berhenti dari jalanku dan berbalik badan langsung berjalan menghampirinya kembali
"eh gentong aer Kalo ngomong dijaga ya"sembari memainkan tanganku keatas kepalanya ingin saja rasanya ku menampar mulutnya yang ember itu.
Anak dari jubaedah pun datang menghampiriku dan sontak menahan tanganku "Jangan pukul ibuku!"
Akupun berhenti dan langsung melihat wajahnya yang tak asing tersebut

"Nih nih kenalin anak gue yang sekolah di Jogja,pinter dia nih kalo ngomong pakai Etika,gak kaya kamu!"sambarnya si jubaedah

Disatu sisi aku malu karna banyak orang pasar yang menyaksikanku bertengkar dengan tetanggaku dan disisi lain aku sangat geram terhadap sikapnya yang mempermalukanku. Dan pada akhirnya aku mengalah untuk kembali kerumah bersama ibuku, bukan karna aku Lemah karna saja ibuku selalu mengajarkanku tentang arti kesabaran.

***

Sesampainya dirumah

"Bu,ibu pagi ini jangan jualan dulu kondisi ibu sedang tak baik,tunggu aku pulang sekolah saja ya,biar aku yang menggantikan ibu"

"Iya rin,kamu yang baik ya sekolahnya yang pintar jangan malas malasan kamu harus jadi anak yang sukses" cetus ibuku sembari diiringi dengan batuk yang sangat mendesak.

"Iya bu,ririn pergi dulu ya,assalamualaikum"

"Waalaikumsalam" melihatkan senyum tipisnya

***

QUIET IN THE CROWD (sunyi dalam keramaian)Stories to obsess over. Discover now