[On going]
'Senja itu--
Kali terakhir kau mengingatku, sebelum segalanya terasa menghilang, termasuk dirimu yang kukenal.'
Start: 1 Juni 2019
Finish:
®2019,gg_project
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
~•~
Seoul, 30 Mei 2014
Deburan ombak menyapu kedua pasang kaki yang sedang berlari menyusuri pantai. Tak dihiraukan ombak yang menerjangnya, mereka tetap berlari disertai seulas tawa yang menghiasi sore ini.
Teriak lelaki yang berseru kepada gadis yang berlari jauh dihadapanya. Ia mencoba mengambil sesuatu yang sudah direbut gadisnya itu.
"Tidak! Ini punyaku, wlee." sedangkan gadis ini terus-terusan berlari menghindar dari pria tersebut.
"Aih--lepaskan aku."
"Tidak, kembalikan ice creamku dulu." Lelaki tersebut terus saja memeluk gadis tersebut dari belakang. Mengangkat tubuh mungilnya ke kanan dan kekiri, sehingga gadis tersebut semakin tertawa.
"Iya-iya akan ku berikan, lepaskan aku dulu."
Lelaki ini melepaskan pelukan tersebut. Menghadap ke gadisnya, lalu mengulurkan tangan meminta ice creamnya kembali.
"Sekarang kembalikan ice creamku!"
"In--" Jung Eunha yang baru saja menapakkan kakinya di pasir mundur beberapa langkah dari prua tersebut.
"--your dream. Hahaha!!!"
Eunha yang mencoba mengembalikan ice cream mengurungkan niatnya dan beranjak lari. Ternyata ia berniat mengerjai kekasihnya itu. Tapi lelaki tersebut sudah menarik tangan Eunha terlebih dahulu, jadi gadis itu tidak bisa berlari lagi.
"Ya!! Kau mengerjaiku?! Dasar gadis nakal, kau harus kuberi pelajaran."
"Aku tidak takut!"
"Kalau begitu--"
"Hei, lihatlah! Matahari sudah mulai terbenam."
Ucapan sang lelaki terpotong lantaran sang gadis mencela omonganya. Gadis itu menunjuk ke matarahari yang seakan tertelan oleh hamparan laut luas.
"Benarkah?"
"Lihatlah! Sekarang kau harus memenuhi janjimu padaku."
"Baiklah."
Sang lelaki menarik nafas panjang. Kemudian menatap wajah damai kekasihnya. Tersenyum teduh agar sang kekasih merasa nyaman.
"Happy birthday, Jung Eunha. Semoga kau menjadi lebih baik lagi dan tetaplah bersamaku hingga ajal menjemput kita. Aku mencintaimu..."
Gadis ini tersenyum, kemudian membalas ucapan sang kekasih.
"Terimakasih, Jungkook. Semoga Tuhan mendengar doamu. Aku juga mencintaiku."
Eunha ingin tersenyum menang, tapi ia tersentak ketika Jungkook tiba-tiba meraih pinggangnya dan kemudian menempelkan material yang lembut itu ke bibir ranum Eunha. Ice cream yang ia pegang terlepas dari tanganya, tergeletak mengenaskan di pasir kemudian hilang karena tersapu oleh ombak.
Mereka saling menyalurkan perasaan cinta mereka. Bercumbu lembut di sunset yang indah. Dan siapa sangka jika hal tersebut adalah pertemuan terakhir mereka di tahun ini.
~•~
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
~•~
Seoul, Agustus 2014.
"JUNGKOOK!! Tidak Bu, jangan bawa Jungkook pergi!"
"Maaf Eunha, Jungkook harus kami bawa pulang. Dia butuh istirahat di sana."
"Tidak, Bu! Istirahatkan saja di sini. Aku akan merawatnya, kumohon Bu."
"Sekali lagi maaf Eunha, Ibu.. tidak bisa."
"Kumohon Ibu. JUNGKOOK!! JANGAN PERGI!!"
"JUNGKOOK!! Hiks..."
"Jung--hiks--"
Gadis ini tak kuasa menahan kakinya. Ia terjatuh, tangisnya pecah ketika melihat mobil hitam yang Jungkook tumpangi semakin menjauh. Hatinya menjadi rapuh, tak kuasa menahan semua yang terjadi padanya saat ini.
Perempuan paruh baya yang Eunha sebut sebagai ibu itu adalah ibunda Jungkook. Jika kalian bertanya Jungkook kenapa. Jungkook sedang mengalami koma yang mengharuskan ia melakukan pengobatan di Busan, kota tempat asalnya.
Kecelakaan hebat tiga bulan lalu yang membuat dirinya tertidur lama. Membuat gadis yang bernama Eunha ini kehilangan prioritasnya. Apalagi mendengar Jungkook akan dipindahkan ke Busan. Sungguh, rasanya ia ingin mati saja.
Tapi niatnya ia urungkan, ia masih ingin menunggu Jungkook sembuh dan kembali padanya. Menikah bersama dan membangun suatu rumah tangga yang harmonis disertai dengan seorang buah hati. Ya, Eunha ingin harapanya itu segera terkabul.
"Aku percaya, kau pasti sembuh. Aku akan tetap menunggumu meski kau kembali dalam keadaan apapun."
~•~
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.