Gerimis yang tadinya turun malu-malu kini menjelma menjadi gempuran hujan deras, seolah-olah langit ikut menumpahkan kesedihan yang tak tertahankan. Di sebuah pemakaman yang tenang namun mencekam, berdirilah sebuah keluarga kecil, hancur berkeping-keping oleh badai takdir yang kejam.
Delapan tahun yang lalu, sebuah tragedi kecelakaan beruntun di jalan raya antarprovinsi telah merobek kebahagiaan mereka, merenggut sang ibu untuk selamanya. Dan sore ini, duka lama itu dipaksa menganga kembali saat tanah merah basah menelan peti mati wanita yang mereka cintai.
Jasson Hardja, seorang saudagar kaya raya yang dikenal tegap dan berwibawa di dunia bisnis, kini berdiri dengan bahu merosot dan tatapan kosong menatap nisan marmer yang dingin. Harta kekayaannya yang melimpah tak lagi berarti apa-apa di hadapan kejamnya takdir. Air matanya mengalir deras, menyatu dengan rintik hujan yang menghantam wajahnya.
"Hik... hik... Ayah... kenapa ini semua harus terjadi pada keluarga kita?!"
Jeritan Shania, si bungsu yang baru berusia delapan tahun, memecah kesunyian makam. Tubuh mungilnya gemetar di balik payung hitam yang tak mampu menghalau dinginnya angin sore. Wajahnya yang biasa ceria kini sembab total; matanya merah meradang, membengkak karena terlalu banyak menangis. Dengan jemari kecilnya yang basah, ia meremas dan menarik-narik ujung kemeja hitam Jasson, menuntut sebuah jawaban yang mustahil bisa dijawab oleh logika manusia.
Melihat kerapuhan putrinya, pertahanan Jasson runtuh. Pengusaha yang biasa disegani itu menjatuhkan lututnya ke atas tanah yang mulai berlumpur. Pakaian mahalnya kotor seketika, namun ia tak peduli. Dengan tangan yang bergetar hebat menahan sesak yang menghimpit dada, Jasson menarik Shania ke dalam dekapannya.
"Kau yang sabar ya, Nak... Ini semua adalah ujian untuk kita semua," bisik Jasson. Suaranya parau, pecah di ujung kalimat. Ia memeluk Shania begitu erat, seolah-olah jika ia melonggarkan pelukan itu sedikit saja, putri kecilnya juga akan ikut lenyap ditelan badai. Jasson memaksa dirinya untuk tetap menjadi tiang penyangga, meski separuh jiwanya sendiri telah ikut terkubur bersama peti mati di bawah sana.
Sementara itu, hanya berjarak dua langkah dari dekapan hangat ayah dan anak tersebut, berdiri sang putri sulung, Veranda.
Gadis remaja berusia tiga belas tahun itu berdiri tegak, mematung layaknya patung lilin. Berbeda terbalik dengan Shania yang histeris dan meledak-ledak, Veranda justru dilingkupi kesunyian yang mencekam. Tidak ada air mata yang menetes di pipinya, tidak ada isakan yang keluar dari bibirnya yang mulai memutih karena hawa dingin.
Veranda perlahan berlutut di sisi lain nisan. Jemarinya yang pucat bergerak perlahan, mengusap permukaan batu nisan ibunya yang basah oleh air hujan. Sorot matanya kosong, namun jika dilihat lebih dekat, ada kilat luka yang teramat dalam dan pekat di sana. Di balik keterdiamannya, isi kepala Veranda sedang berputar hebat, mencoba mencerna kenyataan pahit yang menghantamnya bertubi-tubi.
‘Mulai hari ini, tidak akan ada lagi pelukan hangat di malam hari. Tidak akan ada lagi nasihat lembut yang menenangkan saat aku takut,’ batinnya menjerit tanpa suara.
Pandangan Veranda beralih sejenak pada adiknya yang sedang menangis di pelukan sang ayah. Detik itu juga, sebuah kesadaran baru menghantam dadanya. Sebagai anak tertua, ada beban tak kasat mata yang tiba-tiba jatuh menimpa pundaknya yang masih belia. Ia merasa harus kuat. Ia merasa tidak boleh terlihat lemah di depan Shania.
Hujan turun semakin lebat, membilas kelopak bunga mawar yang berserakan di atas gundukan tanah baru tersebut. Di bawah langit yang enggan bersahabat, sebuah keluarga yang dulunya utuh, hangat, dan damai, kini dipaksa berdiri di titik nadir. Mereka harus mulai belajar merajut kembali sisa-sisa hati yang hancur, bersiap menghadapi badai kehidupan baru yang tak lagi sama tanpa kehadiran sosok ibu.
YOU ARE READING
JANGAN BENCI KAKAK
HorrorPembaca ; dewasa Tema : horor dan misteri Gangre :Genre: Horor, Thriller, dan Misteri. Sinopsis Kisah ini berpusat pada dinamika hubungan saudara perempuan yang dipenuhi dengan rasa benci, dendam, dan elemen mistis. Cerita bermula dari konflik int...
