Perkenalan

24 6 0
                                        

Namaku Ilani Anantasya, panggil aja aku ila

Usiaku baru 17 tahun
Dan sekarang aku kelas sebelas sekolah menengah atas

Disekolah,
Aku bukanlah orang yang populer atau bisa dibilang aku siswi biasa saja
Karena disekolahku, biasanya anak yang populer itu adalah anggota kepengurusan OSIS dan anak yang aktif di dunia ekstrakurikuler saja. Selebihnya hanya orang biasa yang menjalani kehidupan sekolahnya dengan hanya belajar

Tapi bukan berarti aku seperti itu
Karena akupun sebenarnya mengikuti salah satu ekstrakurikuler disekolahku, hanya saja ekstrakurikuler yang aku ikuti itu tidak cukup populer dibandingkan ekstrakurikuler lainnya. Aku mengikuti ekstrakurikuler PMR, ekskul yang diminati hanya segelintir orang disekolahku

Sekolahku adalah sekolah yang hampir semua penghuninya adalah kaum berada, yah meski ada juga dari kalangan bawah. Itupun hanya beberapa dan mereka dari kalangan bawah itu merupakan anak bea siswa yang beruntung. Mengapa aku bisa berkata seperti itu? Karena persaingannya begitu ketat. Tahun lalu saja yang mendaftar jalur beasiswa sekitaran 1.500 dan yang diterima hanya ada 15 anak yang mempunyai nilai sempurna

Dan soal ekstrakurikuler yang aku pilih, Ekstra ini memang sedikit sekali peminatnya. Mungkin karena kegiatannya yang menurut mereka monoton dan popularitasnya yang rendah yang menjadikan ekstra PMR menjadi ekstra paling rendah disekolahku. Hanya orang orang yang berjiwa penolong dan mempunyai tingkat kemanusiaan tinggi saja yang mengikuti ekstra ini

Kebanyakan dari anak sini hanya menginginkan popularitas semata. Mereka menginginkan namanya menjadi tinggi dengan segala kepopulerannya yang akan membawa mereka menjadi orang yang disanjung terus menerus. Mereka haus akan sanjungan. Tidak hanya itu, anak sini juga kebanyakan memiliki tingkat gengsi yang cukup tinggi

Sudahlah...
Aku tidak terlalu peduli dengan mereka

Aku mempunyai seorang teman atau bisa dibilang sahabat, namanya Nina Kliona atau kerap disapa nina

Aku mengenal nina semenjak awal masuk sekolah, lebih tepatnya saat MOS berlangsung. Kebetulan kita satu regu saat itu, dan berakhirlah kita yang duduk satu bangku bersama saat mengetahui jika aku dan dia ternyata satu kelas. Karena keseringan kita yang selalu bersama menjadikan aku semakin akrab dengannya

Terlebih sikap dia yang baik, pengertian, dan ramah makin membuat aku bertambah yakin jika sahabatku ini adalah gadis yang baik

Aku sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan nina, kawan baikku

Ahh yah, kawanku itu sedikit berbeda denganku
Dia itu cukup terkenal karena dia memang salah satu anggota dari kepengurusan OSIS dan dia juga mengikuti ekskul dance, yang merupakan salah satu ekstrakurikuler paling digemari. Dia populer, ditambah parasnya yang menawan makin membuat namanya kian melejit dibarisan most wanted sekolahku. Tapi jangan samakan dia dengan apa yang aku bicarakan sebelumnya, maksudku. Dia bukan tipe orang yang haus akan sanjungan

Tidak ada sedikitpun rasa iri yang terbesit dalam hatiku. Aku bahagia melihatnya

Karena memang ini pilihanku

Dulu saat pendaftaran keanggotaan OSIS. Nina mengajakku untuk mendaftar bersamanya tapi aku dengan terang terangan menolak. Aku tak mau repot dengan urusan urusan yang nantinya akan dilimpahkan dan diemban kepadaku, aku hanya ingin semua berjalan apa adanya tanpa harus berfikir dengan keras

