1

181 32 8
                                        


Gegap gempita menyambut para murid SMA Generasi Bangsa. Mereka semua menjadi ricuh. Berlarian ke sana ke mari. Melompat-lompat berusaha mencari nama mereka pada sebuah kertas yang tertempel pada jendela.

Bising yang mereka ciptakan terdengar hingga luar lingkungan sekolah. Guru pun kewalahan untuk menertibkan mereka agar tidak terlalu berisik karena dapat mengganggu lingkungan di sekitarnya.

"Btw, kira-kira kita sebangku sama kelas 11 atau 12 ya?" tanya seorang gadis berparas cantik apalagi ditambah senyuman manisnya yang membuat siapapun yang melihat dapat tersihir. Gadis tersebut bernama Anggun Kraya Lennata.

"Gue ga tahu tuh, dulu sih kalo di SMP kelas 1 sama kelas 3. Tapi ya ga tahu juga sistem di sini gimana" sahut seorang gadis juga yang bernama Wulan.

"Wulan! Kalo lagi ngobrol itu lihat lawan bicaranya" gadis itu memekik kesal.

Wulan yang sedari tadi memainkan ponselnya terkekeh "Iya-iya maaf" lalu menaruh ponselnya pada saku rok seragamnya.

"Nah gitu dong"

"Gun, nyari ruangan kuy! Sekalian liat nama kita nanti seruangan sama kelas mana gitu" ajak Wulan.

"Nanti dulu ah males pasti penuh, desek-desakan nanti" balas Anggun.

Wulan mendengus kesal "Terserah lo!"

"Yah jangan ngambek dong lan. Nanti makin jelek lho" canda Anggun.

"Oh jadi menurut lo gue itu emang udah jelek gitu?!" sinis Wulan.

Anggun tertawa "Bercanda sayang, gue minta maaf deh. Ya udah ayo nyari ruangan"

Wulan dan Anggun pun berjalan beriringan untuk mencari ruangan karena 3 hari lagi menjelang Ulangan Tengah Semester.

Mereka sampai pada ruangan yang mereka tuju. Benar saja dugaan mereka, di depan jendela sudah banyak siswa kelasnya dan kakak kelas untuk melihat pengumuman nama mereka.

"Gun, ternyata kita duduk sebangku sama kelas 11 anjir. Wah gile" bisik Wulan pada Anggun.

Mereka berdua benar-benar kesulitan untuk melihat nama mereka.  Banyak kakak kelas menghalangi mereka berdua. Semua oknum yang berada di sana sangatlah membuat gaduh.

"Kakak kelas emang nyebelin. Mentang-mentang jadi senior, halangin junior sembarangan" gerutu Anggun yang kesal melihat kelakuan seniornya itu.

"Sabar-sabar zeyeung" sahut Wulan yang berada di sebelahnya.

Anggun mendengkus kesal. Ia lagi-lagi berusaha melihat namanya dan nama teman sebangkunya nanti, tapi nih.  Gadis itu menepuk salah satu bahu kakak kelas.

Kakak kelas tersebut menoleh "Kenapa de?"

"Kak maaf gue mau lihat nama. Bisa minggir dulu ga?" pinta Anggun yang menatap senior itu.

"Oh ga kelihatan ya dek? Habisnya lo pendek sih" balas senior itu cengengesan.

Anggun membelalakan matanya saat senior itu mengatakan dirinya pendek. Sungguh menyebalkan. Bukan pendek, tapi kurang tinggi saja.

"De, nama lo siapa? Sini biar gue yang cariin trus nanti gue kasih tau orang yang sebangku sama lo" ucap senior cowok yang Anggun tepuk bahunya tadi.

"Anggun kak" Gadis ini tersenyum senang melihat kepekaan senior ganteng di depannya ini.

Cowok itu pergi dari hadapan Anggun. Kalau dipikir-pikir cowok itu lumayanlah. Ganteng, putih, senyumnya juga manis.

Senyum Anggun merekah saat cowok itu menghampirinya "Gimana kak? Gue satu bangku sama siapa?"

"Sama si E—"

"WOY SIAPA YANG NAMANYA ANGGUN!?" teriak salah satu senior cewek yang tidak jauh dari sana.

Anggun mengernyitkan dahinya bingung. Kenapa ada senior yang ia tidak kenal, tapi mencari dirinya. Apa mungkin gadis itu punya masalah dengan senior?

Wulan refleks menunjuk Anggun. Otomatis segerombolan senior cewek mengamhampiri gadis itu. Tapi anggun bukan gadis tipikal penakut, ia seorang gadis pemberani pada siapa pun, kecuali sama Tuhan takut kena azab.

Telunjuk salah seorang dari gerombolan tadi melayang tepat do wajah Anggun "Lo yang namanya Anggun?"

Yang ditanya sih cuma kicep-kicep aja.

"Lucky girl " orang tadi berucap. Anggun melongo di tempat, tidak mengerti maksud dari kalimat tersebut.

Suara melengking terdengar di lorong atas "ANGGOENNNNN!!!!" teriak seorang gadis berkacamata.

Merasa terpanggil gadis itu menoleh ke arahnya "Apaansih lo?"

"Gun, lo parah...parah..., lo ga kasih tau gue sih. Lo duduk sebangku sama Kak Erwin. Beruntung banget sih lo, tukaran tempat duduk yuk" ujar gadis itu mengerucutkan bibirnya.

Anggun terkejut bukan main. Otaknya perlu beberapa waktu untuk mencerna fakta tersebut.

Siapa yang tak kenal Erwin?

Erwin Satria Oryza. Cowok populer yang memiliki paket komplit. Mulai dari kehidupannya yang takjir, kepintarannya tak diragukan, wajah tampan, hidung mancung, rahang kokoh,  tubuhnya tinggi, atletis, eskulnya aja ikut beladiri, kurang apa coba?

Arti nama belakangnya itu adalah padi. Kenapa? Karena emak bapaknya itu pengusaha beras terkenal di mana-mana, mau di kampung atau di kota.

Ibadah? Jangan ditanya lagi, suka ibadah kok.

Mungkin emaknya dulu suka ngidam yang komplit-komplit kali ya? Jadi anak yang berojol juga komplit. Abaikan ;(

Semua siswi ingin sekali bisa duduk satu bangku sama Erwin. Kan lumayan, kalo ada soal susah tinggal nanya ke sebelah. Plus bisa lihatin mukanya yang ganteng, skalian modus. Biasalah ciwi-ciwi, liat yang ganteng bawaannya gitu.

Tapi tidak untuk seorang gadis bernama Anggun ini. Ia tidak senang ketika mendengar kabar bahwa dirinya harus duduk satu bangku selama 1 minggu lebih bersama Erwin.

Persetan dengan kepintaran cowok itu. Yang membuat dirinya tidak suka adalah...

Erwin adalah mantan pertamanya

Bagi Anggun, mantan adalah sebuah masa lalu yang menjadi kenangan. Ia tidak suka jika Si Mantan, perlu digaris bawahi ya readers Si Mantan kembali datang mengusik hidupnya.

"Hello ex, ke depannya kita bakal punya waktu buat dekat kembali. Kayaknya gue akan buat lo flashback ke masa-masa indah kita" bisik seorang cowok. Ya cowok itu Erwin.

Tubuh Anggun mendadak beku seketika. Lidahnya kelu untuk membalas ucapan cowok di belakangnya ini.

Sekian dan Terimakasih

Thank U, ExTahanan ng mga kuwento. Tumuklas ngayon