"Isyaa!"
"Apaaaaa?" Isya menghentikan jalannya saat ia melihat Doyeon berlari kearahnya dari arah berlawanan.
"Sumpah sumpah sumpah, di kelas kita ada anak baru!" Doyeon berjalan beriringan dengan Isya. "Ganteng banget, sumpah!"
"Masa?" Isya bertanya gak tertarik.
"Iya ih, tar lo liat aja."
"Iya iya bawel!"
Saat Isya dan Doyeon masuk ke kelas, pandangannya langsung tertuju sama si anak baru yang duduk di belakang tempat duduk Isya.
What. The. Hell.
Sambil berjalan menuju bangkunya, kedua netra Isya tidak berhenti menatap laki laki itu.
"Kedip kali." Doyeon menyenggol Isya. Ucapan Doyeon membuat laki laki itu menengok ke arahnya.
"Hah-Apa?" Isya agak kaget mendengar ucapan Doyeon. Saat ia melihat kembali ke laki laki itu, mereka bertukar pandang.
Gila.
Itu beneran dia.
Isya langsung memalingkan pandangannya dan duduk di bangkunya.
"Eh Sya, gue kedepan dulu ya Lucas manggil."
"Hah- Iya."
Isya diam ditempatnya. Otaknya masih memproses keadaannya sekarang. Namun semua konsentrasinya buyar ketika orang dibelakangnya berbisik,
"Lo icha kan?"
Jantung Isya berdegup sangat cepat. Iya menarik nafas sebelum membalikkan badannya.
"Bukan. Gue Isya."
Laki laki itu tersenyum penuh kemenangan. "Gue Yohan. Pindah dari Bandung." Ucapnya menekankan kata terakhirnya.
"Oh."
Yohan berdiri lalu berjalan ke meja Isya. Lalu menaruh kedua telapak tangannya di meja Isya, dengan matanya menatap tajam mata Isya.
"Yorisha Nathania, jangan kira gua lupa." Ucapnya tajam, lalu pergi keluar kelas. Isya langsung menaruh kepalanya di meja. Dan bernafas lega.
Bisikan terdengar diseluruh penjuru kelas. Doyeon yang sedari tadi memperhatikan di pintu langsung menghampiri Isya.
"Weh gila gercep banget lu. Baru 5 menit Sya, gue keluar."
Isya tetap diam di posisinya.
"Siapa namanya Sya?"
"Gila."
"Hah?"
"Dia gila Doy, gila."
"Apaan sih Sya. Bilang aja ga mau ngasih tau."
Isya hanya diam.
--
"Jadi pelajarannya sampe sini dulu. Ada yang mau bertanya?" Guru matematika wajib itu bertanya. Namun kelas hening. "Oke kalau tidak ada. Selamat siang dan kalian boleh istirahat."
Anak anak kelas itu langsung berlarian keluar. Isya melihat kebelakangnya. Yohan tidak kembali setelah ia pergi tadi pagi. Masih baru udah berani aja.
"Kantin ga?" Doyeon bertanya.
"Ga laper. Lo aja." Doyeon mengisyaratkan 'ok' lalu keluar kelas
Ia mengambil handphonenya dari tasnya lalu menyalakan data seluler. Saat ia sedang scroll timeline instagramnya, notifikasi line masuk.
yohan
gue tunggu di belakang kantin
Apaan sih ni orang. Dapet line gue darimana coba. Setelah membaca pesan itu, ia kembali scroll instagramnya.
Namun ia dikagetkan dengan layar yang menunjukkan free call masuk dari si pengguna bernama yohan. Ia menggigit bibirnya lalu menjawabnya.
"H-halo?"
"Sekarang, Icha." Suaranya tegas. Membuat lidah Isya kelu. Walaupun Isya gabisa ngeliat dia sekarang, Isya bisa membayangkan mata tajamnya. Suaranya membuat Isya merinding.
Sambungan telpon itu hening untuk sesaat. Isya diam, berharap Yohan membatalkan perintahnya.