Menurutku menjadi kepengurusan OSIS sangat menguras tenaga dan juga pikiran. Dan aku tidak mau itu. Menguras tenaga karena setiap acara sekolah pengurus OSIS lah yang bergerak mengatur dan sekaligus menjadi panitianya. Pengurusan OSIS sangat berperan penting. Ditambah harus berfikir bagaimana konsep serta segala macam yang menyangkutnya. Membayangkannya saja sudah cukup membuatku pusing

Aku rasa sudah cukup menceritakan lingkungan sekolahku

Giliran aku memaparkan bagaimana keluargaku

Aihh sebenarnya aku malas sekali menceritakan bagaimana kehidupanku dirumah. Tapi mau bagaimana lagi? Aku harus menceritakannya

Aku adalah salah satu dari sekian anak yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap. Bisa dikatakan aku adalah anak broken home. Papah dan mamah memutuskan ikatan pernikahannya saat aku masih berumur 8 tahun, disaat aku sangat membutuhkan kasih sayang keduanya. Mereka justru berpisah

Meski aku baru berusia 8 tahun kala itu, aku sudah tau penyebab hubungan keduanya terputus. Alasannya karena papah memiliki perempuan lain selain mamahku diluaran sana. Yahh, papahku berselingkuh dengan perempuan lain

Mamah selalu dibuat menderita dan menangis oleh sikap papah yang selalu membela dan mempertahankan perempuan ular itu. Aku bahkan tidak pernah melihat mamah tersenyum setelah mamah mengetahui jikalau benar papah menduakannya

Sampai akhirnya hubungan mereka kandas lantaran perempuan itu meminta papah untuk menikahinya. Dan terjadilah pertengkaran, mamah dengan segala kerendahan hatinya memberikan sebuah pilihan. Papah akan memilih mamah atau dia yang hadir tanpa diundang. Dan betapa murkanya aku saat mendengar papah justru memilih perempuan semacam dia

Aku tau
Aku masih cukup kecil mencerna semuanya. Tapi itulah aku, aku sudah memiliki pemikiran sedikit luas dari teman sebayaku. Mungkin karena setiap harinya aku mendengar keributan yang dibuat kedua orang tuaku, jadilah aku dewasa sebelum masanya

Aku benar benar membenci papah
Laki-laki itu selalu membuat malaikat nyataku menangis dan kesakitan
Bukan hanya luka batin dan hati, melainkan juga luka raga akibat papah yang selalu ringan tangan saat pertengkaran itu terjadi

Bahkan aku yang dulu selalu mencoba melindungi mamahku tak ayal mendapat pukulan dan hukuman dari papah

Sekejam itu?

Aku akui iya
Papah pernah menamparku sampai aku tergeletak mengenaskan dilantai dengan memar biru dipipiku

Papah pernah memukulku dengan gagang sapu yang menjadikan tulang punggungku sedikit retak kala itu

Papah juga pernah mengunci aku didalam kamar mandi selama 1 harian penuh tanpa makan dan minum

Dan masih banyak lagi keburukan papah yang pernah aku terima

Yang lebih parah, aku pernah ditarik begitu keras sampai sampai lenganku patah dan tubuhku dihempaskan begitu saja kearah dinding sampai aku kehilangan kesadaran

Setiap harinya aku diselimuti rasa takut saat memasuki pelataran rumahku sendiri. Tapi tidak mungkin bukan jika aku tidak masuk kedalam, aku takut sesuatu yang tidak aku harapkan terjadi pada mamahku

Ah sudahlah, aku tak ingin menceritakan si Bajingan itu lagi

Sampai kapanpun aku akan membenci laki-laki yang kalian sebut papah itu
Aku tak mau melihatnya lagi
Aku justru berharap dia lenyap dari muka bumi ini

My LifeStories to obsess over. Discover now