"kamu akan pindah hak asuh sebentar lagi." seru Mia,ibunda Clarinta saat ia hendak membuka ponsel miliknya.
Clarinta yang sedang membuka sepatu sehabis pulang sekolah itu seketika terdiam lalu menundukkan kepalanya.
"Aku sudah besar ma,aku bisa memilih dimana aku akan tinggal." Clarinta berdiri menggandeng tas miliknya menuju kamar.
Clarinta merebahkan tubuhnya dikasur tanpa menyalin bajunya terlebih dahulu.Ia menatap langit kamarnya,masih membayangkan perkataan ibundanya barusan.
Ya,orang tua Clarinta sudah bercerai sejak satu setengah tahun yang lalu karna Idris,ayahnya Clarinta yang tak pernah menafkahi mereka sepanjang mereka bersama sampai saat sebelum perceraian itu terjadi.
Clarinta yang mengira ia sudah hidup nyaman bersama ibundanya itu terkejut pasalnya ayah clarinta meminta hak asuh Clarinta dipindah tangankan kepadanya saat ini.
Hancur sudah pertahanan hati Clarinta saat ini.bagaimana bisa,ia sudah mengubur dalam-dalam masa lalu yang sangat sakit ini lalu ayahnya datang hanya untuk meminta hak asuhnya dipindah tangankan?ingin sekali Clarinta menampar ayahnya yang tidak tahu diri itu,setelah sekian lama tidak menafkahi lalu menghilang dan sekarang datang hanya untuk meminta itu?.
namun apa daya Clarinta hanya seorang anak yang masih menyayangi ayahnya itu walau sakit ia rasa karna perbuatan ayahnya.
Ia memejamkan mata sambil menenangkan dirinya walau air matanya masih mengalir deras dipipi tirusnya.
Sepersekian menit akhirnya Clarinta sudah masuk kedalam alam bawah sadarnya saat ini dengan masih memakai baju sekolahnya.
↓↓↓↓↓↓
07:25
Clarinta yang sering disapa rinta,perempuan berumur 16 tahun yang notabenenya seorang murid kelas sebelas dismk atlas school kini menginjakkan kaki dikoridor sekolah padahal jam pelajaran sudah dimulai sejak dua puluh menit yang lalu.
Ia yang terkenal nakal dan suka membolos ini berjalan santai menuju kelasnya.
Ibunda Clarinta adalah pemilik sekolah itu,membuat Clarinta dengan seenaknya memasuki jam pelajaran walaupun terlambat,bahkan gurupun sudah paham atas kelakuan dan ketidakhadiran Clarinta dikelas.
Clarinta yang baru memasuki kelas,sudah menjadi pusat perhatian,berjalan dengan tangan kirinya menenteng makanan yang baru ia beli di KFC saat hendak berangkat sekolah dan tangan kanannya yang membawa minuman.
Ia duduk lalu membuka tasnya untuk mengambil buku.
Mood Clarinta saat ini sedang baik hingga dia bersemangat untuk mengerjakan soal padahal biasanya ia menggunakan waktu belajarnya hanya untuk sekedar bermain game online,makan ataupun tidur.
Clarinta duduk bersama dini yang sudah sejak dua tahun lalu menjadi teman baiknya.bahkan bisa dibilang dini adalah tempat Clarinta menampung semua keluh kesahnya selama ini.
"Din,tadi bahas apa aja?" Tanya clarinta membuka percakapan.
"Gatau,gua cuma iya-iya aja dari tadi padahal gak ngerti deh." Ucap dini cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gaguna deh punya temen kaya Lo ini." Ucap Clarinta lalu merubah tempat duduk menghadap damar yang tepat berada dibelakangnya."damar,tadi bahas apa aja?"clarinta menepuk lengan damar.
"Ngebahas keseriusan aku kekamu."ucap damar diiringi tawa renyah.
