1/2

16 5 2
                                        

15 menit

30 menit

1 jam

2 jam

Sudah terlalu sering dia membuat Anna menunggu terlalu lama. Bisa dibilang ini dimulai saat kekasihnya memasuki pertengahan semester dikuliahnya. Ah iya Hangyul namanya. Lee Hangyul.

Mereka berteman dari mulai sekolah menengah pertama sampai akhirnya di masa SMA Hangyul meminta Anna untuk menjadi kekasihnya. Dan tentu saja Anna menerimanya.

Hangyul memperlakukannya dengan baik saat masih berteman dan menjadi lebih baik plus romantis saat berkencan, sesungguhnya Anna telah terjatuh terlalu dalam dengan pria berparas tampan tersebut.

Seperti yang dibilang pria itu mulai berubah saat memasuki pertengahan, entah itu mulai mengingkari janji ataupun lupa dengan tanggal-tanggal yang menurut Anna berarti bagi hubungan mereka.

Anna tidak tahu tentang sistem pendidikan di fakultas kekasihnya walaupun mereka berada di universitas yang sama. Menurut Anna yang mempunyai teman yang sama fakultas dengan Hangyul dia pulang seperti fakultas yang lain. Sama seperti Anna juga. Jadi yang Anna pikirkan adalah menerka-nerka mungkin Hangyul sedang rindu dengan teman sekolah dan ingin hangout dengan mereka.

Tapi, waktu dimasa sekolah mereka selalu sekelas, bukankah Hangyul bisa juga mengajaknya jika ingin hangout dengan mereka?

Sebenarnya Anna bukan tipe kekasih yang posesif tapi terkadang disaat seperti ini rasa cemas itu suka datang.

Rasa takut ditinggal

Rasa takut saat tiba-tiba Hangyul sudah bosan dengannya dan ingin meninggalkannya

Anna mungkin masih belum sanggup

Seharusnya Anna tahu apabila mereka berkencan, Hangyul akan selalu telat. Anna seharusnya bisa saja datang jam 9 malam saat Hangyul memintanya datang jam 8 malam.

Anna bisa saja meminta Hangyul untuk menjemputnya namun menambah beban Hangyul yang katanya sedang banyak tugas, Anna tidak ingin.

Jadi dia memutuskan untuk bertemu di tempat mereka kencan.

Tidak spesial, Hangyul hanya meminta bertemu di cafe kawasan myeondong yang biasa mereka lakukan untuk mengobrol biasa. Tapi Anna senang jika menyebut pertemuan itu dengan sebutan kencan.

Anna hanya memesan air mineral di sana, dan matanya yang tidak terlepas dari ponsel untuk melihat notifikasi pesan dari Hangyul ataupun hanya membuka instagram untuk mengurangi rasa bosan.

Karena di jam ke 2 Anna menunggu, Hangyul belum mengabari satu pesan pun kepadanya.

"Hahh". Anna menghela napas dengan pelan dan mengalihkan pandangan kearah depan lalu kesekitar tempat cafe. Cafe ini semakin ramai saat semakin malam.

Cafe disini lumayan ramai karena tempat ini didesain dengan interior yang membuat pelanggan merasa nyaman, dan dibuat jendela besar dengan pemandangan diluar cafe yang seharusnya membuat perasaan pelanggan menjadi damai dan tenang.

Ya seharusnya, karena hari ini Anna tidak merasa begitu, terkadang hatinya bertanya-tanya apakah Hangyul sudah bosan dengannya.

Bahkan saat cafe ini semakin ramai -dengan pasangan berkencan atau sekedar siswa-siswi yang belajar bersama- Hangyul belum mengabarinya.

Anna ingin menangis, sungguh. Namun meneteskan air mata di tempat umum seperti ini mungkin itu bukan ide bagus. Jadi Anna mulai melangkahkan kaki keluar dari cafe-

setelah mengecek -entah keberapa kali- pesan dari Hangyul.

Jam 11 malam

Anna menangis di kamarnya. Orang tuanya sempat menanyakan ada apa ketika putrinya datang dengan mata merah menahan tangis, tetapi Anna hanya menunduk lalu memasuki kamar. Merutuki dirinya yang menjadi cengeng apabila terhubung dengan Hangyul.

