Part 1

98 6 3
                                        

Sesak, pengap, dan kelam. Seorang gadis berlari, mencoba menjauhi seseorang. Seorang laki-laki bertudung tampak tersenyum menyeringai sambil berjalan mantab menyusul gadis itu. pakaian hitam yang dipakai lelaki itu tampak menyatu dengan gelapnya malam. Nafas gadis itu tersenggal, keringatnya tampak bercucuran membasahi gaun putih yang kontras dengan kegelapan. Gadis itu benci kegelapan, ia benci malam. Karena gelap selalu membuatnya hancur, karena gelap selalu membuatnya kesulitan bernafas dan karena gelap pula, ia harus menelan kepahitan yang tak pernah ia inginkan selama hidupnya. Sesak dalam dadanya hampir menguasainya. Gadis itu mencoba sekuat tenaga untuk tetap tenang dan menjaga kesadarannya. Tangan kanannya meremas gaun yang ia kenakan tepat di dadanya, seolah meredam rasa sesak meskipun hal itu sia-sia. Kakinya masih ia paksa untuk menjauh dari lelaki itu sejauh-sejauhnya. Namun sepertinya dewi fortuna belum berbaik hati padanya, bukannya menemui jalan keluar, ia malah terjebak dalam sebuah gang buntu. Gadis itu berhenti tepat di depan tembok yang menghalangi jalannya. Sambil tetap mencengkeram gaunnya untuk mengurangi sesak yang ia rasakan, gadis itu memutar tubuhnya. Menghadap lelaki yang lebih tinggi darinya. jarak mereka tak cukup jauh.

"Sekuat apapun kau menjauh dariku, akhirnya kau akan tertangkap juga." pemuda itu menghentikan langkahnya. 

"A..kuu.. ngikk tak.. akan ngiik.. me..nye..rahh ngikk" ucap gadis itu di sela sesak nafas yang mencekik lehernya.

"Bahkan penyakitmu sudah semakin parah sayang, menyerahlah"

"Ma..tii.. ngikk bah..kann.. le...bih ngiik baa..ikk."

"Oh begitu ya, sekarang pilih mati karena penyakitmu itu, mati dengan pistolku atau menyerah saja?" lelaki itu telah mengarahkan sebuah pistol yang entah sejak kapan berada dalam genggamannya ke arah gadis yang kini telah terduduk lemas sembari memegang dadanya. Ia menarik pelatuk bersiap untuk melepas tembakan yang ia tujukan untuk gadis itu kapanpun.

DOORR

sebuah tembakan telah dilepaskan, diikuti oleh pukulan keras yang mendarat tepat di wajah lelaki itu membuat tembakan itu tak mengenai targetnya.

"SHIITT." Umpat lelaki bertudung itu. ia sempat terhuyung akibat pukulan tiba-tiba dari seorang lelaki yang berhasil menggagalkan akisinya.

"Aku sudah pernah bilang kan, JANGAN JADI PENGECUT." bentak lelaki pemilik pukulan itu. wajahnya penuh dengan lebam keunguan dan berapa titik di wajahnya terluka hingga mengeluarkan darah.

"Hahaha, kukira dia berhasil membunuhmu, wah sayang sekali." Lelaki bertudung itu menyentuh ujung bibirnya yang sobek akibat pukulan tiba-tiba yang baru ia dapatkan.

Dua orang lelaki yang memiliki paras yang hampir sama sedang berdiri berhadapan dengan saling menatap tajam. Aura kebencian menguar diantara mereka. Sedangkan gadis itu masih meringkuk di atas aspal jalan dengan punggung bersandar pada dinding di belakangnya. Tangannya masih setia mencengkeram bagian dadanya, rasa sesaknya semakin membuatnya lemas. Diantara aura permusuhan yang terjadi diantara kedua lelaki itu, hanya suara sesak asma dari gadis itu yang melingkupinya.

Farel, itulah nama lelaki pemilik pukulan keras itu dan seseorang yang berhasil membuat tembakan itu salah sasaran. Kini ia sedang berdiri menatap tajam Rafael, lelaki yang hampir saja membuat nyawa gadis itu melayang, dan juga seseorang yang sialnya memiliki paras yang hampir sama dengannya. saudara kembar yang sudah mengubah statusnya menjadi musuh. Memang sejak dulu mereka tak pernah sejalan namun mereka tak pernah saling melukai hingga sampai saat itu. insiden itu mengubah segalanya. memperburuk apa yang sudah buruk sebelumnya dan membuat celah yang tadinya tak terlalu jauh menjadi sebuah jurang dalam yang memisahkan dua tempat.

"Kau yang memulai kecurangan hari ini Raf dan aku tak menerima itu." ucap Farel dengan intonasi sedatar mungkin membuat siapapun yang mendengarnya meremang seketika. Tanpa aba-aba farel langsung melayangkan kembali pukulan kepada Rafa, namun kali ini Rafa lebih siap sehingga ia tak lagi tersungkur seperti tadi. Mereka saling menyerang satu sama lain, mengenyahkan kenyataan bahwa ada darah yang sama mengalir di tubuh mereka. Mereka terlibat dalam pergulatan yang cukup panas, menyerang dan melawan, hingga salah satu dari mereka kalah dan tak berdaya.

"Aku tak menerima kecurangan, dan kau tetap saja melakukannya." Farel mencengkeram kuat kerah baju Rafa kemudian mendorongnya kasar hingga Rafa tersungkur di atas aspal.

Rafa mencoba bangkit namun hal itu dicegah oleh Farel dengan menendang tubuh Rafa.

"Aku sudah bilang, lawanmu adalah aku." Farel kembali menendang tubuh Rafa.

"Tapi kau membayar seorang bedebah untuk menyingkirkanku." Tendangan masih diterima Rafa.

Farel kemudian berjongkok di samping tubuh Rafa yang sudah terbaring lemas.

"Dia menginginkan gadis itu" Farel kembali berbicara tanpa ada satupun sahutan oleh Rafa namun Farel yakin kembarannya itu masih mendengarkannya.

"Tapi dia lupa, aku tak akan kalah begitu saja." Farel menepuk pelan pundak Rafa kemudian menjauhinya.

Farel berjongkok tepat didepan gadis itu, menyematkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah gadis itu di belakang telinga.

"Maaf aku terlambat, bertahanlah. Arawinda" Setelah mengucap kalimat tersebut Farel menggendong tubuh lemah Arawinda. Menempatkan tangan kanannya dipunggung gadis itu sedangkan tangan kirinya ia dibawah lekukan lutut.

Dengan sedikit tertatih Farel menjauhi tempat itu dengan Arawinda yang berada dalam gendongannya. Meninggalkan Rafa yang masih terbaring tanpa berniat untuk bangkit.

***

Next? or End?  

Eccedentesiast [hiatus]Where stories live. Discover now