Clarinta tau damar memang memiliki perasaan padanya sejak lima bulan yang lalu tapi ini bukan saatnya untuk membahas masalah itu.
Clarinta memutar matanya jengah.
"Damar serius dulu coba."
"Ini aku serius rinta."
"Ah bacot deh,Gak usah deket-deket gua."Clarinta mengubah posisinya kembali menghadap kedepan,pusing dengan dua orang yang ada didekatnya ini,manusia konyol yang Clarinta kenal.
"Yaelah maaf Rin gua bercanda tadi elah."ucap damar yang tidak digubris sama sekali oleh clarinta,bahkan sekarang Clarinta sedang fokus kepada Bu Dwi yang sedang menjelaskan didepan papan tulis itu.
Bel sekolah telah berbunyi menandakan waktunya mereka beristirahat.
Clarinta sudah duduk dibangku kantin sekitar lima belas menit lalu sebelum bel berbunyi.Dengan baju yang sudah kotor, lengan baju yang digulung sesikut,dan kaki yang bertengger dibangku panjang itu serta tidak lupa juga rokok yang setia mengapit diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.
Ia bersender pada dinding karna posisi Clarinta saat ini berada dipojok bersama dini dan teman se-gengnya.
selain dini,Clarinta juga punya teman se-geng walau kedekatannya tak sedekat ia dengan dini,karna ia tidak mau banyak berbagi dengan teman-teman yang lainya.
"Rin,pulang sekolah club dulu yuk"ajak Amel teman se-gengnya.
Clarinta menghisap sisa-sisa rokoknya lalu membuang puntungnya kesembarang tempat.
"Hari ini gua mau kerja malem,uang gua abis."
"Nyolong uang nyokap susah amat,udahlah ayok."ucap hariva seraya membuka kaleng soda dihadapannya.
"Guamah bukan lorang yang seenaknya nyolong atau minta sama nyokap-bokap lorang,walau nyokap gua gak pernah ngasih gua perhatian atau uang,gua masih sayang dan masih bisa nyari uang untuk diri gua sendiri."Clarinta menatap hariva dingin.
"Basing Lo deh,gua,hariva,sama Amara mau ke club.din?Lo mau ikut gak?"tanya amel pada dini yang tepat duduk bersebrangan dengannya.
"Gua gak bisa deh kayanya,kaya lorang gak tau aja nyokap gua gimana apalagi malem ini orang tua gua mau liat anak kakak gua sunatan,jadi gua suruh jaga rumah."jelas dini lalu meminum jus jeruk yang tadi ia pesan.
"Dasar anak mami."ledek Amara dengan tawa kecil."Yaudah gengs yuk cabut bentar lagi masuk."
"Sok rajin banget Lo mar,biasa nongkrong sampe pulang sekolah aja."seru hariva diiringi gelak tawa yang lainnya.
"Nilai gua kecil lorang mau tanggung jawab?nanti gua suruh pulang kerumah kita gabisa ngedugem lagi dikost-an gua."
"Lah iya juga,entar siapa yang sering traktir kalo amara pulang."ucap dini antusias.
"Terus siapa juga yang bakal beliin kita bakso kalo kelaperan tengah malem."sambung amel.
"Iya juga,terus siapa juga yang mau masakin kita waktu kita nginep bareng kalo gak ada Amara."seru Clarinta.
"Bacot kalian,yaudah Ayuk."Amara berdiri diikuti yang lainnya lalu berjalan menuju kelas.
Hay,bagus gak ceritanya?maaf ya aku penulis amatir hehe..semangatin dong biar bisa lanjut.
Jangan lupa vote and koment♥️
YOU ARE READING
helf myself
Teen Fictionclarinta ramaniya nama yang mempunyai arti putri kecil yang disayang dan terkenal,tapi berbeda dengan kehidupan sebenarnya.Hidup yang hanya penuh dengan penderitaan dan rasa sakit. Sedikit mengangkat dari kisah hidup sendiri.