"Icha,"
"Iya iya sebentar!"
Icha langsung berlari ke belakang kantin, mencari keberadaan pemuda itu. Saat memasuki wilayah belakang kantin, asap rokok langsung masuk ke paru paru Isya, membuatnya terbatuk batuk.
Disini, ada banyak siswa berandal yang merokok. Memang ini tempat mereka biasa melanggar peraturan. Dan biasanya, adik kelas yang dianggap 'sok' akan dibawa kesini.
Banyak mata tertuju kepada Isya ketika ia kesana. Namun banyak juga yang tetap tidak peduli. Mata Isya menangkap insan yang sedari tadi ia cari. Tidak berniat masuk lebih jauh, Isya menunggu orang itu menyadari kehadirannya dan menghampirinya.
"Woi, Sya! Ngapain disini?"
Isya kaget saat ada tangan meraih pundaknya. Ia berbalik. "Eh Woojin! Ngga ini lagi nunggu orang aja."
"Ngapain sih Sya disini? Bahaya."
"Gabakal mati kan, Jin?"
"Bisa aja."
"Masa-" Belum selesai Isya berbicara, handphonenya bergetar. Menunjukkan free call masuk lagi. Isya menengok ke arah Yohan. Yohan mengisyaratkan Isya untuk mengangkat telponnya. "Eh Woojin bentar dulu ya."
"Dari tempat lo, lurus terus belok kanan. Diem disitu."
Isya menurut dan berjalan, lalu berbelok ke kanan. Mendapati tempat yang masih daerah belakang kantin namun tidak ada orang disana.
Sekarang Isya heran, Isya sekolah disini lebih lama dari Yohan. Tapi kok Isya gatau ada tempat ini?
"Disuruh ketemu sama gue malah ke cowo lain."
Lamunan Isya buyar mendengar suara Yohan tiba tiba. Yohan mengeluarkan sebungkus rokok marlboro merah, menawarkannya ke Isya. Isya menggeleng, lalu menutup hidungnya saat Yohan membuang asap dari hidungnya.
"Ooh," Yohan berkata meledek. "Anak baik ya sekarang?" Ucapnya sarkas.
"To the point aja."
"Sekarang berani galak lo sama gue?" Ucap Yohan menjetikkan abu rokoknya ke meja dibelakang Isya. Memperpendek jarak diantara mereka berdua. "Gausah sok galak. Gue tau lo takut sama gue."
"K-kata siapa." Ucapnya terbata. Kenapa harus sekarang sih gugupnya?
Yohan tertawa. "Kenapa sih lo takut? Takut ya, kalo gue kasih tau ke temen temen lo kalo lo-" Ucapan Yohan terhenti ketika Isya membekap mulutnya.
"Jangan sekarang. Jangan disini."
"Oh. Takut beneran ternyata."
"Berisik. Udah kan itu doang?" Ucap Isya lalu berjalan hendak kembali ke kelas.
"Jaehyun," Yohan menyebut nama itu agak lantang, membuat langkah Isya terhenti. "Masih mikirin lo."
Isya menahan napasnya, lalu berjalan lagi kembali ke kelas.
--
"Astaga, Isyaaaa! Bau rokok banget sumpah, pake parfum gue buruan!"
"Hah emang iya?" Isya langsung mencium seragamnya.
"Abis darimana si lo? Dari belakang kantin?"
Isya mengangguk sambil menyemprotkan parfum Doyeon ke seluruh tubuhnya.
"Astaga Isya cantik ku ngapain kesitu???"
"Disuruh sama dia." Isya berbisik sambil menunjuk oknum yang baru saja memasuki kelas itu.
"Hah serius?" Doyeon agak kaget lalu menutup mulutnya. "Astaga Isya, what have you gotten yourself into?"
"A nightmare." Ucap Isya.
Yohan yang melewati Isya hanya menatapnya dan tersenyum kecil.
"The worst one."
