first

117 8 4
                                        


Happy Reading!

~


April 1870

Udara di awal bulan april sudah mulai menghangat, tidak seperti udara di bulan-bulan sebelumnya. Bunga-bunga mulai bermekaran, menandakan musim semi telah tiba. Kicauan burung di pagi hari ini ikut meramaikan suasana.

Seorang pria berjalan ke arah ladang, dengan cangkul yang disenderkan ke bahunya. Sambil berjalan ia menikmati udara segar pagi hari Desa Duoyishu, sebuah desa indah yang terletak di Tiongkok.

Dia adalah Yuan Senlin, seorang pemuda yang hari-harinya dihabiskan untuk mengurus ladang peninggalan kedua orang tuanya. Dia bukanlah petani yang makmur, namun ia merasa berkecukupan. Dalam mengelola ladang ia dibantu oleh kakaknya, Yuan Xiatian.

Ladang yang mereka miliki berukuran tidak terlalu besar, namun mereka menanam banyak tumbuhan. Sawi, lobak, labu, wortel, dan masih banyak lagi. Hasil dari olahan ladang mereka titipkan ke toko milik Zhou Jianying, seorang pedagang sekaligus sahabat dekat Senlin.

Jalanan terjal dilewati oleh Senlin dalam perjalanannya menuju ladang. Ladang mereka tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan sekitar dua puluh menit berjalan kaki. Hari ini, Senlin pergi ke ladang hanya seorang diri. Sudah hampir seminggu ia berladang seorang diri. Kakaknya tidak dapat menemaninya karena ia dan istrinya serta anaknya pergi ke rumah mertuanya.

Senlin bukannya tidak memiliki niat untuk menyusul kakaknya, ia sangat ingin. Ia sedang berusaha untuk mengumpulkan uang agar dapat menikahi wanita yang ia cintai, Zhang Xianghua. Xianghua merupakan gadis pertama yang berhasil menyentuh hati kecil Senlin.

Xianghua adalah gadis yang cantik. Wanita bermata sipit itu memiliki rambut panjang yang indah, yang sering ia biarkan tergerai. Kulit putih bersihnya bagaikan porselen mahal yang tak ternilai harganya. Pipinya selalu merona merah, dan itulah yang membuat Senlin jatuh hati padanya. Kepribadiannya yang baik hati dan mandiri juga turut membuat Senlin semakin jatuh hati. Bahkan di umurnya yang masih muda ia memiliki toko bunga kecil yang terletak disebelah toko Jianying. Jianying lah yang memiliki peran dalam proses perkenalan mereka.

Pemuda itu tersenyum mengingat gadis pujaan hatinya. Beberapa orang yang berpapasan dengannya dan menyapanya bahkan tidak ia hiraukan. Ia terus berjalan sambil tersenyum seperti orang gila.

Sampai akhirnya ia tersadar ketika sampai ke ladang miliknya. Ia memulai pekerjaannya hari ini. Ia memberikan pupuk ke beberapa tanaman. Ia memotong rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar tanamannya. Ia juga mulai menanam beberapa sayuran dan buah-buahan baru.

Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Artinya sudah waktunya pemuda itu untuk kembali ke rumah. Sebelum pulang, ia memetik beberapa buah dan sayuran yang akan ia bawa ke kediaman Xianghua. Setelah memetik beberapa jenis sayuran dan buah-buahan, ia kembali ke rumahnya terlebih dahulu untuk mandi. Setelah itu ia mendatangi rumah Xianghua dalam keadaan bersih dan segar.

^^^

Senlin tiba di depan toko bunga milik Xianghua, namun toko itu tutup. Ia berjalan masuk ke dalam rumah kecil di belakang toko itu. Rumah kecil dengan taman kecil yang rimbun, dan kolam kecil yang indah.

Dia mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban dari dalam. Dia mendorong pintu kayu itu, dan berjalan masuk. Ia mendengar suara orang terbatuk-batuk dari arah dapur.

Xianghua sedang duduk di salah satu kursi, membelakanginya. "Baobei?" Senlin berusaha menarik atensi wanita itu. Wanita itu berbalik kemudian tersenyum kepada Senlin. "Ada apa denganmu? Kau sangat pucat hari ini?" Senlin menyadari keadaan gadisnya yang terlihat seperti kurang sehat.

"Aku hanya sedikit lelah, pesanan bunga di tokoku akhir-akhir ini cukup meningkat," ucap gadis itu menjelaskan keadaannya.

"Oh begitu, dimana ibumu?" pria itu kembali melontarkan pertanyaan padanya. 

"Ah, ibuku sedang ke pasar. Kau harus tinggal dan makan malam bersama kami." Gadis itu menampilkan senyum memohonnya, yang membuat Senlin menyetujui ajakan gadis itu.

"Aku membawa beberapa buah-buahan dan sayuran. Mungkin dapat dimasak untuk makan malam nanti," ucap Senlin sambil menunjukkan kantung yang ia bawa. Kantung itu diterima oleh Xianghua. 

"Terima kasih banyak, aku akan menyimpan ini dulu," ucap Xianghua kemudian meninggalkan Senlin untuk menyimpan buah dan sayuran itu.

Saat ia duduk sendirian di meja makan, Senlin menyadari ada sapu tangan yang ada bercak merah terletak di atas meja. "Hei, bercak apa itu? Apakah itu darah?" ucap Senlin sambil menunjuk sapu tangan berwarna putih itu. Xianghua yang terkjeut atas pertanyaan Senlin memberikan reaksi berupa mata yang membulat. 

"Bukan ... itu hanya bekas makanan yang berantakan di meja. Aku harus meletakkan sapu tangan ini ke tumpukan cucian." Xianghua langsung berjalan meninggalkan Senlin dengan beragam pertanyaan di benaknya.


tbc

~

Deep In The Forest (COMPLETED)Stories to obsess over. Discover now