Ting!

Ponselnya berbunyi dan Anna melihat ada nama Hangyul disana. Mungkin dulu Anna akan kembali ke cafe dan menerima permintaan maaf Hangyul yang disertai beberapa alasan klasik lalu mereka akan berkencan seperti biasanya.
Namun kali ini Anna tidak mau, dia tidak ingin lagi menjadi bodoh untuk segala alasan pasaran Hangyul yang dijelaskan kepadanya.

Drrrrtttt Drrrrttttt

Ponsel itu bergetar dengan foto Hangyul didalamnya. Anna menahan diri untuk tidak mengangkat panggilan itu, dia memilih untuk membenamkan wajahnya pada bantal untuk menutupi suara isakannya.

Mungkin juga keretakan hatinya.

.
.
.

Hangyul baru saja selesai dalam tugas kuliahnya. Dia mengambil jurusan seni, hampir semua seni dia gauli seperti musik, koreografi, desain, dan lainnya. Seni adalah hidupnya.

Hangyul melirik arloji yang ada dipergelangn tangan kirinya

Jam setengah delapan

Itu artinya dia masih memiliki 30 menit untuk bertemu dengan Anna. Dia merapikan laptop beserta barang bawaannya lalu pamit kepada teman seperjurusannya.

"Hey aku duluan".

Di lorong gedung fakultasnya masih cukup ramai, entah itu orang yng mengerjakan tugas seperti dirinya tadi atua sekedar mengobrol dengan teman. Jujur saja Hangyul memang terkenal di fakultas bahkan kampusnya. Ia tampan dan juga anak emas dijurusannya. Siapa yang tidak suka?

Tapi dari semua temannya, Hangyul menjauhi konfrotasi dengan teman lawan jenisnya, ia berteman dengan lawan jenis namun tidak lah akrab. Bahkan bisa dibilang hanya sekedar tahu nama. Sejujurnya dia bahkan merasa aneh jika dirinya dibilang tampan. Satu-satunya teman dekat wanitanya adalah Anna yang sekaligus kekasihnya

"Siswa Hangyul!" Seseorang memanggil dirinya dari arah belakang. Hangyul memutar lehernya dan menemukan dosen Han sedang menuju kearahnya dan berhenti tepat didepannya.

"Boleh aku minta bantuanmu? Bisakah kau membuat desain seperti ini? Aku kehilangan desainku yang lama jadinya aku butuh dirimu untuk menggambar perincian desain ini dan aku lupa ini akan ku kirimkan kepada kreator seni untuk dipresentasikan, bisakah?" Dosen Han terlihat memohon, Hangyul ingin mengatakan bahwa dia tidak bisa namun melihat tatapan dosen Han dia mengangguk menyanggupi itu.

"Bagus, aku akan menemanimu malam ini karna aku sendiri sudah hamoir kebingungan menggambar detail ini, tapi karena kau murid terbaik maka aku memilihmu, beruntungnya aku". Kata dosen Han sambil tersenyum.

"Sebaiknya kerjakan ini diruanganku". Seru guru itu sambil mengajak Hangyul mengikutinya. Namun sebelum itu Hangyul mengambil ponsel yang ada di sakunya untuk mengirimkan pesan kepada Anna yang mungkin saja sudah datang dan menunggu dirinya. Tapi sayangnya ponsel yang ingin digunakan tidak dapat menyala. Lowbatt.

Dia mendesis kesal lalu kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana.

Dia mengaku akhir-akhir ini tugas yang datang kepada dirinya tidak lah dapat ditebak. Para dosen maupun teman fakultasnya sering meminta bantuan untuk mengerjakan tugas mereka. Sesekali Hangyul menolak, namun dia seringkali memikirkan kecemasan yang dilanda teman fakultasnya apabila tugasnya tidak bisa dikerjakan. Hangyul hanya terlalu baik.

To Be Continue

M

on maap aku lagi bucin ama Hangyul gara2 produce x 101 huhuhu ㅠㅠ

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 24, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Be Waiting•LeeHangyul•Stories to obsess over. Discover now