Prolog

8 0 0
                                        

Never expect too much
Don't let your expectations kill you

"Nggak ada cara lain buat kamu bisa di samping aku lagi?" tanya perempuan itu putus asa.

"Nggak. We both knew that it's impossible Ves" jawab laki-laki itu tak kalah putus asa.

"Why Dev? kenapa kamu gak mau berjuang buat aku? sebosen itukah aku? sesampah itukah aku? atau mungkin Aruna masih ada di hati kamu? iya???!!!!" tanya Threvesia dengan wajah yang sudah penuh dengan air mata.

"Plakkk"

"Kamu nampar aku Dev? aku aku aku" isak Threvesia.

Kalimat Threvesia seketika terputus karena tak terasa cairan merah telah keluar dari sudut bibirnya.

"Ves, ves maaf. Kamu gapapa?" tanya Devan yang berusaha memegang sudut bibir Vesia.

Dengan sekuat tenaga, Threvesia menepis tangan Devan. Sudah tidak ada lagi kata-kata yang bisa diucapkan olehnya. Therevesia hanya tidak menyangka, laki-laki yang selalu ada di sampingnya, selalu mencintainya, selalu menyayanginya, mampu membuat luka yang selama ini belum pernah Vesia rasakan.

Vesia lupa, adakah kata "tidak" sebelum kata selalu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 16, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

NOKTAHWhere stories live. Discover now