Apa kabar? Pasti sehat kan? Bahagia? Damai? Tenang?. Tolong ajari aku seperti kamu. Tolong bantu aku melupakanmu. Aku kangen kamu.
Ingat Nggak pertama kali kita kenal? Hahaha berawal dari game online ya. Saling mail di game, kemudian pindah ke What's up. Awalnya cuma salam, terus obrolan nggak jelas, eh lama-lama nyaman. Aku nya tapi yang nyaman, kamu nya enggak. Tapi makasih lho udah berpura-pura untuk nyaman selama 9 bulan kepada aku.
Obrolan random selepas Maghrib selalu kita lakukan ya. Aku seperti gadis remaja yang sedang puber dan kasmaran. Istilah sekarang namanya apa ya? Oh iya bucin. Hahaha, aku bucin sama kamu. Padahal aku sudah berusia 26 tahun.
Menginjak bulan ketiga kita kenal, akhirnya kamu mengaku jika kamu sudah menikah. Rasanya? Sakit, sedih dan kecewa. Saat itu aku ingin marah pada mu, kenapa mendekati ku jika kamu sudah punya istri? Taukah kamu, aku sudah terlanjur suka pada mu. Aku masih di tahap kasmaran yang sedang bermekar-mekarnya.
Setelah mendengar pengakuan mu entah kenapa aku jadi cingeng. Dalam 3 hari setelah itu adalah saat terburuk untuk ku. Bayangkan saja, hanya mengingat kamu, aku langsung nangis. Duduk melamun air mataku keluar sendiri. Mungkin kamu beranggapan kalau aku lemah. Tapi kamu nggak akan pernah tau rasanya jadi aku yang nggak punya teman, kemudian datang seseorang menawarkan pertemanan dan rasa nyaman, memberi perhatian. Rasanya sangat menyenangkan dan membahagiakan, namun sayang itu nggak bisa lebih.
Setelah mengatakan jika kamu telah menikah, aku langsung mematikan what's up ku, aku mencoba untuk menata rasa ini. Tapi, kamu mengirimkan email kepada ku melalui game. Kamu berkata, minta maaf dan 'jangan melihat pertemanan karena status'. Nggak sampai sepuluh hari aku luluh dan memaafkan mu.
Setelah itu, peran antagonis ku dimulai. Demi perasaan ku ini aku tidak perduli jika kamu telah menikah. Aku tetap meladeni mu ketika kamu mengirimkan pesan, bahkan kadang aku mengirimi mu pesan ketika aku kangen obrolan absurd kita.
Rasanya lucu, ketika aku selalu menceritakan semua tentang ku padamu, tentang orang orang yang ada dihidup ku tapi kamu tidak pernah membuka diri pada ku. Meskipun begitu aku baik baik saja, yang penting aku mendapat perhatian mu.
Lama kelamaan aku menjadi baper kepada mu. Kita pun mengalami siklus yo-yo. Ya kadang kita jauh yang membuat ku uring uringan namun kemudian kita bisa kembali dekat lagi. Aku mencoba untuk buta dengan keadaan yang sesungguhnya kamu telah beristri.
Beberapa hal yang aku tau tentang kamu, aku nggak tau ini beneran atau hanya karangan mu saja. Kamu adalah anak korban perceraian kedua orang tua mu sehingga kamu diasuh oleh nenek mu. Walaupun kamu anak broken home tapi kamu berhasil menjadi orang yang mandiri, bisa membangun usaha mu sendiri.
Kamu pun pernah bercerita jika kamu pernah berencana untuk menikah ketika usia 27 tahun, ketika kamu mapan, ketika kamu sudah punya rumah, namun pada akhirnya kamu menikah di usia 22tahun. Dan aku bertemu dengan mu ketika kita sama sama menjelang 27 tahun.
Kadang aku bertanya, kenapa kita harus bertemu sekarang? Kenapa aku harus nyaman dan suka kepada mu kalau akhirnya kamu nggak akan pernah jadi milik aku. Apa rencana Allah yang sesungguhnya ketika kita saling kenal, dan nyaman tapi tidak bisa bersama?
Hampir setiap malam kita saling berkirim pesan, bahkan pernah sampai jam dua pagi. Maaf, aku mengambil perhatian mu dari istri mu. Tapi aku tidak menyesal.
Kita lama - lama semakin dekat, sampai siang itu aku mendengar suara mu. Suara mu sungguh lembut, hahaha. Enak saja kamu mengatai ku 'mbeling'. Tapi nggak apa-apa lah, karena aku sayang kamu.
Puncak nya adalah ketika aku tidak bisa tidur entah karena apa, yang jelas aku merasa ada hal buruk akan terjadi. Iseng aku melihat What's up, jam 2 pagi, jam 3 pagi, tumben kamu juga aktif. Aku berfikir, oh mungkin kamu nggak bisa tidur karena memikirkan aku? Aku menjadi terharu.
Siang itu setelah bangun tidur siang aku melihat What's up dan aku kaget kok tumben kamu mengunggah story di what's up. Aku semakin kaget saat melihat keterangan nya, iya kamu mendapatkan hadiah, istri mu melahirkan kedua kalinya, kali ini anak laki-laki.
Kamu tau? Ketika aku hanya membagikan cerita ku hanya untuk mu seorang sedangkan kamu, aku yakin kamu memblokir ku untuk melihat story mu aku nggak apa-apa. Ketika kamu menunjukkan screen shoot percakapan di hp mu disitu aku melihat bukan cuma aku saja wanita yang kamu ajak ngobrol aku nggak masalah, ketika aku melihat tanda bisu di notifikasi kontak ku di hp mu aku nggak sedih.
Tapi ketika aku melihat kamu yang tiba-tiba mengunggah foto keterangan kamu baru memiliki anak kedua mu aku hancur. Kenapa? Kenapa kamu harus hadir di hidup ku? Jadi selama 9 bulan kita dekat, selama itu pula aku menyakiti istri mu yang sedang hamil? Kenapa kamu nggak ngomong.
Aku kecewa kepada mu, aku memblokir nama mu dan bertekad untuk melupakan mu. Sehari dua hari aku bisa, namun hari ketiga aku membuka blokiran kontak mu. Aku menunggu penjelasan mu. Namun hingga saat ini kamu tak pernah datang untuk menjelaskan. Seperti nya nama ku sudah kamu hapus dari kontak mu, aku sudah tak pernah melihat kamu menonton story ku.
Aku bodoh, aku yang sudah dibuat kecewa oleh mu namun hampir setiap jam aku melihat kontak wa mu hanya untuk melihat kapan terakhir kamu aktif. Kamu inget dengan foto dirimu yang kamu kirim ke aku? Iya sepuluh hari sebelum kamu punya anak kedua, sepuluh hari sebelum kamu pergi kamu mengirimi gambar mu pada ku. Aku pakai gambar itu untuk aku mengobrol dengan mu. Mungkin aku gila mengobrol dengan foto. Tapi nggak apa-apa karena itu fotomu
Tolong bantu aku mengikhlaskan semua nya, bantu aku pergi seperti kamu pergi meninggalkan ku tanpa beban. Disini aku masih rindu jika kamu kembali lagi. Namun itu nggak mungkin kan?
Maaf, aku masih menyukai mu
